Wednesday, February 25, 2015

Bisakah Ini Disebut Sebagai EPIC FAIL?



Beberapa hari yang lalu, entah tanggal berapa, yang jelas masih di bulan Februari 2015, aku menonton sebuah tayangan talk show. Nah salah satu bintang tamunya itu salah satu penulis yang menulis buku dengan tema dodol (dulunya jualan dodol di bawah jembatan kali dia sebelum jualan buku, hehe). favorit. Dia pernah dulu buku pertamanya sempat bikin dirinya syok. Bagaimana tidak, sekalinya laris manis (setelah sepi pembeli), eh ternyata yang beli itu ibunya sendiri!!! (Ibunya beli dalam jumlah besar)

EPIC!!!

Mungkin bagi yang belum pernah menerbitkan buku sendiri, agak kurang bisa merasakan. Namun, bagi yang sudah, tahu betul sakitnya di mana.

#NowPlaying Cita Citata - Sakitnya Tuh Di sini

Kemarin, tanggal 25 Februari, aku iseng bertanya ke Mbak Risky, salah satu karyawan di Raditeens Publisher, penerbit di mana"Kamisama no Cempe Kanefe" bisa terbit (walau secara indie, dan dipasarkan hanya di dunia maya, di mana buku dicetak hanya setelah ada pesanan). Iseng saja bertanya (untuk menghindari spekulasi yang bukan-bukan) soal data nama pembelinya. Soalnya yang beli itu lima orang. LIMA ORANG!!!

Total penjualan itu lima buah. Pastinya senang banget dong. Apalagi, pas Oktober 2014, aku sempat diberitahukan bahwa novel romance itu laku tiga buah. Terus bertambah dua lagi. Aku kira, kakakku cuma beli satu; sisanya dari orang lain.

Ternyata dugaanku salah. Iya, salah total.

Setelah beberapa jam menunggu,...

TA----RAAAAA!!!

Ketahuan akhirnya. Ternyata kakakku, Kak Risely itu beli tiga buah. Yang artinya, aku hanya bisa menarik dua pembeli saja. Itu juga selepas bulan Oktober 2014.

Perih? Iya.

Senang? Pun iya.

Kecewa? Apalagi.

Pula aku juga harus bersyukur sih.

Segala perasaan itu bercampur aduk deh.

Oh ternyata ini maksud mimpiku yah? Bulan Juli 2014, aku sempat mimpi, ada seseorang yang beli novelku dalam jumlah besar. Entah sugesti, entah betulan itu ramalan mimpi, selepas mimpi itu, jadi kenyataan. Kamisama memang laku. Tapi sebagian besar itu dibeli oleh kakak sendiri.

Hu-hu-hu.

Setel lagi, Cita Citata - Sakitnya Tuh Di sini.

Pelajaran yang kudapat:
Di saat tengah diremehkan oleh orang lain, kenyataannya keluarga tetap berada di sisi kita. Walau cara mereka (baca: keluarga) itu terkadang agak sedikit mengesalkan, dukungan dari keluarga tetaplah yang istimewa. Niat hati mau membanggakan dan membahagiakan keluarga, eh malah keluarga sendiri yang memberikan dua hal itu padaku. Miris--sekaligus terharu.