Sunday, January 18, 2015

Warung Bakso yang DEP SEDEP






DEP SEDEP. Sudah lama sekali aku tak membaca dua kata spesial ini di Immanuel's Notes. Sebuah jargon yang sebisa mungkin kukeluarkan tiap menulis artikel-artikel yang sedap-sedap. Dua buah kata pula yang terinspirasi dari seorang blogger asal Jogja nan kurus -- yang sudah menikah Mei 2013 -- bernama Yoga Pratama, alias Gaphe, sang empunya http://gaphebercerita.blogspot.com

Kalau kalian nge-blog sudah cukup lama, pasti kenal dengan si Gaphe itu. Blogger yang hobi makan tapi ndak gemuk-gemuk itu pencetus jargon 'yumilah yumiwati'. Yumilah yumiwati itu kurang lebih sama dengan mak nyus-nya Bondan Winarno. Sama pula dengan DEP SEDEP, sebuah kata untuk mengatakan sebuah sajian kuliner itu luar biasa menggairahkan -- secara selera. 

Terserah sih, ada yang bilang aku ini imitator Mas Gaphe. Sabodo teuing. Aku ora popo kalian mau bilang aku ini tukang tiru. Yang jelas, aku membuat jargon DEP SEDEP itu demi satu tujuan. Biar nggak sekedar ikut-ikutan yang lain. Sudah terlalu mainstream, tiap mau bilang enak ke makanan tertentu, kita berujar, "Mak nyuuus..." Basi ah. Aku tak mau seperti itu. Aku ingin blog Immanuel's Notes punya ciri khas yang begitu nendang. Begitu. 

Nah, bicara soal DEP SEDEP-nya makanan, pernahkah kalian mengudap jajanan kaki lima? Pernahkah kalian menemukan sebuah jajanan kaki lima yang rasanya itu unik dan berbeda dari saingannya? Contoh: mi ayam yang ada di Senayan itu rasanya lebih enak daripada yang di RSCM. Atau, siomay yang ada di Monas itu rasanya lebih legit daripada yang di Blok M. 

Kalau kalian balik bertanya, jawabku, "Ya,"

Sampai sekarang, aku masih merasa ketoprak yang dijual di kantin Polda itu masih yang terenak yang pernah kutemukan. Bayangkan lumuran sambal kacangnya yang mubazir, belum lagi ada telur rebusnya, dan kerupuknya yang bikin kenikmatan makannya jadi semakin DEP SEDEP. Sampai sekarang belum menemukan ketoprak yang bisa menyamai ketoprak yang dijual di kantin Polda itu.

Selain ketoprak, aku juga merasakan hal yang sama untuk jajanan kaki lima lainnya. Yaitu bakso. Bakso Jono yang terletak di samping persis sekolah Strada Jalan Daan Mogot masih tetap yang terbaik. Sekarang pun, walau sering makan bakso (maklum fan nomor satu si bakso :p ), belum menemukan yang seenak Bakso Jono.

Yah setidaknya sampai aku menemukan sebuah warung bakso yang berada di bilangan perumahan elit Kota Modern.













Letaknya cukup bisa diakses bagi kalian yang tertarik, yang kebetulan berdomisili di kota Tangerang. Kalian tahu mal Metropolis kan? Nah warung bakso Mas Kumis yang asli Wonosobo ini berada tak jauh dari mal tersebut. Hanya beberapa langkah dari kolam renang Tirta Mas. Dari pintu masuk Kota Modern, kalian lurus saja hingga berada di sebuah pertigaan. Langsung saja belok kanan, lalu belok kanan,... ta---ra, kalian sudah sampai.

Berbeda dengan kebanyakan warung bakso lainnya, warung bakso yang kali pertama kukunjungi Agustus 2013 silam ini sungguh luar biasa kebersihannya. Nyaman, deh, nge-bakso di warung bakso. Meskipun tanpa AC atau kipas angin, kayaknya sih kurang begitu bisa menjadi nilai minusnya. Sebab lingkungan sekitarnya memang adem ayem. Masih banyak pepohonan rindang. Belum lagi tak jauh dari Tirta Mas, ada sebuah situ (baca: danau buatan alias waduk). Kapan lagi coba nge-bakso di sebuah lingkungan yang masih terlihat begitu asri.

Soal harga, jangan ditanya. Yah harga kaki lima kebanyakan dong. Masih berada di bawah Rp20.000. Seporsi bakso itu, terakhir kali makan, aku harus merogoh kocek sebesar Rp13.000. Masih murah meriah-lah yaw. Kebangetan jika ada yang bilang harganya itu masih mahal bingit. Tak lempar ke candi Borobudur sampeyan, mau? =D










Soal rasa, aku rasa tak kalah dengan bakso-bakso yang .mungkin dijual di tempat-tempat yang lebih luks. Malah bisa melebihi. Eits, aku bicara seperti ini juga tak lebay kok. Ini FAKTA.

