Friday, June 12, 2015

Lampion Penolakan



"Kadang manusia begitu. Sudah diberikan kesempatan untuk unjuk gigi, eh malah memilih jalannya sendiri. Wassalam, take your suffer!" - Nuel Lubis dalam keadaan hampir frustrasi. 







Hufft... 

Enaknya mulai dari mana? 

Eee...



Jadi begini, Maret kemarin, aku iseng mengajukan naskah ke sebuah penerbit. Indie. Dan buku yang mereka terbitkan itu hanya diterbitkan dalam format e-book. Tahu kan e-book? Versi PDF atau Adobe Reader begitu, yang mana hanya bisa dibuka kalau ada aplikasinya di ponsel kalian. Nah kurang dari sebulan, penerbit ini--kita sebut saja Lampion--tertarik dengan naskah ini. Mereka tertarik untuk menerbitkan dan memasarkannya. Namun dengan syarat: mau dapat revisi lebih lanjut. Aku sih fine-fine saja. Tak apa harus merevisi, yang penting ada jaminan terbit. Oke, sampai sini, aku mulai merasa dibukakan jalan sama Tuhan. 

Namun, seiring waktu berjalan, mendekati bulan April--khususnya April Mop (yang aku sukai sekali, berhubung pranker sejati, he-he-he), tergerak diriku untuk mengirimkan naskah yang diterima oleh Lampion itu ke penerbit lain yang berstatus major. Kita sebut saja, Garuda. Langsung saja, cap-cus aku urus segala persyaratannya. Soal uang, tak tanggung-tanggung. Selama dua-tiga jam lebih, aku berkutat di rental. Sibuk sunting sana-sini, print, jilid, dan kirim naskah lewat jasa kilat. Singkat cerita, setelah itu, aku menunggu--yang mana surat balasan dari Garuda (bahwa naskahku sudah sampai) datang ke rumah. Hell yeah, aku tahu aku harus sabar. Apalagi memang sudah umum juga, menunggu kabar naskah itu perlu waktu 3-4 bulan. Oh please, I'm not fully newbie into this matter!

Pas bulan Mei, aku sempat punya firasat bakal diterima. Yah yang namanya juga manusia, pasti suka berfirasat, bukan? Terserah deh, ini mau dianggap sebagai excuse atau justifikasi belaka. Yang jelas, gara-gara satu kejadian, muncul firasat bakal diterima. Nyatanya...


...mungkin aku terlalu percaya diri. Mungkin pula ada rencana Tuhan yang lain. Yang jelas, kamis--11 Juni, datang surat. Isinya rada tebal. Dari awal, aku sudah berpikir, ah paling surat penolakan lagi. Apalagi sudah setahun lebih ini, aku juga tak kunjung mengirimkan naskah ke Garuda. Memang benar, pas amplopnya diacak-acak, itu memang surat penolakan. Aku langsung down seketika. Ya Tuhan, penolakan lagi? Harus berapa penolakan yang aku harus terima? Naskah yang diterima penerbit itu saja, sebelum dapat ACC (dan masih harus menunggu terbit yang entah kapan), telah mendapatkan sepuluh kali penolakan, entah itu yang langsung maupun berupa pembiaran (ignorance). 

Rasa-rasanya, pengin ambil tali jemuran saja. Namun urung. Di otak, langsung muncul artikel orang itu lagi. Sehingga aku tak serta merta tunduk. Ingat, Thomas Edison harus bereksperimen sebanyak ratusan kali sebelum menemukan lampu pijar. Atau, bagaimana Rasul Paulus yang surat-suratnya banyak dianggap remeh sebelum jadi pedoman yang dilihat banyak pengikut Kristus. Karena itulah, masih ada beberapa cercah keoptimisan dalam dada. Belum lagi, waktu cek surat elektronik, ada surat dari penerbit lain yang membalas suratku terdahulu. Dari situ aku berpikir, ah ini mungkin jalan Tuhan yang lain; coba ah kirim ke penerbit Leviosa. Tanpa pikir panjang, hard-copy itu langsung kukemas ulang dan coba dikirim ke Leviosa. Semoga saja Leviosa mau terima. 

