#3 Perjuangan & Pengorbanan Seorang Penulis







Chat dengan salah sepupu dari pihak Mendiang Mami, yang hanya untuk mengkroscek kebenarannya.















Jika dilihat dari total keseluruhan dari penjualan "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" yang akhirnya mencapai angka satu juta, patut sekali bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus. Juga, aku berterimakasih ke Papi yang juga sejak launching pertama kali, langsung beli banyak dan membagi-bagikannya ke beberapa orang-orang terdekatnya (yang jadi ingat kisah #KamisamaNoCempeKanefe). Jujur, itu sangat worth it. Bisa sebesar begitu total penjualannya, karena usaha dari ayah kandung sendiri yang beli banyak dan usaha bagi-baginya. Alhasil, yang mengenal #misiterakhirrafael itu tak hanya remaja dan dewasa muda, namun juga sampai ke paruh baya.

Selain itu, rasanya tak sia-sia usahaku dalam membagi-bagikan sampel gratisnya ke orang-orang terdekatku. Mulai dari saat aku berikan ke guru Agama saat SMA, dua-tiga bulan kemudian, beliau meneleponku agar mau jadi pembicara. Bahkan sampai ditempel di mading sekolah.

Aku berikan pula ke seorang kenalan pendeta. Pendeta ini langsung memberikannya ke anaknya yang masih kecil sekali. Anaknya senang banget, hingga dia malah promosikan ke teman-teman dekatnya. Sampai-sampai sang author jadi tak enak, karena sudah mengajarkan romance story ke yang belum saatnya. 

Next, aku berikan ke teman-teman dekat juga. Mulai dari Douglas, Selvie, Andri, Bu Marchia, Dias, hingga Erland. Banyak yang suka dan mempromosikan ke teman-temannya secara omongan dan chat. Sampai-sampai dicari sendiri--yang akhirnya berbuntut mengecewakan. Novelnya susah sekali dicari yah?! Kenapa begitu yah?! Kok sudah kayak mencari buku-buku yang berbau konspirasi? Bahkan, katanya, sampai harus mencari di toko buku online dan toko buku lama yang terkadang suka menemukan buku bajakan. Jacatra Secret saja kalah.  Wuih!

Hufftt

Tarik napas dulu panjang-panjang (melihat segala isu dalam kiprah  "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" yang cukup melegenda).

Intinya, sudah dua tahun ini, "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" berkibar. Perjalanannya sangat tertatih-tatih. Bisa juga sampai mencapai angka satu juta. 

Pembaca: Satu juta ini apa sih, Wel?

Satu juta ini apa yah?! It's secret! Dapur rahasia penulisnya, anyway. Terka sendiri apa. Bisa total penjualan secara rupiah, bisa pula secara eksemplar. Yang jelas, aku sangat bersyukur ke Tuhan Allah. Benar-benar sangat dum spiro spero sekali. 

Rasa-rasanya, segala perjuangan untuk "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" yang sudah membuatku tenar (walau jumlah follower Instagram dan blog ini segitu-segitu saja, huh!), itu tak sia-sia belaka. Tak sia-sia pula, usahaku membagi-bagikan gratis tersebut. Mulai dari mengantar langsung ke rumah guruku yang sempat disesatkan, hingga keluar uang banyak untuk mengirimkannya lewat pos. Akhirnya tembus satu juta juga! Voila!

Buat yang sudah beli dan baca, aku sangat berterimakasih sekali. Yup, aku juga sangat menghargai sekali. Tak apa, jika jarang sekali dapat feedback-nya di internet. Aku sangat mengerti segala kesusahan kalian. Penulisnya sendiri juga kesulitan, kok. Tapi tetap ditunggu segala feedback-nya. Itu penyemangat author-nya juga dalam melakukan sesuatu untuk Sang Pencipta. Kalau tak keberatan, tidak harus lewat social media, sampaikan saja segala feedback kalian ke immanuel.lubis@gmail.com. Segala identitas kalian akan kurahasiakan sekali. Aku bisa jaga rahasia juga. Hehe.

Terakhir, kalau boleh tahu, bagian terfavorit kalian dari "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" itu apa? Yuk, berkomentar! 😊






Comments