Sunday, April 23, 2017

Berhubungan dengan Orang Mati








1 Samuel 28:6-13
"Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi. Lalu berkatalah Saul kepada para pegawainya: "Carilah bagiku seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah; maka aku hendak pergi kepadanya dan meminta petunjuk kepadanya." Para pegawainya menjawab dia: "Di En-Dor ada seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah." Lalu menyamarlah Saul, ia mengenakan pakaian lain dan pergilah ia dengan dua orang. Ketika mereka pada waktu malam sampai kepada perempuan itu, berkatalah Saul: "Cobalah engkau menenung bagiku dengan perantaraan arwah, dan panggillah supaya muncul kepadaku orang yang akan kusebut kepadamu."Tetapi perempuan itu menjawabnya: "Tentu engkau mengetahui apa yang diperbuat Saul, bahwa ia telah melenyapkan dari dalam negeri para pemanggil arwah dan roh peramal. Mengapa engkau memasang jerat terhadap nyawaku untuk membunuh aku?" Lalu bersumpahlah Saul kepadanya demi TUHAN, katanya: "Demi TUHAN yang hidup, tidak akan ada kesalahan tertimpa kepadamu karena perkara ini." Sesudah itu bertanyalah perempuan itu: "Siapakah yang harus kupanggil supaya muncul kepadamu?" Jawabnya: "Panggillah Samuel supaya muncul kepadaku." Ketika perempuan itu melihat Samuel, berteriaklah ia dengan suara nyaring. Lalu perempuan itu berkata kepada Saul, demikian: "Mengapa engkau menipu aku? Engkau sendirilah Saul!" Maka berbicaralah raja kepadanya: "Janganlah takut; tetapi apakah yang kaulihat?" Perempuan itu menjawab Saul: "Aku melihat sesuatu yang ilahi muncul dari dalam bumi."






Walau jaman sudah semakin canggih, fenomena 'berhubungan dengan orang mati' akan terus tetap ada. Itulah salah satu dari peninggalan budaya animisme dan dinamisme. Jikalau animisme tak terlihat itu seperti yang ditunjukan oleh suku-suku pedalaman,--terlebih yang berada di Afrika atau sekitar Sungai Amazon, maka ada beberapa orang yang diam-diam mempraktekkan animisme. Mereka lebih cerdas dan berintelek daripada suku-suku pedalaman. Namun dalam keseharian mereka, saat kegelapan tiba, mereka sering berhubungan dengan orang mati. Motivasinya bermacam-macam. Ada yang minta wangsit. Ada yang belum bisa menerima kepergian mendiang. Ada juga yang karena alasan finansial. Yang terakhir itu seperti yang ada di foto.

Hal seperti di foto itu sering terjadi di dunia perjudian, khususnya judi togel. Agar tembus, beberapa pelakunya sering mencari peruntungan di dunia mimpi, juga sampai berhubungan dengan orang mati. Kode-kode dalam dunia mimpi (alam bawah sadar) itu ternyata bisa diterjemahkan menjadi bilangan numerik.

Di luar soal judi itu, tetap saja berhubungan dengan orang mati itu dilarang keras. Mereka memang suka mendatangi di alam mimpi. Namun tetap jangan terlalu sering berhubungan dengan orang mati. Banyak agama dan aliran kepercayaan yang melarang juga. Sebetulnya pula Sang Pencipta sungguh membenci dengan praktek berhubungan dengan orang mati tersebut. Bagaimanapun orang mati sudah beda dimensi; mereka sudah tak memiliki raga pula. Orang mati memiliki kesusahan dan kehidupannya sendiri. Orang hidup pun sama. 'Mereka' memang diijinkan oleh Sang Pencipta, namun bukan dalam rangka untuk bisa saling berhubungan seperti layaknya 'mereka' masih hidup. Kemunculan 'mereka' hanya untuk memberikan peringatan, bukan untuk tetap saling berhubungan. 

Apalagi Sang Pencipta lebih menyukai jika tiap manusia yang hidup datang langsung padanya. Apapun persoalan hidup yang kita alami, datanglah meminta petunjuk, bantuan, solusi, jawaban, pertolongan, dan apapun itu, pada Sang Pencipta langsung. Janganlah datang ke ilah-ilah lain, yang salah satunya itu roh orang mati (baca: arwah). Juga, terkadang praktek berhubungan dengan orang mati itu makin membuat kita jauh dari Sang Pencipta, melainkan semakin dekat kepada para malaikat yang jatuh. Iblis dan pasukannya bisa memanfaatkannya, lalu menjadikan kita budak-budaknya. 

Larangan berhubungan dengan orang mati itu juga sesungguhnya mengajarkan kita untuk makin dekat dengan Sang Pencipta, juga agar kita bisa intropeksi diri setelah kepergian mendiang. Alasan lainnya, agar bisa memperbaiki beberapa hal yang belum bisa dan belum sempat dilakukan oleh mendiang. 




No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^