Friday, December 30, 2016

2017



sumber: DARAH DAUD
Jaman dahulu, entah jaman berapa, yang jelas saat ilmu pengetahuan belum mewabah seperti sekarang ini, tiap ada musibah, banyak orang begitu takutnya. Perlahan-lahan banyak yang meninggalkan dosa dan pelanggarannya. Penipu tidak lagi menipu. Pembunuh kehilangan nafsu membunuhnya. Seorang pencopet--belum bertemu aparat--sudah takut menjambret korbannya. Juga, seorang pelacur yang sudah tak berhasrat untuk memamerkan keseksian tubuhnya ke beribu lelaki hidung belang. 



Namun sekarang beda. Ilmu pengetahuan begitu merajalela. Manusia mengalami ketergantungan pada teknologi. Kejahatan makin berkembang biak dan berevolusi. Sampai-sampai antara baik dan buruk sudah sulit dibedakan lewat sekilas pandang. Yang ada di otak manusia jaman sekarang: "Ah yang penting kepentingan gue yang harus didahuluin. Bodoh amat sama orang lain," Begitu terus sampai yang namanya kebenaran sulit dilihat hingga detik ini. Manusia jaman sekarang terlalu terbiasa memanjakan panca indranya. Melihat yang hanya ingin dilihat. Mendengar yang hanya ingin didengar. Bersilat lidah ialah keahlian yang wajib dimiliki hanya agar terlihat suci selalu; tak peduli apa yang telah dilakukan ke sesamanya itu salah dan sangat merugikan. 

Sampai akhirnya... 

...tiap bencana muncul, manusia selalu anggap remeh. Orang selalu beranggapan tsunami dan gempa bumi itu fenomena alam biasa. Sebuah kebakaran murni karena keteledoran. Juga dengan bencana-bencana lainnya seperti longsor, banjir, badai, hingga petir terdahsyat. Mereka selalu membanggakan kecanggihan tim mitigasi bencananya. Padahal di balik semua itu, ada tanga-tangan tak kelihatan yang memiliki kekuatan super dahsyat yang menggerakkan beberapa lempengan sehingga timbul gempa bumi. Kalau tak ada tangan-tangan itu, mana mungkin gunung berapi yang nonaktif setelah sekian lama, bisa meletus dengan kegegeran di mana-mana. Jika sudah terjadi, korban sudah berjatuhan di mana-mana, barulah kata tobat terdengar di hampir seluruh penjuru dunia. 

Itulah bedanya orang jaman dulu dan sekarang. 

Juga, manusia itu berbeda pula dengan binatang. Tiap akan terjadi sesuatu, binatang pasti akan bersiap-siap. Seminggu sebelum terjadi tsunami besar, seekor kakaktua meninggalkan rumah majikannya untuk pergi ke kawasan yang lebih aman. Atau saat deru perang belum dibunyikan, seluruh penghuni kebun binatang di sebuah kota besar sudah hiruk pikuk. Seperti akal budi yang telah diberikan kepada tiap manusia sudah disalahgunakan; sudah menutupi segalanya yang lebih penting yang dimiliki manusia. Insting untuk merasakan bahaya misalnya. Juga sebuah hati nurani. Tak heran bahaya amat besar sudah di depan mata, tak seorang pun bisa menyadarinya.

...

Apa pun yang terjadi di tahun 2017, marilah kita perbanyak doa. Mulailah berhenti membohongi diri sendiri. Jangan biarkan sang Iblis menutupi hati nurani. Segala hal yang sudah ditakdirkan harus terjadi oleh Sang Pencipta, pasti harus  dan akan terjadi. Tak ada kuasa mana pun yang bisa menghindar atau mencegahnya.

SELAMAT MENYAMBUT PERGANTIAN TAHUN!

SELAMAT TAHUN BARU 2017!