Balik lagi ke soal Lampion itu. Aku juga belum menyerah. Aku tengah mengusahakan untuk berbicara baik-baik dengan penerbit indie tersebut. Aku harap mereka tak tersinggung dengan sikapku--yang harus kuakui--sedikit kurang ajar. Tapi percayalah, aku juga tertarik dengan penawaran mereka. Namun saat muncul ide lain dalam kepala, yah aku bisa berbuat apa? Mungkin ide itu lebih bisa mengantarkanku ke golku, so why not

Iya, aku tahu. Aku salah besar. Mungkin jawaban penolakan yang hanya berkisar selama dua bulan itu, semacam azab dari Tuhan. Aku ditegur begitu. Mungkin teguran ini semacam pengingat agar aku lebih bisa berpikir realistis dan memanfaatkan kesempatan yang Tuhan berikan. Jelas-jelas Lampion kasih sinyal positif. Lha, ini kenapa aku dengan beraninya menolak tawaran mereka demi Garuda yang belum jelas juga bagaimana nasibnya. Apalagi Garuda gitu lho. Penerbit mayor yang cukup beken; banyak penulis bermimpi naskah mereka dibukukan oleh Garuda. Ah, mungkin aku terlalu silau dengan sinar Garuda sehingga sekurang-ajar itu dengan Lampion. Terlalu menganggap remeh hanya karena Lampion itu penerbit indie dan hanya menerbitkan e-book saja. 

I got the lesson! 

CRAP!

Penolakan
Ah kalau bicara soal penolakan, tak terhitung deh. Sampai-sampai mungkin aku nyaris kebal. Walau beberapa kali juga satu penolakan bikin aku jadi malas makan. Pernah juga terbersit keinginan untuk mengakhiri nyawa. Namun lagi-lagi urung. Aku merasa, ya sudahlah, sabar saja, suatu saat juga bakal debut kok! 

Debut di sini maksudnya... aku ingin sekali melihat karya-karyaku ada di televisi (lewat FTV), majalah atau koran (lewat cerpen atau artikel), maupun toko buku (lewat buku). Untungnya satu sudah terkabul. Debut sebagai penulis buku (walau keroyokan) terwujud lewat Japanese Station Book. Namun  tetap saja itu masih kurang. Masih kurang greget untuk dibanggakan ke keluarga dan para handai taulan. Oleh seorang teman blogger saja, aku masih dianggap kacangan. Dia pernah bilang: "Ah kalau nerbitin buku lewat indie aja, semua juga bisa!" Jleb! Sadis sih, tapi benar. 

Heh...




Pengin bisa kayak si Hadi Kentang ini juga, bisa promosiin buku sendiri lewat book trailer



Kan kalau namaku makin dikenal sebagai seorang penulis (entah penulis skenario, author, maupun cerpenis), seringkali sejalan dengan penghasilan. Walau blog belum ber-dot com, dengan nama besar sebagai seorang penulis yang karyanya banyak bertebaran di media atau toko buku, secara pendek akalnya rejeki akan mengalir. Tak terlalu sulit juga untuk menarik pengiklan agar mau bayar tarif beriklan di blog ini. 

Heh...



Ini kapan ada FTV dengan nama gue sebagai Ide Cerita-nya?
Feby saja sudah malang melintang sebagai penulis ide cerita di beberapa FTV. 



Aku sungguh letih dengan kondisi ini. Lelah sekali menerima beragam jenis penolakan. Sakit! Apalagi, hingga Juni 2015 ini, aku sungguh berada di titik nadir. Well, aku tahu pasti banyak orang yang mencibiriku. Pasti banyak yang menganggap remeh aku, terlebih saat dua tahun silam itu aku terlalu euforia dan jumawa sekali akibat naskah itu di-ACC. Nyatanya terbit saja tak tahu kapan. Aku benar-benar tak punya muka lagi. Bingung, aku mau membanggakan apalagi. Cerpen? tak ada satupun yang dimuat di media non-online. Novel? Selain yang itu, yang lain juga sering dapat penolakan. Sinopsis skenario pun sama saja. Sudah lima bikin, tapi tak kunjung jelas nasibnya. Padahal yang tiga terakhir itu, sudah mengikuti aturan main mereka, yaitu konflik harus foursome dan latar belakang tokohnya unik. Urang teh kudu kumaha, Gusti? 

