Hati & Otak















Jika diterjemahkan (secara bebas):

"Otakku tidak mempunyai hati. Hatiku tidak mempunyai otak. Itulah kenapa, saat aku membicarakan isi pikiranku, aku terlihat seperti tidak punya hati (nggak berhati). Lalu, ketika aku melakukan yang hati (nurani) aku katakan, aku terlihat seperti tak punya otak (nggak ngotak)."

Hmmm, menyambung atau tidak, aku hanya mau menyampaikan sesuatu. Kenapa saat kita melihat sesuatu yang tidak biasanya, jarang sekali dari kita yang coba menyelami maksudnya apa. Ambil contoh: dalam menyimak artikel, buku, novel, atau drama televisi, berapa banyak dari kita yang benar-benar mencoba menyelami pikiran dari si pembuatnya. Banyak dari kita yang malah seringkali menghakimi (kalau kata 'menghujat' itu terasa auto jahat). Padahal, bisa saja kan, si pembuat memang tidak ada niat negatif sama sekali, apalagi niat jahat. Mungkin, dia merasa bahwa cara penyampaian yang seperti itulah yang terbaik. Dia tak ingin mengusik; hanya sekadar share. Jikalau merasa terusik, anggap saja tengah ditegur oleh yang bersangkutan. Maka, introspeksilah.

Tapi, ya sudahlah. Benar kata beberapa orang. Memuaskan keinginan banyak orang (apalagi seluruh alam semesta) memang suatu kesia-siaan belaka. Hidup itu memang seperti itu juga, kan. Ada yang pro, ada yang kontra (yang terserah berapa persen yang pro dan kontra-nya). Coba dinikmati saja.

Last but not least, meme di atas tersebut aku dapatkan dari seseorang yang baik hati. Berhubungan atau tidak dengan tulisanku, masa bodoh saja. Bukan bermaksud benar-benar masa bodoh, namun jangan terlalu diambil pusing. Anggap saja, seperti biasanya, ini hanyalah tulisan ngalor-ngidul, bak obrolan ngalor-ngidul di warteg-warteg. Tak ada niat negatif apalagi jahat sama sekali. Ada yang bisa dipetik, petiklah. Merasa terusik, introspeksilah. Damai, ah! 







Comments

  1. That's why aku kadang lebih prefer pake hati
    Gapapa thoughtless karena emang kadang2 aku tolol murni kok bukan karena terlalu pake hati hahahahhaha

    :)))

    Halo lagi bang nuel! Welcome back to the frequency!
    Lama tak ke sini dulu hijau-hijau kini serba peach yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha... welcome back too... ya itulah pilihan hidup... mau pake hati, mau pake otak, terserah yang bersangkutan, nggak berhak juga kita ngejudge...

      Delete

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^