Monday, February 23, 2015

Iri ke Seseorang



Tiap manusia itu pasti memiliki perasaan iri atau cemburu. Bohong jika ada yang berkata tidak mempunyai hal tersebut. Itu salah satu sifat alami manusia.

Sifat iri dan cemburu itu kadang tak sepenuhnya membawa dampak negatif. Terkadang kalau kita bisa mengontrol, kedua sifat itu bisa mendatangkan manfaat untuk kita. Bisa memacu kita untuk dapat berkembang ke arah yang lebih baik lagi.

Aku pun sama. Tak pernah jauh-jauh dari dua sifat itu. Kadang masih suka iri sama orang lain, sama prestasinya, sama apa yang dimiliki.

Bicara soal itu, dulu dan hingga saat ini, aku suka iri sama seorang blogger. Alumni DKV. Domisili di Bogor. Orangnya lumayan fotogenik, bisa menyanyi, pintar ngomong, gambar-gambarnya bagus, dan rasa percaya dirinya luar biasa. Tahu siapa?

Buat yang sudah malang melintang di dunia blogging sejak 2010, pasti tahu yang kumaksud.

Yah dialah Thomas Kurniawan. Biasa dipanggil TK, yang dibaca Tikey.



Dikutip dari WHAT A BIG SURPRISE!




Kenal Bro TK ini sudah dari 2010, dan masih menjalin silaturahmi. Masih suka blogwalking walau sekarang lebih sering jadi silent reader (Suka lupa meninggalkan jejak soalnya!).

Yup, aku iri sama TK ini. Aku iri bukan karena bakat-bakat yang ia miliki. Aku percaya, bakat tiap orang itu berbeda-beda. Yang aku cemburukan dari dia adalah rasa percaya dirinya yang to the max banget.



Dikutip dari WHAT A BIG SURPRISE!




Bisa terlihat kok dari blog-nya, www.tom-kuu.blogspot.com. Kelihatan orangnya itu berani sekali tampil antimainstream. Tak segan untuk menyampaikan isi pikirannya. Contoh: dengan memberitahukan pembaca kalau kata sandangnya itu pakai TK, bukan saya.

Terus, tak risih apalagi malu untuk menceritakan apa pun soal kehidupannya. Tak segan menyampaikan kekesalannya waktu Lady Gaga batal ke Indonesia. Blak-blakan bilang soal pengalamannya naik bus umum yang bikin dia gerah tapi juga mengasyikan. Tak takut di-judge karena menceritakan segala pengalamannya yang rada ajib. Kayak pengalaman coba mushroom, mentato, soal astral projection, atau meluapkan kegembiraannya karena artwork-nya dipajang di 9gag. Dia juga tak risih untuk mengumbar mimpinya. Entah itu di blog sendiri maupun blog orang lain. Luar biasa!

(Tahu nggak, Bro TK, secara nggak langsung lu udah menginspirasi banyak orang dari kebiasaan lu nulis di blog. Lu udah menginspirasi gue buat berani bermimpi gede. Tapi lu juga udah bikin gue iri. Iya, gue iri sama rasa percaya diri lu itu. Sampai sekarang gue masih bermasalah dengan itu. Gue masih suka nggak yakin sama diri gue sendiri. Sumpah, nggak bohong!!!)

Itulah yang bikin aku iri dengan rasa percaya dirinya yang luar biasa. Aku cemburu setengah mampus dengan keyakinannya yang berapi-api. Bagaimana sih agar bisa sepede itu?

Jujur, aku ini tipe orang yang take it personal. Gampang terpengaruh omongan orang, baik secara emosional maupun secara alam bawah sadar. Makanya aku jadi plin-plan orangnya. Suka tak yakin dengan potensi diri yang kumiliki. Masih malu-malu untuk menceritakan hasratku pula.

Kadang tiap menulis di blog juga, aku tak seratus persen jujur. Berpikir beratus kali dulu. Kadang tiap mau klik 'publish', mikir dulu--yakin nih mau di-post? Jadi hati-hati juga sama diksinya. Kalau ada pembaca yang protes soal penggunaan kata atau grammar, pasti deh langsung kuedit lagi. Kayak takut salah gitu. Salahkah bersikap seperti itu?

Jujur, aku pengin lho kayak Bro TK, yang yakin banget sama pribadinya sendiri. Ajarin, dong, cara supaya pede begitu! Capek juga harus terus pesimis dan menskeptiskan lalu mendiskreditkan diri sendiri.

Atau, selain TK, ada satu blogger lagi. Itu Keven Keppi, pemilik Emotional Flutter.Orangnya juga sama seperti TK. Bedanya, Keven lebih selektif lagi. Tak segala hal diceritakan.

Eh tapi aku menulis seperti ini bukan bermaksud membanding-bandingkan juga. Tiap orang kan punya cirinya masing-masing.

Kembali soal blogger lucu nan bijak itu, yang bikin aku iri sama Keven itu... yah masih soal rasa percaya diri. Seingatku, Keven itu pelopor 'bucket list post' di kalangan blogger.

Dulu aku sering berpikir, buat apa sih postingan macam itu. Nggak guna. Kan kalau tak terwujud, rasa malunya jauh lebih besar. Kenapa tak ditulis di buku harian saja? Begitu dulu pikiranku.

Namun, sekarang ini, anggapanku berubah. Setelah perenungan tujuh hari tujuh malam di Puncak Jayawijaya, aku mulai merasa adanya suatu kegunaan menulis bucket list post. Apalagi dengan diperlihatkan ke hadapan publik. Bucket list post itu bisa menjadi semacam injeksi dalam diri agar tak menyerah, sesulit apa pun kondisinya. Tiap hectic menyerang, buka blog sendiri, lihat postingan semacam itu, menaikkan semangat banget. Itu menurut hemat pendapatku; dan mungkin sudah saatnya aku mulai meniru langkah Keven itu kali yah?!

Ada juga kebiasaan beberapa blogger yang bikin aku iri lainnya. Soal selca. Self-camera. Atau kalau di Indonesia, dikenal sebagai selfie. Beda sama mereka, aku masih malu-malu untuk upload foto selfie-ku sendiri.

Tapi yang itu sih, tak terlalu mengganggu sebetulnya. Kadang enak juga, lho, jadi sosok misterius itu. Mengasyikan pas menyaksikan beberapa orang jadi bertanya-tanya soal wujud asli kita. Ha-ha-ha.

Hal yang paling bikin aku iri dari satu-dua blogger: saat blogger-blogger itu benar-benar bisa mempraktekkan 'be yourself' dalam kehidupan mereka di dunia maya.

 Itu yang aku masih kesulitan untuk sepenuhnya dipraktekkan. Aku terlalu banyak pertimbangan sih. Takut dibaca orang tua. Takut salah. Takut menyinggung orang lain. Takut ini. Takut itu. Halah. Ternyata pede itu nggak gampang yah!

難しねえ。。。