Wednesday, April 26, 2017

Logical Fallacy







Jujur itu memang selalu jadi yang paling terbaik. Nah lho, sudah paling, terbaik pula. Namun ada kalanya, ada saatnya seorang manusia itu tidak bisa berkata jujur dengan mulutnya. Dia hanya bisa jujur dalam hati, pikiran, maupun alam batiniahnya. Banyak alasan yang mendasari kenapa seseorang tidak bisa jujur. Ada yang karena tekanan orang lain, ada pula mungkin karena pembawaan dirinya sejak kecil (yang orangtuanya tidak pernah membiasakannya untuk bicara jujur dan terbuka). Ada pula karena suatu kondisi yang memaksakan seseorang harus berbohong. Yah, memang untuk bisa 100% jujur itu tidaklah gampang. Sekali lagi, berani jujur dan terbuka itu hebat! Apalagi jujur dan terbuka untuk beberapa topik. Terlalu jujur dan terbuka malah bisa mencelakakan. Salah-salah orang itu bisa distempeli julukan yang bukan-bukan.



Nah, alasan-alasan orang tidak jujur itulah yang kemudian memunculkan kondisi yang disebut sesat pikir. Sesat pikir (logical fallacy) adalah kesalahan dalam penalaran. Ketika seseorang melakukan sesat pikir, ia menggunakan argumentasi yang tidak logis atau menyesatkan. Dan, inilah beberapa jenis sesat pikir yang cukup sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari:

1. Argumentum ad Hominem
Agumentum ad Hominem adalah sesat pikir karena argumentasi yang diberikan, tidak tertuju ke persoalan yang sesungguhnya, tetapi mengarah ke kondisi personal atau karakterisik seseorang.
Contoh:
"Udah pasti jawaban lu yang salah-lah. Kan lu orang miskin, pasti bego!" >> Mungkin orang bertipe seperti ini memiliki karakteristik mau menang sendiri. Mungkin saja dalam hatinya, dia mengakui kelebihan temannya, hanya saja gengsi menguasai dirinya. 

2. Argumentum ad Misericordiam
Misericordiam itu artinya belas kasihan. Maksudnya, itu merupakan sesat pikir yang sengaja dilakukan untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan bicara untuk mendapatkan pengampunan atau keinginannya.
Contoh:
"Maaf Bu, saya terlambat ngumpulin tugas. Abis kan internet saya lemot. Jadi wajar, kan?" >> Yang namanya salah, yah tetap salah. Melanggar aturan, tetap aturan. Memang sudah tabiat manusia sejak kejatuhannya dalam dosa, yang selalu mencari alasan ketimbang mengakui kesalahan. Padahal pengampunan akan selalu ada (dari Tuhan misalnya), jikalau orang itu mau mengakui kesalahan, baru mencari alasan. 

3. Argumentum ad Populum
Itu merupakan suatu sesat pikir ketika menganggap sesuatu benar karena dianggap benar oleh banyak orang.
Contoh:
"Bro, nggak apa-apalah gue telat rapat, toh yang lain juga telat kan." >> Ini namanya membiasakan kebiasaan yang salah. Mau sesama kita salah, yah sebaiknya kita jangan menirunya. Menjaga idealisme kita (apalagi prinsip-prinsip tertentu) juga tidaklah salah sebetulnya.

4. Argumentum Auctoritatis (Argumentum Verecundiam)
Itu merupakan suatu sesat pikir di mana nilai penalaran ditentukan oleh keahlian atau kewibawaan seseorang yang mengemukakannya.
Contoh:
"Kata ayah aku, orang tatoan itu udah pasti orang jahat. Makanya aku nggak mau temenan sama yang tatoan." >> Tidak salah jika ada orang memiliki opini yang hampir mirip seperti contoh tersebut. Namun itu membuktikan bahwa orang tersebut belumlah dewasa. Dia belum bisa menentukan mana yang benar, mana salah. Segala sesuatunya masih bergantung ke orang/pihak lain. Namun kebanyakan (malah umumnya) manusia masih seperti itu. Kebenaran paling sejati saja masih dalam pencarian, khususnya kebenaran soal Tuhan dan penciptaan alam semesta.

5. Kesesatan aksidensi
Itu merupakan kesesatan penalaran yang dilakukan seseorang bila ia memaksakan aturan-aturan yang bersifat umum pada keadaan yang bersifat aksidental/kebetulan/tidak mutlak terjadi.
Contoh:
"Adek pokoknya mau ke sekolah! Adek cuma sakit doang kok, kan pergi ke sekolah tiap hari itu wajib, Ma, Pa," >> Ini namanya pembenaran. Sudah menjadi sifat dasar manusia juga yang mencari-cari pembenaran untuk membenarkannya dalam melakukan sesuatu.

6. Pars pro toto (division)
Itu merupakan sesat pikir karena menganggap satu bagian kecil adalah cerminan dari keseluruhan bagian.
Contoh:
"Semua mantan gue itu cowok brengsek. Emang ya berarti semua cowok itu sama aja, brengsek!!!!" >> Padahal tidak semua cowok seperti itu. Terkadang pahitnya suatu kejadian/peristiwa akan menimbulkan luka batin di diri seseorang; yang mana jika tidak disembuhkan akan menimbulkan trauma masa lalu yang membuatnya hidup dalam stereotipe-stereotipenya sendiri. Hal itu berbahaya, karena cenderung bisa dimanfaatkan sesamanya manusia. 

7. Strawman Fallacy
Strawman (manusia jerami) fallacy artinya adalah menyalahartikan pernyataan orang lain dengan melebih-lebihkan atau mengganti maknanya.
Contoh:
A: "Hari ini kamu cantik banget, deh!"
B: "Oh berarti kemaren-kemaren aku jelek, gitu? Tega yah, kamu!"
Nah, di situ si B melakukan strawman fallacy karena menyalahartikan pernyataan si A. Sering banget muncul di kehidupan sehari-hari. Padahal maksud si cowok itu murni tengah memujinya. Namun pihak ceweknya yang cenderung berpikir berlebihan.



Salahkah segala contoh kesesatan pikir tersebut? Sebetulnya dibilang salah, juga tidaklah keliru atau salah; apalagi jika dibilang dosa atau tidak. Jujur saja, terkadang manusia memang harus berbohong kecil-kecilan. Mereka memang harus pintar mencari-cari alasan. Karena di jaman sekarang ini untuk jujur dan terbuka itu tantangannya sangat luar biasa. Kita harus siap dihakimi karena kejujuran dan keterbukaan kita, khususnya untuk beberapa topik tertentu. Hanya dalam kondisi-kondisi dan situasi-situasi tertentu, seorang manusia bisa jujur dan terbuka. Mereka bahkan butuh rekan untuk bisa menjadi diri mereka sendiri.

Jadi, daripada memikirkan ini benar-itu salah, sebaiknya kita hanya melakukan saja yang menurut kita harus kita lakukan dan bicarakan. Biarkan Tuhan sendiri yang menilai segala perbuatan kita tersebut.




No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^