Mengapa Tuhan Allah Menciptakan Rasa Marah?








Nuel Lubis yang sehabis beribadah minggu, menyempatkan diri untuk mengunjungi AEON MALL, BSD CITY. 









Padahal, setahuku, tiap Tuhan menciptakan sesuatu, pasti selalu ada alasan. Begitu pun dengan sesuatu bernama emosi. 

Jika ada sesuatu yang menyukakan hati kita, itulah gunanya Tuhan menciptakan rasa senang. Yang biasanya kadar kesenangan/kebahagiaan seseorang itu diukur dari seberapa sering dan lebar dirinya tersenyum. 

Jika kita baru saja kehilangan, air mata pasti keluar. Itulah rasa sedih. Sama seperti si rasa senang, rasa sedih tak jarang bisa meraih simpati sesama. Coba lihat, tiap kali ada yang meninggal, berbondong-bondong orang datang melayat. Kita serasa disayang, yang sama seperti saat kita tengah bahagia. 

Lalu, jika ada sesuatu yang tidak kita sukai, muncul si rasa kesal, jengkel, dan marah. Saat itu keluar, yang aku heran, kenapa ketiganya memiliki kesan negatif. Tak hanya negatif, namun juga kesan jahat. Marah sedikit, kita dianggap kerasukan, seolah-olah si rasa marah berasal dari Raja Iblis. Padahal, setahuku, sejak kecil aku selalu memiliki pikiran bahwa rasa marah pun Tuhan yang menciptakan, yang bersama-sama dengan emosi-emosi lainnya. Buktinya, aku masih teringat kisah bagaimana Yesus Kristus alias Isa Almasih yang memarahi para pedagang di bait Allah. Allah pun yang dalam Perjanjian Lama, selalu marah jika umat manusia terus menerus susah ditegur untuk tidak berbuat dosa. Bahkan, Sang Pencipta dalam tiap agama dan aliran kepercayaan pasti selalu dalam keadaan angkara murka, jika manusia melanggar kehendak dan aturan-NYA. 

Lalu, pertanyaanku: mengapa rasa kesal, jengkel, dan marah seringkali dicap jahat? Lantas, saat kita diisengi, dijahili, atau sehabis ditipu habis-habisan, tak bisakah kita kesal apalagi marah? Masakan kita harus tersenyum lebar? Aneh, dong, apabila kita malah tertawa?!

Ah, mungkin saja Allah menciptakan rasa kesal, jengkel, dan marah itu sebagai suatu bahan introspeksi. Supaya antara manusia satu dengan manusia lainnya saling introspeksi, tegur, dan mengingatkan.







Comments