"Permisi, Boleh Aku Membantu Kamu?"

















Tak jauh berbeda dengan saudaranya, dalam game FREE FIRE INDONESIA, ada yang namanya mission juga. Mission ini gunanya--untuk aku pribadi--lebih untuk mendapatkan hadiah yang keren-keren. Ada banyak privilege yang bisa kita dapatkan jika satu demi satu mission terselesaikan. Tak jauh berbeda dengan Point Blank, yang orang berbondong-bondong menyelesaikan mission demi sesuatu. Umumnya supaya dapat senjata pamungkas, yang salah satunya kriss.

Nah, salah satu mission yang aku dapatkan ialah: revive teammate 30 kali dengan chara Olivia. Agak susah sih. Apalagi harus dengan chara tertentu. Kill musuh saja sudah setengah mampus. Eh, kita harus revive rekan setim kita. Prakteknya, memang susah. Butuh waktu dua minggu agar bisa terselesaikan. Kendalanya itu bermacam-macam. Bisa karena posisi rekan terlalu jauh, sudah keburu tertembak duluan, atau keburu diambil duluan tugasnya oleh rekan yang lain.

😅

Well, I think helping someone is harder than we guess. Belajar dari game barusan, prakteknya menolong orang lain itu sangat sulit dilakukan. Ada kalanya, niat baik kita disalahpahami. Ada kalanya, kita salah memberikan kebaikan. Kok salah? Yup, bisa saja kita tidak tahu bahwa orang kita bantu ternyata memiliki niat-niat busuk tersembunyi. Alhasil, karena perbuatan baik kita, perbuatan jahatnya jadi mulus begitu saja. Ambil contoh: kita ikut serta dalam bisnis prostitusi usia dini yang orang itu ikut sertakan. Nah loh!

Aku mendadak teringat kata-kata teman SMA aku dulu. Novi Encim, kita sebut saja begitu. Dulu, sehabis pulang sekolah, di dalam mobil antar jemput, aku pernah tak sengaja menguping pembicaraannya dengan temannya. Encim ini pernah bilang, "Nggak heran akhir-akhir ini orang jadi suka cuek sama sekitar. Alih-alih mau menolong orang, eh malah dituduh yang bukan-bukan." Kurang lebih Encim berkata seperti itu dulu. Peristiwa masa lampau sih, agak tak begitu jelas memorinya. Hehe.

Well, sometimes I feel Encim is right. Dari kata-kata Encim itu juga, aku teringat pula dengan salah satu cerita yang ada di majalah AMI (majalah rohani begitu). Di majalah AMI itu, ada serial Johni Ompong. Ada salah satu kisah di mana Johni Ompong ingin berbuat baik ke sesama. Keinginannya didasari oleh aksinya setelah membaca kitab suci. Then, setiap dia berbuat baik, eh yang ada, si Johni malah dimaki-maki oleh yang ditolongnya. Salah satunya, mau mencoba menenangkan anak bayi yang lagi menangis, si bayi malah menjerit ketakutan melihat wajah si Johni.  Sampai akhirnya, si Johni dinasehati oleh seorang bapak yang coba ditolongnya. Sambil dipuji niat baiknya, si bapak menyarankan bahwa si Johni seharusnya bertanya dulu sebelum melakukan kebaikan. Takut-takut yang bersangkutan tak butuh ditolong. LoL.

Masuk akal juga sih. Plus, aku jadi mengerti kenapa dalam bahasa Inggris, ada frasa 'May I help you?'. Dalam bahasa Indonesia, 'bolehkah aku membantu kamu?' Ya, untuk menghindarkan dari peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan (salah satunya, dituduh yang bukan-bukan), bukankah ada baiknya kita bertanya dan minta ijin dulu?

Jadi, baiknya kita harus seperti apa? Tetap berbuat baik? Tetap menolong? Atau memilih tetap apatis dan sibuk dengan hidup kita sendiri?






Comments