Sunday, February 26, 2017

Cuci Otak - Bagian Kedua



Kelanjutan dari sini 










Yang namanya intimidasi, mau dilakukan di mana pun, dengan cara apa pun, bahkan dengan cara halus pun yang tidak terdeteksi oleh kedua mata, tetap saja itu intimidasi. Seringkali manusia jatuh ke dalam lubang bernama intimidasi, lalu menyimpan semua ketakutannya dalam tubuhnya, dan mengikuti arus; padahal hatinya berkata tidak. 

Biasanya para pelaku intimidasi ini ialah orang-orang berintelektual tinggi. Orang-orang cerdas yang mendekati jenius. Mereka 'berilmu' tinggi. Namun kecerdasan mereka tidak dibarengi dengan kebersihan hati nurani mereka. Mereka memiliki hubungan yang tidak begitu dekat ke Sang Pencipta. Ibadah mereka juga seringkali kosong dan tak bermakna apa-apa (karena seringkali motivasi ibadah mereka bukan buat Sang Pencipta). Orang-orang seperti itulah yang seenaknya mengintimidasi demi kepentingan mereka, juga agar segala rahasia (kotor) mereka tidak kelihatan. 

Sindiran, ejekan, cibiran, iming-iming, bujukan, rayuan... itu semua bagian dari intimidasi. Itu intimidasi yang terlihat mata. Terjadinya di dalam sebuah obrolan ngalor ngidul. Intimidasi yang bisa dihindari jika kita bisa bermain lebih cerdas daripada si pengintimidasi. Kecerdasan mereka itu kita imbangi dengan cara memperbanyak mengumpulkan informasi dan pengetahuan. Para pengintimidasi itu biasanya paling jago memanfaatkan ketidaktahuan korbannya. Memperbanyak informasi dan pengetahuan,--serta melakukan kroscek sendiri--bisa menghindarkan kita dari intimidasi model begini. 

Namun, ada intimidasi yang sulit dihindari. Itu...

Sumber: komik "Bomberman: Bidaman Bakugaiden".
Pernah dengar soal cara membuat anak patuh adalah dengan membisikan sesuatu ke telinganya saat tidur? Yah itulah salah satunya. Memanfaatkan kelengahan seseorang adalah bentuk intimidasi yang mengerikan. Intimidasi yang tidak kelihatan oleh kedua mata kita. Para pelakunya melakukannya saat korbannya tidur. Biasanya saat tidur, di alam mimpi (alam bawah sadar), manusia seringkali sulit menolak. Apalagi jika sang pengintimidasi terus menerus datang dan mengintimidasi korbannya. Dalam kondisi tidak sadar, seseorang tidak bisa berbuat apa-apa; posisi tawar mereka lemah. Alhasil, mereka gampang diintimidasi dan dicuci otaknya saat berada di alam bawah sadar. 

Mungkin ada niat untuk melawan, tapi jika dibiarkan terus menerus, orang itu akan kehilangan kendali, sulit mengontrol diri sendiri, lalu mengalami kekacauan fungsi otak. Otak kanan dan otak kirinya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga di alam sadar, wajah mereka jadi kusut dan tegang. Mereka jadi seperti orang linglung. Mereka sulit berkonsentrasi dan berpikir jernih. Bahkan mereka jadi sulit menikmati hidup. 

Orangtua mungkin melakukan itu ke anaknya dengan tujuan dan niat baik. Agar anaknya tidak mengalami hal-hal buruk. Namun beberapa orang seringkali memanfaatkan cara ini demi kepentingan mereka sendiri, yang seringkali bukan untuk niat baik. Para pelakunya memang sulit dihukum oleh hukum pidana duniawi. Lagipula bukti-buktinya tidak banyak yang bisa didapatkan. Bukankah para pelakunya melakukannya dengan memanfaatkan kelengahan korbannya, yang dalam kondisi tidak sadar? Mereka melakukannya secara tak kelihatan dan terdeteksi. Tapi ingat, Sang Pencipta tidak tinggal diam. Hukum pidana surgawi pasti akan bertindak. 

Cara menghindari intimidasi tak kelihatan ini mudah sekali. Selain selalu mendekatkan diri ke Sang Pencipta, kita harus berani mengambil sikap tegas, berani mempertahankan idealisme kita serta tidak takut terhadap cibiran dan ejekan. Keplin-planan dan kekurang-tegasan kita (di alam sadar) sangat disukai para pengintimidasi.  Pula, jangan mudah tergoda dengan bujukan dan rayuan. Jangan terlalu sentimentil (hanya karena para pengintimidasi sudah memberikan banyak kebaikan, maka kita segan dan enggan melawan). Perbanyak juga wawasan kita agar tidak terlihat bodoh. Semakin berwawasan, semakin cerdas, semakin berilmu, itu malah bagus,--yang akan sangat lebih baik lagi jika hati nuraninya tetap menyala dan tidak dibiarkan tertutup. Cerdas, namun tetap dekat dan ingat akan Sang Pencipta. Orang-orang seperti itulah yang sulit diganggu oleh para pengintimidasi.