Friday, December 16, 2016

Tidak Semua Apa yang Ada di Hadapan Mata Itu Benar





Majalah Donal Bebek Edisi 208, edisi Tahun Baru






Suatu ketika, Donal Bebek direkrut oleh sebuah harian bernama Kalisota Globe, yang katanya mengaku sebagai media yang menjunjung tinggi kebenaran dan menggali informasi lebih dalam dari sumber resmi. Donal, polosnya, percaya begitu saja. Hingga suatu kasus pencemaran sungai telah membukakan mata Donal akan apa Kalisota Globe yang sebenarnya. Direktur Kalisota Globe, Johnny Rascal, ternyata salah satu otak di balik tercemarnya Sungai Tulebug, sumber air terbesar Kota Bebek. Oleh harian itu, dikatakanlah bahwa penyebabnya ialah aktivitas gunung berapi bawah tanah Malanga Balunga yang membuang zat beracun ke dalam sungai sehingga mencemari sungai, yang kemudian airnya menguap dan turun sebagai hujan asam. Begitu kata mereka. 


Kenyataannya, terbukti bahwa segala pemberitaan Kalisota Globe itu keliru. Super Don berhasil membongkar kedok bahwa ternyata direktur Kalisota Globe itu memiliki hubungan darah dengan Tulebug Kalisota Kimia, pabrik pelarut kimia, yang dimiliki oleh Jimmy Rascal. Mereka memang ingin sungai itu tercemar agar lahan-lahan di sekitar sungai itu dijual murah oleh warga. Saudara Johnny yang lainnya, seorang kontraktor bernama Jerry, sudah siap dengan rencana untuk membangun sepuluh hotel. Wilayah itu ingin dikuasai secara pribadi oleh Rascal Bersaudara. 







Ilustrasi yang saya ambil dari komik Paman Gober Edisi Tematis Superhero halaman 127-159 ini seperti ingin mengatakan bahwa apa yang kita dengar, baca, dan lihat itu belum tentu benar. Apalagi, kita tahu tak sedikit media yang dimiliki taipan-taipan dengan segudang kepentingan. Apapun akan dilakukan tiap orang demi uang. Termasuk menjual informasi palsu. Kebenaran ditutupi dengan kebenaran palsu. Jarang sekali, entah di negara manapun, media yang sungguh bersih dan netral. Kebanyakan media, khususnya yang oplahnya terus menaik (bisa ditunjukan dengan sering ada di kios atau mana pun), melakukan pemberitaan dengan menunggu. Entah menunggu dibayar, entah menunggu pesanan. Belum lagi, ada yang namanya media-media yang mewakili beberapa golongan tertentu, yang sudah tentu isinya patut dipertanyakan dan jangan ditelan mentah-mentah. 

Saya tidak mengajari untuk menjauhi media. Hanya saja marilah kita sedikit berhati-hati dengan segala pemberitaan. Cermatilah baik-baik. Jangan ditelan mentah-mentah. Selalu berpegang pada prinsip 'thinking out of the box' dalam menyimak satu media. Niscaya akan terhindar dari jebakan dan permainan setan.

Sudah sejak dulu pula, manusia memang lebih suka memanjakan panca indranya. Melihat apa yang ingin dilihat. Mendengar apa yang ingin didengar. Itulah kenapa segenap tubuh, jiwa, dan pikiran mereka bisa jauh dari kebenaran. Mereka menolak kebenaran demi kepuasan batin mereka. 



No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^