Saturday, November 21, 2015

Semua Ada Waktunya, Kawan!









Dokumentasi pribadi.






Aku tengah berada dalam sebuah pergumulan hebat (yang kurang tepat untuk di-share di IMMANUEL'S NOTES). Saking hebatnya, aku curhat ke beberapa semata untuk mendapatkan jalan keluar. Nah, dari sekian orang yang kucurhati itulah, ada satu orang yang menarik perhatianku. Sepertinya si perempuan ini belum begitu mengenalku. Kita sebut saja dia Tame (semata agar yang bersangkutan tidak mesem-mesem sendiri sewaktu membacanya saja).

Si Tame ini menyemprotku dalam sebuah aplikasi messenger. Yang kalau diringkas, yah seperti ini: "Jangan bawa-bawa Tuhan, Nuel. Menurut gue yah, hubungan kita sama Tuhan itu--yah hubungan pribadi."

Jujur, di sini aku setuju sama pendapat si Tame pula. Namun si Tame ini lebih muda dari aku. Dulu waktu aku seumur dia, aku pun berpandangan seperti itu. Hingga makin bertambah usia, makin banyak pergumulan, aku sadar sesadar-sadarnya bahwa hidup ini memang harus selalu bawa-bawa Tuhan. Kita harus selalu melibatkan Tuhan dalam tiap keputusan. Kalau Tuhan tidak berkehendak, yah mau bagaimana lagi. Sampai jungkir balik pun, kita tak bakal mendapatkan apa yang kita kehendaki. Semisal aku ingin bisa memiliki satu gadget terbaru, walau kita bekerja dan menghemat mati-matian, kalau Tuhan tak berkehendak, yah kita hanya bisa gigit jari. Percaya deh, selalu ada saja halangannya kalau Tuhan tak berkehendak. 

Ah, aku ingat salah satu ayat Alkitab yang dua tahun lalu itu lumayan sering kubaca di tiap renungan saat teduh. Begini ayatnya: "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya" (Pengkhotbah 3: 1). Yang lalu berlanjut ke ayat 11 pasal yang sama: "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." 

Maaf, aku jadi mendadak religius. Sisi religius yang selama ini terus kusembunyikan, setelah mengalami banyak pergolakan hidup, mendadak keluar begitu saja. Aku jadi makin sadar bahwa sudah saatnya tak perlu malu dengan keyakinan sendiri. Bukankah ada ayatnya di Alkitab yang mana Yesus sendiri meminta kita untuk mengabarkan firman Tuhan walau dalam bentuk paling sepele? 

"Lalu Ia berkata kepada mereka: 'Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.'"

Kembali ke Pengkhotbah itu, aku teringat kata-kata teman lainnya. Waktu itu aku mengeluhkan pada dia soal temanku yang lainnya. Ia lalu bilang, "Biarkan saja, semua ada prosesnya, nanti juga sadar sendiri". Ha-ha-ha, aku jadi tertawa. Lebih tepatnya menertawakan diri sendiri. Dulu aku juga seperti itu. Ambil contoh dalam hal kehidupan religiusku. Waktu masih pelajar SD, aku bangga sekali jadi orang Kristen. Aku suka sekali baca kisah-kisah rohani yang mengacu pada Alkitab. Pun aku suka menonton tontonan-tontonan religius. Hingga saat beranjak remaja, sisi religius itu perlahan tertutupi. Aku jadi malu-malu menunjukkan pada dunia bahwa aku ini pengikut setia Yesus Kristus. Pernah sih sesekali menunjukkan hal tersebut. Tapi tak terlalu sering. Sesekali saja. Begitu ada yang nyinyir, aku langsung ngambek dan bungkam. Tidak lagi menunjukkkan sisi religiusku. Sampai-sampai aku baru sadar, di IMMANUEL'S NOTES ini, aku jarang sekali menunjukkan suatu kebanggaan sebagai pengikut Yesus Kristus. Paling hanya di halaman 'about me'. Selebihnya, memang ada label 'about religion', namun itu lebih ke mengkritisi, bukan sebagai suatu kebanggaan. Label 'kesaksianku' pun juga sudah lama terabaikan. 

Waktu itu, mungkin waktu juga seusia si Tame itu, aku juga berpandangan begitu. "Hubungan dengan Tuhan yah sebagusnya secara pribadi saja. Lebih baik ditunjukkan lewat perilaku. Biar orang lain melihatnya dari sikap kita". Aku dulu berpikir seperti itu. Tak ayal, sempat selama kurang lebih dua tahun, aku tidak mengucapkan hari raya keagamaanku di media sosial. Padahal itu kan salah satu cara untuk menunjukkan rasa banggaku ke DIA, Tuhan-ku sendiri.  Namun, sekarang-sekarang ini aku sadar (yang tertuang dalam "Bangga"). Buat apa malu, buat apa segan, buat apa ditutupi. Kan Yesus sendiri yang minta kita untuk menyebarkannya ke seluruh dunia, bahkan hingga ujung dunia. Masa bodoh-lah sekarang kalau ada yang nyinyir berkata, "Ngapain sih bawa-bawa Tuhan mulu?" Sekarang, aku hanya bisa nyengir. Biarkan saja, kan ada masanya, segala sesuatu ada prosesnya, nanti yang bersangkutan juga sadar sendiri. Yang penting kita tetap menemani yang bersangkutan. 

Heh...

Dulu aku seperti itu, seperti si Tame anggapannya. 

Waktu kecil, aku bangga sekali. 

Giliran pas remaja hingga wisuda SH, aku mulai menutup rapat sisi religiusku. Malah mulai menafikkan peranan Tuhan dalam hidupku. Segan dan malu untuk mengumbar sisi religiusku.  

Hingga, sekarang ini, dengan banyaknya pergulatan yang kualami, sudah saatnya aku datang pada-NYA. Sudah saatnya pula aku tak segan, enggan, maupun malu untuk menunjukkan sisi religius ini. Mungkin ke depannya aku usahakan untuk selalu melibatkan Tuhan dalam tiap pengambilan keputusanku. Kalau Tuhan tak berkehendak, ya sudahlah, aku akan sabar menunggu. 

Sebab segala sesuatu memang ada masanya. So then, let's be calmer and enjoy the process!