Sunday, May 31, 2015

Mau Tersesat atau Langsung Fokus?




"Kalo gue sih, pengin banget bisa kuliah. Biar bergelar, Bro," 

Mendadak, di tengah-tengah menonton sebuah cuplikan soal kasus seorang anggota DPR yang terbukti bergelar palsu, aku teringat kata-kata temanku semasa SMP dulu, Andri. Perlahan juga, aku teringat kata-kata abang sepupuku, Bang Mardin, sewaktu aku masih sibuk-sibuknya cari perguruan tinggi selepas SMA. Dia pernah bilang padaku, "Nuel itu sebetulnya lebih mau cari kampus atau fakultas? Atau mau cari cewek?" (Oke, bagian kalimat terakhir itu karanganku saja, huehehe)

Hmmm...

Gimme a time for think it all so seriously. 

Hmmm...



Dokumentasi pribadi.




Seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya usia, sepertinya aku makin sadar, dan mungkin untuk sekarang ini saja, terlebih seputar gelar palsu tersebut, bahwa ilmu itu tak mutlak milik bangku sekolah atau perguruan tinggi.

Buat para pembaca yang masih SMA, apa sih yang ada di benak kalian jika terbayangkan kehidupan setelah SMA? Amat yakin, 90% pasti berkata bahwa mereka ingin bisa kuliah lagi. Titik, tanpa koma. Apalagi konon yang bergelar sarjana itu jauh lebih dianggap daripada yang hanya lulusan SMA. Di Indonesia--atau mungkin beberapa negara berkembang lainnya (seperti yang kutangkap dari tayangan berita Metro TV itu), gelar itu jauh lebih penting daripada ilmunya sendiri. Mungkin hal seperti itu sudah terjadi lama sekali. Mungkin pula sudah terjadi sejak jaman orde lama kali yah?!

Aku sendiri juga bingung dari manakah rumus tersebut. Apakah tiap lulusan SMA itu harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi--entah itu universitas, institut, lembaga tinggi, akademi, dll, dsb? Apa harus seperti itu? Apakah harus seseorang yang bergelar sarjana itu jauh lebih prestisius daripada yang hanya lulusan SMA belaka?



Bahkan saking bersikukuhnya jadi seorang mahasiswa, yang kuamati sekali lagi, banyak di antara kita yang tak mempersoalkan jurusannya. Yang penting bisa kuliah, yang penting kelak bisa bergelar. Masa bodoh dengan salah jurusan. Walhasil, tak jarang ilmu selama bangku perkuliahan itu tak pernah digunakan akibat setelah mengantongi gelar, mereka lalu sadar dan berpikir: ini sebetulnya gue ambil jurusan ini buat apa? Kan bukan minat atau passion gue juga. Semuanya gara-gara mereka memilih untuk ikut arus tanpa tahu hati kecil mereka maunya seperti apa. 

Kebanyakan juga--yang aku lihat--para calon mahasiswa itu memilih jurusan karena faktor arus di sekitar mereka. Karena jurusan Manajemen, Psikologi, Hukum, atau Teknik itu katanya banyak dicari (atau karena faktor orangtua), mereka memilih masuk Fakultas Ekonomi, Psikologi, Hukum, maupun Teknik. Padahal sebetulnya mereka kurang meminati jurusan yang mereka hendak ambil tersebut. Semuanya karena sudah terpengaruh pola pikir yang sebetulnya menurutku itu keliru. 

Sebetulnya tak harus tiap lulusan SMA itu duduk di bangku perguruan tinggi. Mungkin ini sebuah paradigma yang sudah dibangun pemerintah Indonesia bahwa kalau mau sukses itu harus kuliah. Padahal tak seperti itu juga kan. Di beberapa negara maju saja, banyak orang ternama yang sukses  itu malah tak bergelar sarjana. 

Mari kita ambil contoh dari lapangan hijau. Justru pesepakbola-pesepakbola yang bergelar itu masih terlihat janggal. Kebanyakan pesepakbola itu malah tak mengenyam bangku perguruan tinggi. Mulai dari David Beckham, Francesco Totti, Cristiano Ronaldo, hingga Lionel Messi, bukankah mereka tak bergelar? Tapi mereka sukses di bidangnya. 

Arena balap juga sama. Aku pernah baca di sebuah koran bahwa banyak dari pebalap yang lebih memilih untuk tak melanjutkan sekolah demi fokus membalap. Mereka malah mengernyitkan dahi terhadap ulah para pembalap Indonesia yang memaksakan diri untuk tetap kuliah, alih-alih membalap. 