Bahkan saat tengah menjalin kerjasama dengan beberapa orang rekan pun, aku hanya bisa mengelus-elus dada. Ada saja halangannya. Mulai dari rekan kerja yang tak suportif, terus memotivasi rekan yang dibayang-bayangi trauma (sehingga bikin aku serasa tengah dimanfaatkan), hingga usaha promosiku yang seolah sia-sia belaka. Banyak rencana buyar karena persoalan finansial. 

Heh...

Penolakan, penolakan, penolakan.

Diremehi, diremehi, diremehi.

Dikritik, dikritik, dikritik.

Bokek, bokek, bokek.

Diejek, diejek, diejek.

Dicaci, dicaci, dicaci.

Tak dianggap, tak dianggap, tak dianggap.

Aku harus sabar, aku harus sabar, aku harus sabar.

Terus berkarya, terus berkarya, terus berkarya.

Di depanku, sebuah pelangi yang sangat menawan itu tengah menantiku. Ganbarimasu!!! Ganbarimashou!!!






* mencoba kembali beroptimis dan berserah pada Tuhan

12 comments:

  1. Jangan pernah untuk berusaha, karena tuhan tidak tidur, ada saatnya kamu bisa berjalan di titik terang itu yang mana, titik terang itu adalah kesuksesan mu :)

    So, jangan patah semangat yaa kawan, apalagi berkarya :) tunjukkan karyamu pada dunia, dan katakan, bahwa karya ku pantas untuk di baca :)

    ReplyDelete
  2. Udah pernah minta ijin buat fokus nulis sama ortu, Nuel? Fyi, biasanya klo banyak halangan gitu karena ortu ga ikhlas anaknya beda jalur dari jurusan kuliah. Aku pun pernah ngalami. Doa ortu itu manjur banget. Minta kerelaan mereka untuk mengijinkan kamu fokus di nulis. Pasti jadi lancar.

    ReplyDelete
  3. beneran nih udah kebal kalau masalah penolakan :D

    ReplyDelete
  4. jangan patah semangat sobat tetap semangat terus yah :)

    ReplyDelete
  5. Terus semangat, coba, coba, coba terus! Lo tau, ide gw diterima FTV itu cuman 12 dari 40an ide yang gw lempar! Gw percaya satu hal, semakin keras usaha kita, maka do'a kita akan semakin di dengar. Gitu. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener apa kata mas Feby nih, mas Iman.
      Semakin keras usaha kita, maka do'a kita akan semakin didengar.
      kalau gak keras juga coba di pancing #apaini

      Delete
  6. wah songong tuh yg ngatain masalah buku indie. *ambil samurai*
    Jgn berkecil hati mas kalau dikatain masalah buku indie, emang bener siapa aja juga bisa nerbitin buku indie, tapi ingat nerbitin buku itu gak segampang nulis, si penulis juga bakalan mikir tulisan dia bagus atau gak, ceritanya oke atau gak. intinya gak gampang buat bikin sebuah buku, walaupun indie.
    Malah nih ya, saya beberapa kali sering ketipu karena label penerbit terkenal, pas baca isinya rasanya mau minta kembaliin duit, bukunya gak seru, malah bagusan tulisan dari para blogger. jujur banget nih saya haha

    Jgn pernah nyerah mas Iman, semua ada prosesnya, kita harus tetap usaha dan berdo'a.
    kalau emang orang ada yang ngeritik harus kitaterima, dan jadikan itu perbaikan buat kita pribadi jgn diambil hati.

    Hmm... saya jadi panjang gini komennya haha

    ReplyDelete
  7. jangan patah semangat maju terus yo yo yo

    ReplyDelete
  8. Dabalik penolakan tersebut pasti ada hikmahnya, jadi semngat terus jangan patah semangat :)

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^