Thursday, February 19, 2015

#InMemoriam Pak Yohanes Anin



Pernahkah kalian memiliki seseorang istimewa? Bukan, bukan kekasih maksudnya. Aku tak sedang berbicara soal asmara juga.

Seseorang istimewa yang kumaksud itu...

Kalian berjumpa dengan seseorang, mengenalnya, dan seseorang itu sudah memberikan banyak dampak ke hidup kalian. Keberadaan orang itu sangat berarti.

Hingga Imlek 2015 ini, cukup banyak aku memiliki orang-orang seperti itu. Dari mulai SD hingga menjelang kepala tiga. Dan di antara semuanya, aku teringat seseorang.

Pak Yohanes...

Beliau itu seorang pendeta, pemuka agama dalam agama Kristen Protestan; bukan Buddha. Kali pertama mengenal waktu masih berseragam putih-merah. Masih kelas tiga, seingatku.

Beliau datang ke rumah sebagai guru spiritual, yang memberikan bimbingan rohani dan semakin mengajarkan padaku apa itu agama yang kuanut.

Mungkin kalian bingung mengapa orang tuaku harus 'menyewa' Pak Yohanes Anin sebagai guru spiritual. Aku juga belum mendapatkan pertanyaan; sama bingungnya mengapa tetangga depan rumah memanggil seorang guru mengaji secara privat juga.

Meskipun bingung, aku bersyukur pernah mengenal Pak Yohanes. Beliau membangun pondasi-pondasi--yah bisa dibilang semacam itu--dalam diri. Beliau selalu tak jemu berkata bahwa kita tak sendirian di dunia yang kita tempati sekarang ini. Ada kekuatan tak kelihatan yang mengontrolnya. Itu TUHAN.

Cara mengajar beliau kadang fanatik. Tapi setelah direnungi sekali lagi, memang harus seperti itu. Kefanatikan terkadang membuat kita semakin meyakini bahwa sesuatu yang kita pilih itu tak salah. Setidaknya untukku.

Tapi lupakan saja soal kefanatikan tersebut. Aku tak sedang membicarakan mengenai agama yang kuanut lebih lanjut. Takutnya jadi terkesan seperti tulisan seorang ekstremis juga.

Yang jelas, berkat Pak Yohanes Anin, bukannya narsis, hanya saja aku merasa sedikit berbeda dengan teman-teman kebanyakan. Di saat yang lain sering ikut-ikutan untuk mencoba banyak hal, aku tidak. Aku sama sekali tak tertarik untuk ikutan nge-beman (naik mobil yang belakangnya terbuka, red), merokok, minum minuman keras (Yep, ada beberapa teman SMP yang pernah mencoba), tawuran, kebut-kebutan, hingga pacaran yang sedikit kelewatan (Ada teman yang sampai hampir berciuman dalam kelas). Atau saat beberapa teman berkumpul di satu rumah seraya menonton film porno dan mabuk-mabukan. Belum lagi saat ada remaja SMP yang sudah melakukan pelecehan seksual dengan memegang dada teman lawan jenisnya.

Satu-satunya delinkuensi yang kulakukan itu hanya yang terkait dengan pornografi. Itu juga hanya sebatas masturbasi, tak sampai kebablasan hingga ke yang lain. Hanya itu.

Aku merasa, mungkin karena pengajaran yang bagus dari Pak Yohanes, segala hal yang dilakukan oleh kebanyakan teman itu salah. Memang salah, tak ada faedahnya sama sekali. Aku berani tampil beda, berani pula dijuluki culun.

Memang sih, konsekuensinya aku tumbuh jadi pribadi, yang menurut anggapan seorang blogger, yang lambat--yang takut-takut mengambil tindakan. Jadi seorang peragu begitu.

Namun keperaguan itu ada gunanya pula. Itu membuatku jadi tak salah melangkah. Salah mengambil langkah terkadang bisa fatal. Iya, fatal. Salah-salah penjara buntutnya. Atau, mungkin rumah sakit masih mending. Serentetan pengalaman sungguh pahit bisa kuterima.

Aih, rasa-rasanya jadi tak menyesali keputusanku untuk belajar agama secara privat kepada Pak Yohanes. Mungkin dulu sedikit menjengkelkan. Karena harus menghentikan aktivitas bermain demi sebuah kegiatan yang sepertinya cukup dilakukan di sekolah minggu. Mempelajari kitab suci sendiri, aku akui, kadang bisa jadi sesuatu yang membosankan. Diksi yang tak enak. Topik pembahasan yang itu-itu melulu (Ngomongin moral terus!). Jauh lebih menyenangkan untuk memperbincangkan soal kartun.

Itu dulu. Dulu anggapanku memang seperti itu. Namun benar kata pepatah itu. "Yang namanya ilmu itu kadang manfaatnya tak langsung kita terima. Butuh waktu agar kita sadar bahwa ilmu itu ternyata memang bermanfaat untuk kehidupan kita (kelak)."