Di dunia showbizz apalagi. Setahuku, kebanyakan aktor, aktris, hingga penyanyi itu juga tak bergelar. Selena Gomez, Demi Lovato, Justin Bieber, Taylor Swift, hingga yang terlawas seperti Justin Timberlake serta Atsuko Maeda. Kalaupun ada yang bergelar, paling orang itu juga memiliki gelar yang sinkron dengan karier yang mereka ambil. Contoh: Ben Stiller dan Vin Diesel yang lulusan dari sebuah sekolah perfilman. Atau Eddie Redmayne yang terkenal dengan quote-nya: "Stay weird, stay different,"

Omong-omong soal perguruan tinggi, sebetulnya beberapa negara maju itu memiliki banyak perguruan tinggi dengan pilihan jurusan yang lebih beragam. Yang mau jadi chef, ada sekolah khusus memasak. Yang mau jadi pemusik, ada sekolah. Yang mau jadi desainer, ada sekolah desain. Yang mau jadi komikus, ada sekolah khusus komikus. Yang mau jadi model, ada sekolah model. Nah, yang seperti itulah, yang kulihat amat jarang ada di Indonesia. Berapa banyak sih sekolah khusus koki, model, desain, musik, hingga keahlian-keahlian non-akademis di luar yang sudah kita kerap dengar macam Hukum, Ekonomi, Psikologi, Kedokteran, atau Sastra? Sedikit kan? Belum lagi ada anggapan bahwa jika mau dianggap itu harus menekuni juga bidang akademis. 

Lagi-lagi itu anggapan salah. Di Indonesia saja, ada Anne Avantie yang seorang desainer. Terus masih ada mendiang Olga Syahputra, Raffi Ahmad, atau Laudya Cynthia Bella yang setahuku tak mengenyam bangku perguruan tinggi. Nyatanya sukses kan. Karena mereka fokus pada bidang yang ingin mereka geluti. Bahkan Bu Susi, sang menteri nyentrik itu pun, bisa punya Susi Air hanya dengan memiliki ijazah SMP. 

Kalau seandainya ingin kuliah pun, bukankah lebih baik masuk ke sebuah sekolah khusus? Jadi, ilmu yang diterima di bangku kuliah tak akan sia-sia belaka. Sejalan kan antara karier dan jurusan kuliah. Di Indonesia sendiri, sebetulnya ada beberapa yang seperti itu. Kevin Aprilio contohnya. Brandon Salim contoh lainnya. Masih ada lagi Kemal Pahlevi, seorang comic yang lulusan Institut Kesenian Jakarta.

Tapi semuanya terserah tiap orang memang. Ada mungkin yang sudah jauh-jauh hari sudah tahu kelak mau dikenang sebagai apa. Ada pula yang baru semasa kuliah, ia akhirnya tujuan hidupnya mau jadi apa (sama seperti aku yang tersasar di fakultas Hukum; atau Chef William Gozali yang sempat drop-out demi bisa banting setir jadi chef). Ada juga tipikal yang suka ikut-ikutan arus (yang terkadang bisa salah) padahal sudah tahu hati kecilnya berkata apa. Ada juga yang sudah tahu mau berkarier seperti apa hingga akhir hayat, namun karena situasi dan kondisi, orang itu memilih tersesat lebih dahulu. 

Seorang blogger bernama Arif Abdurahman (di salah satu postinganku yang dia komentari) pernah bilang: "Dan terkadang kita butuh tersesat dulu,"

Seorang dosen di fakultas Hukum dulu pernah berujar, "Ada baiknya itu searah, sejalur, seakar. Jadi lebih terarah hidupnya; fokusnya lebih jelas pula."

Namun demikian, semuanya kembali ke kita. Mau tersesat lebih dulu? Atau mau langsung fokus ke bidang yang amat kita minati? 

Hahaha... Kalau dipikir, ini jadi dilema tersendiri. Dilema antara mau seakar dengan bakal karier yang akan digeluti hingga akhir hayat atau malah tersesat lebih dulu dengan banyak fokus.

Anyway, for the last, sepertinya memang tergolong langka, ada orang yang memiliki karier yang tak jauh berbeda dengan pendidikan ia pernah geluti. Terkadang untuk bisa sukses di satu bidang, memang benar harus ada pengorbanannya lebih dulu. Kita juga harus berani keluar dari zona nyaman, yang mana tersesat itu mungkin sudah seperti keluar dari zona nyaman. Butuh tamparan pula untuk menyadarkan kita akan minat, passion, serta bakat yang kita miliki.