Wednesday, March 4, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Pahlawan Badut




 Genre: Cerita Anak

            Di sebuah kota,  berdirilah sebuah sirkus yang bernama Sirkus Boni. Sirkus Boni merupakan sirkus favorit warga kota tersebut. Karena hampir tiap akhir minggu, sirkus tersebut selalu dikunjungi. Banyak atraksi yang dipertunjukan di sirkus tersebut. Contohnya itu, atraksi akrobat  di atas tali yang digantung, pertunjukan badut, atraksi telan pedang, pertunjukan sulap, dan masih banyak lainya pertunjukan lainnya.
            Namun dari antara pertunjukan tersebut, ada satu yang merupakan kesukaannya para pengunjung sirkus tersebut. Pertunjukan tersebut adalah pertunjukan badut. Khususnya lagi, apabila badut favoritnya tampil, yaitu Pepito. Tiap kali Pepito tampil, pasti pengunjung sirkus tertawa terbahak-bahak. Apapun atraksi yang ditampilkannya, pengunjung selalu tertawa. Bahkan walaupun itu atraksi lama yang sudah pernah ditampilkan, pengunjung akan tetap tertawa.



Diambil dengan menggunakan kamera yang ada di handphone Nokia Lumia, pada saat Jak-Japan Matsuri 2014. Tentunya dengan sedikit suntingan agar terkesan dramatis. He-he-he. 




            Harusnya Pepito senang. Karena sebagai seorang badut, ia berhasil membuat para pengunjung sirkus tertawa. Bukankah tugas seorang badut adalah membuat pengunjung tertawa? Tapi Pepito tidak terlalu senang. Ia tahu pengunjung tertawa bukan karena keahliannya melucu. Namun para pengunjung tertawa adalah karena penampilannya Pepito. Terlebih lagi, karena wajah dan riasannya Pepito.
            Itulah sebabnya, setelah ia selesai tampil, ia langsung menghampiri pemilik sirkusnya, Pak Boni. Ia langsung berkata bahwa ia berhenti dari sirkus tersebut. Terang saja, Pak Boni tidak bisa menerimanya. Pak Boni terus mengikuti Pepito, setelah Pepito pergi meninggalkan Pepito tersebut. Bahkan Pak Boni terus mengikut hingga Pepito sudah berjalan di sebuah trotoar yang ramai.
            “Pepito, tunggu!” panggil Boni. “Ayolah, kamu badut terbaik di sirkusku. Jangan berhenti. Aku akan membayar lebih dari badut-badut lainnya. Aku berjanji.”
            Pepito menghentika langkahnya dan menatap wajah bosnya tersebut. “Terimakasih buat tawarannya, Pak Boni. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku tetap keluar dari sirkus tersebut.”
            “Tapi kenapa?” tanya Pak Boni dengan ekspresi kebingungan. “Kamu kan badut terbaik di sirkusku. Pengunjung selalu tertawa saat melihatmu tampil.”
            “Iya, mereka tertawa. Tapi tertawa karena apa? Atraksi yang kubuat? Atau karena wajahku ini?” kata Pepito dengan kesal. “Mereka tak pernah memandangku serius. Bahkan saat  aku serius pun, pengunjung tertawa juga.”
Lalu Pepito menyebutkan beberapa rumus kimia dan fisika yang pernah dibacanya dari buku. Setelah ia selesai menyebutkannya, para pejalan kaki tertawa terbahak-bahak. Termasuk Pak Boni sendiri.
Kemudian setelah menyebutkan beberapa rumus tersebut, ia mencoba membacakan puisi yang ia buat. Ia mengeluarkan selembar dari kantonnya dan membacakan puisi yang tertulis di sana. Hasilnya tetap sama. Para pejalan kaki dan Pak Boni tetap tertawa. Begitupun juga saat mencoba berakting. Lagi-lagi tertawa. Pepito jadi kesal.
Tak jauh di sana, terjadi peristiwa penjambretan. Seorang wanita muda dijambret tasnya oleh dua orang penjambret yang menaiki sepeda motor. Saat dua penjambret tersebut melihat Pepito, mereka ikutan tertawa. Mereka tertawa terbahak-bahak waktu melihat Pepito yang berjalan sambil cemberut. Akibatnya, sepeda motor yang mereka berdua naiki oleng. Lalu sepeda motor tersebut menabrak lampu jalan yang ada di trotoar. Sontak saja banyak orang langsung menghampiri kedua penjambret itu.
Pepito yang melihat kejadian tersebut jadi sedih. Ia lalu berkata ke Pak Boni, “Lihat kan? Pak Boni bisa lihat kan? Bahkan orang yang naik motor pun jadi kehilangan konsentrasi gara-gara melihat wajahku saja.”
Untung saja wanita yang jadi korban penjambretan tersebut berdiri tak jauh dari sana. Ia langsung ikut menghampiri  kedua penjambret tersebut dan mengatakan ke orang-orang di sana bahwa  mereka seorang penjambret. Lalu setelah itu, wanita tersebut mendatangi Pepito.
Ia tidak tertawa, melainkan hanya tersenyum dan malah berterimakasih kepada Pepito. “Bang, terimakasih yah. Kalau bukan gara-gara abang yang bikin mereka tertawa hingga menabrak lampu jalan, pasti mereka berhasil membawa  pergi tasku.”
Setelah wanita tersebut berkata seperti itu, para pejalan kaki bertepuk tangan. Mereka bertepuk tangan, karena ‘aksi pahlawan’ Pepito tersebut. Pepito jadi terharu melihatnya.
            Keesokan harinya, Pepito menjadi semakin terkenal. Namun kali ini bukan lagi karena wajah lucunya yang selalu membuat orang tertawa. Kali ini ia terkenal karena berhasil menolong seorang wanita dari penjambretan. Bahkan saking tertawanya, ia jadi berita utama di koran-koran lokal.
Oh ya, selain menjadi terkenal, Pepito kembali menjadi badut di Sirkus Boni. Ia kembali menjadi badut, karena pengunjung sirkus tidak lagi tertawa karena wajahnya. Kini, para pengunjung sirkus hanya tertawa karena atraksi yang dibawakannya. Itupun tak hanya tawa juga yang mereka berikan. Mereka juga memberikan tepuk tangan dan sorak sorai pujian buat setiap atraksi yang dipertunjukan oleh Pepito.




PS: Sebetulnya, kalau boleh jujur, cerpen ini terinspirasi dari sebuah serial komik yang ada di majalah Donal Bebek yang terbit sewaktu aku masih anak kecil yang masih unyu-unyu stroberinya. Namanya juga terinspirasi, lho. Jadi tentunya ada banyak perubahan; tak seratus persen mirip dari sang inspirator. Cerpen ini merupakan salah satu dari sekian cerpen di awal saya baru belajar bagaimana cara membuat sebuah cerita pendek dengan baik dan benar. Sempat dikirim ke sebuah media, namun ditolak. Ya sudahlah, ketimbang menganggur di laptop, aku publikasikan saja di sini. Enjoy yah!