Sekarang ini manfaatnya sungguh terasa sekali. Terasa betul bahwa ajaran serta didikan Pak Yohanes itu sama sekali bukan suatu kesia-siaan. Selain jadi lebih mengenal soal ajaran agamaku secara (Aku mantap dengan keyakinanku itu pas kelas sepuluh) dini, pondasi yang beliau bangun dalam diriku ini mulai terlihat hasilnya. Setidaknya aku yang merasakannya sendiri.

Di masa-masa getir seperti ini, aku suka merenung. Di perenungan itu, aku sadar. Kalau saja tak berjumpa dengan Pak Yohanes, mungkin aku jadi pribadi yang rapuh sekali. Iya, sebetulnya aku ini rapuh. Aku ini pun termasuk seseorang yang mudah terpengaruh. Untungnya Pak Yohanes bisa mengontrolnya dengan menanamkan padaku soal apa yang baik dan apa yang tidak.

Jarang yah, ada remaja SMP yang sudah tahu soal nilai apa yang baik, apa yang salah?! (Maaf jadi narsis).

Berkat Pak Yohanes pula, aku sadar bahwa ada satu tempat berserah terbaik di kala kita tengah depresi. Itu TUHAN. Saat pikiran tengah kacau, lantas kita berdoa atau baca kitab suci, lalu merenunginya, percaya deh, itu bisa membangkitkan semangat lagi. Suasana hati yang tadinya suram habis, bisa sontak berubah menjadi seterang matahari. Cara ini lebih dahsyat ketimbang berusaha menghilangkan stress dengan menyentuh minuman alkohol, merokok, atau pula nge-drug. Dan pun aku jadi sadar, inilah salah satu manfaatnya, kita memiliki keyakinan terhadap pencipta kita sendiri.








Pak Pendeta Yohanes Anin...

Tak terasa sudah satu dekade Bapak di atas sana. Maaf, aku tak bisa datang saat pemakaman itu. Bentrok dengan jadwal sekolah. Walau sebetulnya aku bisa saja membolos.

Pak Yohanes...

Saat Tuhan memanggil Bapak, itu selalu jadi momen tak terlupakan. Bapak tahu, saat aku memanggil Bapak untuk datang--untung bimbingan rohani lagi (akibat tekanan jadi pelajar SMA), esoknya Allah Bapa di sorga malah memanggil Bapak. Aku syok. Merasa begitu kehilangan. Bahkan selama sebulan itu, tidurku tiap malam jadi tak tenang.

Pak Yohanes...

Dulu Bapak sering berkelakar, "Kalau Immanuel gede nanti, dan udah kerja, belikan Pak Yohanes kacama-----ta," Aku selalu ingat itu, Pak!

Tapi Bapak sudah berbeda alam. Aku tak mungkin membelikan Bapak kacamata. Tapi aku janji untuk selalu bersemangat dalam hal memberikan kebanggaan dan kebahagiaan untuk kedua orang tua. Kacamata itu kan identik dengan kebanggaan bagi pemakainya. Orang yang berkacamata sering dianggap orang yang cerdas, kan, Pak? He-he-he.

Pak, Immanuel sering merasa kehilangan Bapak kalau tengah depresi begini. Kenapa ya Tuhan memanggil Bapak? Immanuel masih ingin terus mendengar ceramah-ceramah Bapak, yang selalu menguatkan Immanuel.

Pak Yohanes...

Immanuel selalu mengingat segala ajaran, didikan, dan petuah Bapak. Terimakasih untuk itu semua, Pak Yohanes Anin.

13 comments:

  1. Saya jg punya guru ngaji, bkn privat tp ya memang slalu terkenang meski sdh tiada

    ReplyDelete
  2. Aku juga ada bang orang yang ku hormati (selain orang tua), tapi berhubung dia masih hidup, jadi ntar-ntar aja deh mengenang kebaikannya hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, kayaknya hampir tiap orang punya sosok-sosok kayak gitu...

      Delete
  3. Duh, sedih gue, Bro.... :'(

    Btw, nge-beman itu apaan sih?

    ReplyDelete
  4. Duh sedih, dia mau kacamata ya :( Semoga pak yohanes tenang di atas sana, gak kebayang baiknya beliau sampe lo tulis dia hadiah seperti ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penyakit orangtua soalnya, hehe. Yup emang baik banget, sabar!

      Delete
  5. Nampaknya pak Yohanes ini sangat dekat sama kamu ya nuel?

    Are you ok my nephew?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baik-baik aja kok, auntie. Totally fine. ^_^

      Lagi ternostalgia aja.

      Delete
  6. delinkuensi itu apaan bro?
    memang apa yang ditanem pas kecil itu bakalan nancep terus sampe dewasa, bener tuh pake kata 'pondasi'

    btw baru pertama mampir nih. salam kenal.

    ReplyDelete
  7. Semoga beliau tenang di sisi-Nya yah.. :(

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^