Friday, March 4, 2016

SERIAL FAN FICT: Shinichi, Ran, dan Berakhirnya Era Black Organization






Kelanjutan dari sini









Tak sia-sia Ran Mouri menunggu Shinichi Kudo. Selama ini perempuan yang lihai berkarate itu selalu menjaga hati dan pikirannya dari lelaki mana pun. Hanya seorang Shinichi Kudo yang berada dalam benak Ran Mouri. Kini lelaki--yang akibat dari keingintahuannya yang maha tinggi itu harus hidup dalam bayang-bayang APTX 4869--berada di dekatnya. Shinichi tergolek lemah di ranjang kamar tidurnya. Kesadarannya masih menipis. Shinichi belum bisa membuka matanya. 

Ran terisak. Tidak, Ran tidak mungkin terisak. Ran itu kan perempuan paling kuat. Bukan karena keahliannya berkarate, namun Ran memang seorang perempuan tangguh. Sekian lama menanggung rindu hanya untuk berjumpa kembali dengan sahabat masa kecilnya. Ran hanya... menundukkan kepala dalam-dalam sembari berusaha menahan agar jangan sampai air matanya tumpah. Bagaimanapun ia tak ingin Shinichi mendapatinya menangis. Dari dulu Shinichi kurang begitu menyukai Ran menangis. 

"Kak Ran,"

Ran menoleh, tersenyum kecil. Ai Haibara beringsut padanya, balas tersenyum. 

"Ada apa, Ai?" tanya Ran sangat heran--masih tersenyum. Baru kali ini gadis bertampang Eropa itu memanggilnya 'kak'. Selama ini Ai malah menghindari kontak mata dengannya. 

"Maafkan aku," Ai--yang setangguh Ran--hampir saja menangis. 

"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti," Ran setengah membungkuk, lalu memeluk Shinichi. "Kalau aku jadi Shinichi, aku pun akan melakukan hal yang sama. Lagipula--dasar Shinichi, si gila misteri, andai saja dia bisa menahan diri,..."

Kata-kata itu terpotong. Kali ini Ran benar-benar menitikkan air mata. Dari sesenggukan berubah jadi isakan. Ai ikut serta menangis, pun dengan Heiji serta Kazuha yang dari tadi berdiri di dekat Shinichi. Ruangan itu seketika jadi seperti rumah duka saja. Dua gadis meraung-raung, yang mana isakan Ran itu berhasil menyadarkan Shinichi. 

"Kudo, kamu sudah sadar?" Heiji yang kali pertama menyadari, yang berujung pada Kazuha, Ai, dan Ran. Ran langsung histeris dan memeluk Shinichi. 

Dengan terengah-engah Shinichi berucap, "Oi, aku kan sudah pernah bilang jangan cengeng,"

"Baka!" seru Ran nyalang. "Aku khawatir sama kamu, kamu malah menyuruhku jangan cengeng."

Shinichi tersenyum dan berkata, "Maafkan aku, Ran, sudah membuatmu menunggu terlalu lama."

"Seharusnya kamu bilang kalau kamu itu Conan. Keterlaluan kamu, Shinichi!"

"Makanya aku minta maaf, Ran,"

Ran bergeming dan kembali menangis. Shinichi berusaha menegakkan punggungnya dan berkata pada Heiji, Kazuha, dan Ai. Ia memegangi kepalanya yang berusaha mengingat apa yang sudah terjadi selama ini. Heiji pun menceritakan seluruh kejadiannya. 

Cerita itu dimulai saat Shinichi (yang masih berwujud Conan) dan Heiji--yang dalam penyelidikan kasus sebuah pelengseran seorang direktur--tertangkap mata oleh Gin dan Vodka. Heiji langsung meletakkan Shinichi di atas bahunya dan kabur dari kejaran Gin dan Vodka yang terus menembaki mereka nonstop. Kejaran itu menarik perhatian warga Beika, termasuk oleh sepasang kekasih yang sama-sama seorang opsir, Miwako Sato dan Wataru Takagi. Tanpa pikir panjang Conan dan Heiji masuk ke dalam mobil polisi tersebut, lalu menjelaskan sekilat mungkin kejadiannya. Miwako yang lebih senior, sudah tahu kelak dua anggota dari Black Organization itu bakal menampakkan diri. Selama ini komplotan itu juga sudah merepotkan kepolisian Jepang. Tak ada satu pun yang berhasil menumpas komplotan tersebut. Tiap opsir yang ditugaskan  untuk menyelidiki, selalu mati di tengah-tengah. Hingga akhirnya kepolisian Jepang memutuskan untuk menyerahkan kasus itu ke polisi rahasia Jepang.  

"...ternyata selama ini Profesor Agassa-lah pemimpin dari Black Organization, Kudo," tandas Heiji.