Beuh, baksonya itu memiliki daging yang cukup banyak. Tak kenyal, tak begitu keras juga. Pas di mulut. Nendang pas makannya deh. DEP SEDEP banget. Aroma kuahnya juga begitu menggugah selera. Sambal yang biasanya menjadi teman makan bakso juga diracik dengan begitu pas. Pedasnya nampol dah. Sejalan dengan keempukan baksonya. Belum lagi dimakan sambil meng-kriuk-kan kerupuknya. Duh-duh-duh,... DEP SEDEEEEEEEP!!!!








Selain menjual bakso, seingatku, mereka juga menjual mi ayam juga. Namun, yah tetap, mereka tetap berdiri di jalur perbaksoan (opo iki?).

Dan, yah memang luar biasa yah, selepas asyik berenang, langsung dilanjutkan dengan menyantap baksonya itu. Apalagi jikalau kalian memesan menu bakso yang tidak ada soun dan mi kuningnya. GILA, DEP SEDEP BANGET ITU MAH!!! Terus diakhiri dengan sebotol teh atau minuman lainnya. Unimagineable taste, guys!

Bisa dibilang, bakso Mas Kumis yang asli Wonosobo ini tak kalah DEP SEDEP dengan Baso Jono yang sudah begitu melegenda di seantero Tangerang. Nggak tahu juga yah, kalau suatu saat nanti aku menemukan warung-warung bakso lainnya yang ke-DEP SEDEP-annya itu tak pula kalah dengan warung bakso Mas Kumis ini. But, for sure, kalau kalian melewati Kota Modern, terutama di mal Metropolis, tak ada salahnya mampir di warung bakso Mas Kumis yang asli Wonosobo.Wajib malah!

Lokasinya itu, ingat yah, berada dekat kolam renang Tirta Mas, yang bernuansa serba biru muda, yang begitu terlihat mencolok dari luar Kota Modern. Kolam renangnya itu berada persis di dekat situ-nya.

Mampir yah, Kakak-Kakak sekalian! He-he-he! =D

Kalau dipaksa kasih nilai, ini dia penilaianku,

RASA: 90 / 100
KEBERSIHAN: 90 / 100
HARGA: 100 / 100
LOKASI: 100 / 100

Saksikan terus artikel-artikel kuliner lainnya di Immanuel's Notes. Bye-bye!



Dengan ini lolos inspeksi dari Profesor Kuliner Nuel,

19 comments:

  1. Harusnya ada tulisan "warning! postingan ini mengandung unsur makanan. kelaparan yang terjadi pada pembaca bukan tanggung jawab penulis". Gitu. Kan laper nih bacanya :(

    Kalau di Padang sepengetahuan lidah aku baru bubur ayam pasar Simpang Haru sama bakso keliling Mas Yono yang suka keliling di dekat rumah nenek aku yang rasanya enak, yang lain kalah :)))

    Btw, aku sekampus sama bang Aul, tapi beda jurusan hehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha....

      O gitu toh. Pantes kelihatannya akrab gitu. Hahaha

      Delete
  2. Kebersihan memang menjadi perhatian utama yah, mas. kalau ngelihat tempatnya bersih, itu seenggaknya lebih melegakan, meski kita belum tahu gimana rasanya. apalagi kalau ternyata dep sedep, hihi. itu porsi mie ayam bakso yah, mas?. wah. ada yang gede pentolnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Sumpah bahasanya rada geli ya, pentol,... Hahaha.... Maaf ya ^_^v

      Delete
  3. jadi keinget kawan ni yang doyan banget sama bakso.
    sampe2 diberi gelar IMA BAKSO....

    ReplyDelete
  4. Dua ribu perak? Mungkin lebih banyak tepungnya yah.. Tapi kalok enak sih ngga masalah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Emang cara bikin kerupuk tuh gimana? :p

      Delete
  5. Bahahahaha.. tos sesama penghuni tangerang!! Bakso Jono dari jaman gue SD sampe sekarang emang gak ada matinya~~ bakso pak kumis jg gue beberapa kali pernah makan. Cuma menurut gue, ada bakso yang lebih endes dari kedua bakso di atas. Namanya Bakso Joss, deket sama prapatan shinta. Must try nuel! Bakso uratnyaaaaa.. beeehh juaraaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ada kesempatan, mampir ah. Hahaha... Thanks...

      Delete
  6. jadi kalau mau makan ketoprak nyengajain ke kantin polda dulu gitu :D
    kalau di semarang, bakso enak tuh namanya bakso mbak Menuk tapi udah ganti nama jadi bakso Mbak karena nama Menuknya ditutupin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Nggak gitu juga sih. Tapi emang yang paling enak di situ. Belum nemu yang lain. Hahaha

      Delete
  7. aih bikin laper postingannya. Duh itu Gaphe sejak nikah belum ada postingannya lagi ya :)

    ReplyDelete
  8. tanggung jawab nuel, langsung pengen bakso ini! Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.... Langsung ke sana aja. Deket kok dari Ciledug. Hahaha

      Delete
  9. Jajanan pinggir jalan emang sesuatu, kadang ada harta karun yg bisa kita temuin.
    Kalau buat mie ayamnya gimana itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah nggak tau. Waktu itu belum coba, maaf. Hehehe

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^