"Aku tak menyangka selama ini bersembunyi dari Black Organization di sana, hanya untuk tinggal bersama pemimpinnya. Pantas saja selama ini aku tak pernah berhasil membuat penangkal APTX 4869 yang sempurna." timpal Ai. "Kau tahu, Shinichi, obat penangkal ampuhnya itu berada di tangan Profesor Agassa selama ini. Selama ini juga profesor itu terus mengamati dan menyampaikan perkembangan soal diriku ke organisasi tersebut."

Shinichi menggeleng-geleng serta menggeram, Sekejap ia memejamkan mata, lalu berkata, "Aku salah menilai dia. Selama ini aku kira dia hanya seorang profesor bodoh yang hobi menciptakan banyak temuan konyol. Ternyata..."

"Sudahlah, yang penting Kudo sudah kembali dan Ran bisa terus bersamanya." Kazuha berusaha mengondusifkan suasana. "Tapi aku sama sekali tak menyangka selama ini kamu, Kudo, hidup sebagai Conan Edogawa. Kenapa tak berusaha menyampaikan yang sebenarnya pada Ran?"

Shinichi menundukkan kepala. "Dia yang menyuruhku..."

"Profesor Agassa kan maksudmu, Kudo?!" potong Heiji. 

Shinichi mengangguk. "Di mana dia sekarang?"

"Setelah kejaran-kejaran yang hampir saja membunuhku, sebuah mobil polisi yang diperintahkan kakak opsir yang tomboy itu, menembaki ban belakang Porsche mereka. Mobilnya sempat oleng. Tapi pria bermata dingin itu masih saja bisa balas menembak. Benar-benar pembunuh tak berhati nurani mereka itu. Untung saja, ternyata Tuhan masih ada, polisi itu berhasil menembaki ban satunya lagi; malah berhasil pula menembaki tangki bensinnya. Ledakan itu membuat Beika jadi gempar. Yang gendut tewas, namun si pirang itu hampir saja mau kabur. Untung saja polisi-polisi itu berhasil memborgolnya. Setelah 2x24 jam interogasi, dia akhirnya mau mengaku. Langsung saja polisi menggerebek rumah Profesor Agassa dan menangkapnya."

"Sou ka," kata Shinichi yang berusaha menahan kegeraman. "Lantas bagaimana caranya aku bisa kembali ke wujud asliku? Lalu kenapa Ai tidak?"

"Aku berhasil menemukan ruangan rahasia di mana profesor itu menyembunyikan transkrip berisi cara pembuatan penangkal itu yang benar." Ai yang menjawab. "Sayangnya karena kau terus mendesakku, aku hanya bisa membuat satu kapsul saja. Lalu kau menelannya dan tak sadarkan diri selama tiga hari. Kak Ran terus menemanimu sampai-sampai dia bolos kuliah."

"Oh iya, Ai," ujar Ran yang sudah pulih dari keterisakannya. "Kamu tidak perlu memanggilku 'kak'. Aku dan kamu kan sebaya sebetulnya. Hattori yang menceritakannya padaku semuanya."

Ai menggeleng. "Aku tidak bisa. Kamu terlalu mirip dengan kakakku yang sudah meninggal."

"Maksudnya dia Akemi Miyano, kakaknya yang tewas di tangan komplotan tersebut." Shinichi yang menjelaskan sisanya.

"Aku turut berduka, Ai," Ran langsung memeluk erat Ai Haibara.

*****

Bagaimanapun berita Shinichi dan Black Organization itu sudah meresahkan masyarakat dan kepolisian Jepang. Kabar itu segera menyebar ke mana-mana. Hingga grup detektif cilik juga mengetahuinya. Akhirnya kebenaran itu sampai juga ke mereka. Walau harus dibayar dengan kesedihan di dalam diri Ayumi Yoshida. 

"Jangan sedih, Ayumi," hibur Genta Kojima yang bertubuh besar. "Mungkin memang seperti inilah jalannya. Dari dulu sebetulnya aku sudah mengira Conan bukanlah bocah SD."

"Oi, aku yang punya pemikiran seperti itu!" protes Mitsuhiko Tsuburaya yang kini bertinggi lebih besar dari Genta.

Genta langsung mencengkeram kerah seragam SMP Teitan milik Mitsuhiko. "Kau tak senang kalau aku berkata seperti itu?"

"Yamete!" teriak Ayumi. "Kalian bertengkar melulu kerjanya bisanya. Bisa tinggalkan aku sendirian, tidak?" Tanpa membiarkan kedua temannya menjawab, Ayumi melengos pergi meninggalkan ruang kelas seraya terisak. Untungnya saat itu tak ada murid-murid lainnya. Hanya ada Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko yang berada di dalam kelas seusai jam pelajaran sekolah. 

"Lihat itu," geram Genta pada Mitsuhiko. "Kau memang selalu saja merusak suasana, Mitsuhiko!"

Mitsuhiko tak menjawab kali ini. Mendadak saja ia mengalami dilema. Ia punya perasaan ke Ayumi; sebuah cinta sepihak, karena Ayumi menyukai Conan yang ternyata seorang pelajar SMA bernama Shinichi Kudo, yang tinggal di sebuah rumah bergaya Eropa. Namun ia juga memiliki perasaan ke Ai Haibara. Sejak berita itu muncul, Mitsuhiko jadi tahu bahwa Ai pun sama seperti Conan. Mereka berdua sama-sama orang dewasa bertubuh mini. Apalagi Ai sendirilah yang memberitahukan saat dirinya mengunjungi rumah Profesor Agassa untuk mengetahui yang sebenarnya. Siapakah kini yang dipilih oleh Mitsuhiko? 

*****

"Wah aku tak menyangka artis itu masih hidup. Aku kira dia sudah mati. Soalnya aku hampir tak pernah mendengar kabarnya." Itulah Sonoko. Saat--di sebuah kafe bernama Cafe Poirot--Sera Masumi, Shuichi Akai, dan kekasihnya, Makoto Kyogoku sedang asyik membicarakan berhasil ditumpasnya Black Organization, eh fokusnya malah ke Vermouth alias aktris Amerika bernama asli Chris Vineyard.

"Ckckck," kata Sera. "Kamu ini,--kita sedang membicarakan soal berita itu, kenapa kamu malah membicarakan soal yang lainnya."

"Kan masih ada hubungannya," Sonoko Suzuki tetap tak mau kalah.

Sera dan lainnya menggeleng-geleng gemas. Lalu gadis tomboy yang jago jet kunee do itu berkata pada abangnya, "Onii-chan, kenapa Onii-chan selama ini tak memberitahukanku kalau Subaru Okiya itu Onii-chan sendiri?"

"Aku kira kamu selama ini sudah tahu. Jadi aku tak memberitahukanmu. Maafkan aku, Sera-chan." ucap Shuichi tersenyum kecil.

"Sonoko, andai kata aku bernasib sama dengan Shinichi, apa kamu akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Ran, sahabatmu?"

Sonoko langsung salah tingkah. Masa sih ia harus mengatakannya langsung? Namun gadis itu bingung juga. Ia bingung apa ia bisa setegar Ran.


Sepasang kekasih yang terpisahkah, kini duduk berhadap-hadapan di sebuah restoran yang dulu digunakan orangtua si lelaki sebelum menikah. Sambil menunggu pesanan mereka diantarkan, mereka bersitatap tanpa berbicara sedikit pun. Yang perempuan lalu menatap jendela. Pikiran si perempuan menerawang ke masa itu.

Undangan itu sebetulnya sudah lama sekali tiba di apartemen Ran Mouri. Tanggal pernikahannya jatuh pada sabtu depan. Ran ingin pergi ke Osaka. Apalagi dirinya dan Kazuha memang sudah akrab sekali. Sama akrabnya dengan Sonoko Suzuki--yang sudah lebih dulu menikah dengan Makoto Kyogoku--dan Sera Masumi. Hanya saja ada satu hal yang mengganjal hati gadis tersebut. Hal itu berwujud seorang pria detektif dengan tampak arogan sembari sibuk ber-free style.   

"Shinichi, kamu di mana sebetulnya?" desah Ran yang hampir saja menitikkan bulir-bulir air mata. "Undangan ini kan, undangan sahabatmu juga. Masa kamu tidak mau menghadiri pernikahan sahabat terbaikmu, Hattori-san?"

"Saat itu," Perempuan itu kembali menatap wajah kekasihnya. "kenapa kamu tidak memberitahukanku kalau kamu itu Conan?"

Yang lelaki lalu menundukkan kepala. "Gomen'nasai, Mouri Ran."

"Ck," tukas Ran. "Aku tak perlu kesopan-santunan dari kamu, Shinichi Kudo, sang Sherlock Holmes Jaman Heisei. Jawab saja pertanyaanku."

"Aku, aku, aku,..."

"Ah sudahlah, dari dulu kamu memang selalu seperti itu," ujar Ran nyengir. "Shinichi payah! Lagipula aku sudah bahagia sekali waktu kamu menembakku di depan Menara London itu. Dan, sekarang, maksudku lain kali, jangan ada apa pun yang kamu sembunyikan dariku. Janji?"

Shinichi mengangguk dan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Ran. Setelah itu pesanan pun datang. Mereka asyik menyantap Pasta Bolognese sebelum akhirnya Shinichi mengeluarkan juga cincin permata itu. Ran begitu kagetnya. Perempuan itu tak menyangka akan dilamar. Sebelum ke restoran itu, Ran sama sekali tak punya pikiran akan dilamar. Yang Ran tahu, ia dan Shinichi hanya makan malam dan meminta penjelasan dari Shinichi.


No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^