Saturday, January 17, 2015

Nilai-nilai Kemanusian dalam Sebuah Film Slasher, PARASYTE





Ada yang suka hobi menonton film-film bergenre slasher? Terlebih lagi segala slasher yang berasal dari tanah sakura. Kalau iya, terbiasa sama scene ini dong.







Aku memang belum pernah menonton slasher versi Amerika. Namun slasher-slasher Jepang, sudah terbiasa menyaksikannya. Insan perfilman sana begitu intensnya mempertunjukan ke penonton suatu scene dimana ada tubuh manusia tampak setengah. Tak terkesan main-main. Sungguh digarap serius dan penuh keartistikan. 

Nah Januari ini, ada sebuah slasher keren yang dihasilkan Jepang, yang baru saja diputar bioskop di Indonesia. Diangkat dari komik. Yup, sebuah live-action. Konon, dari poster filmnya, film bergenre slasher ini diangkat dari sebuah manga yang cukup populer. Mungkin populer untuk di sana kali yah. Honestly, aku belum pernah dengar manga berjudul "Parasyte" sebelumnya. 

Tapi setelah riset sana-sini, memang benar adanya. "Parasyte" diangkat dari komik berjudul "Kiseiju" yang berakhir di tahun 1995. Mengingat betapa sadisnya live-action, aku menengarai "Kiseiju" sempat dilarang beredar di Indonesia. Masih ingat kan, serial anime "Saint Seiya" yang sempat berhenti tayang karena banyaknya adegan sadis yang tak layak ditonton anak-anak. 






"Parasyte" ini menceritakan mengenai suatu kehebohan yang menimpa Jepang, khususnya Tokyo. Kota berhasil disusupi oleh sejumlah parasit. Mereka hinggap di tubuh salah seorang manusia, lalu menguasai otak yang bersangkutan, dan.... blaast, manusia itu terlahir kembali. Berubah menjadi makhluk baru dengan identitas baru, yang memiliki jiwa kanibal. 

Tokoh utama kita, Shinichi Izumi, juga mengalami hal yang sama. Beruntung cowok SMA ini hanya terjangkiti sampai tangan kanannya saja. Si parasit gagal mencapai otak. Mau tak mau hanya bisa menggerakan bagian tangan kanan itu saja; dan hidup sebagai makhluk aneh nan lucu yang bernama Migi.

For your information, migi berasal dari kosakata Jepang yang berarti kanan.  







Suatu hal yang lumrah apabila Shinichi terkaget-kaget melihat tangan kanannya hidup dan bergerak-gerak sendiri. Reaksi yang alami. Cowok ini sempat kikuk melihat tangannya itu jadi lebih pintar daripada dirinya. Yah awalnya memang seperti itu. Lambat laun, Shinichi mulai terbiasa

Saking terbiasanya, terlebih setelah ibunya tewas, hidup Shinichi mulai berubah. Teman ceweknya yang bernama Satomi Murano, menyadari hal tersebut. Shinichi jadi semakin aneh, tertutup, dan perangainya sedikit berubah. Satomi merasa Shinichi tak sehumanis yang dulu. 

Hingga, seiring waktu mengalir, Satomi mulai menemukan jawabannya. Adalah kejadian di ruang seni yang menjadi kausanya. Salah seorang parasit bernama Hideo Shimada, mengamuk dan membinasakan beberapa murid SMA. Di sini Satomi turut menjadi korban, yang pada akhirnya berhasil diselamatkan Shinichi. Sejak kejadian itu pula, Shinichi seolah menemukan tujuan hidupnya. Ia bertekad untuk memberantas habis para parasit tersebut. 

Eits, itu bukan ending lho yah. Film ini terbagi pula dalam dua bagian. Heran deh, kenapa harus dipotong menjadi dua bagian. Kenapa tak dibikin saja menjadi film yang berdurasi tiga jam. 

Nevertheless, to be honest, I'm still satisfied. Totally pretty. Guys, ini film memang keren sekali. Plot oke, efek pun oke. Akting pemain juga nyaris tanpa cacat. Tak sekadar mengumbar soal sadisme, film ini juga memiliki moral juga. Sang sutradara, Takashi Yamazaki ingin mengajarkan kita soal nilai kemanusiaan. Ada dialog yang nampol banget. Kurang lebih seperti ini, Migi berujar ke Shinichi: "Sampai sekarang aku masih bingung sama pola pikir manusia. Kenapa suka sekali mengorbankan dirinya untuk sesamanya?"

Migi yang berasal dari spesies yang kerjaannya hanya saling memangsa sesamanya, dipaksa harus menerima fenomena baru. Itu soal kebaikan hati umat manusia yang seringkali tak ada logika sama sekali. Shinichi pun sama. Ia terbengong-bengong mengapa Migi, dkk itu hobi sekali hidup dalam perilaku kanibal. Lambat laun, baik Migi maupun Shinichi, sama-sama saling belajar soal nilai-nilai kehidupan. Migi pula berubah menjadi rekan Shinichi dalam menumpas para parasit. 

Tak lupa pula, ada adegan yang meluluhkan hati. Itu sewaktu Shinichi pulang bareng Satomi, lalu mereka menemukan mayat anjing. Shinichi sekonyong-konyong membuangnya ke tong sampah, yang mana Satomi kemudian protes keras. Dengan enteng Shinichi menjawab, "Itu kan hanya sebongkah daging berbentuk anjing,"

Beuh...

Oke, opini tiap orang pasti berbeda-beda dalam hal menyikapi scene demi scene yang menyentuh di sebuah film. Tapi jikalau kalian menonton dari awal, apa yang kusampaikan ini ada benarnya. Mungkin adegan Shinichi dan Satomi itu sungguh menyentil kita semua yang seringkali mulai mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan demi beberapa hal. Mungkin itu soal harta ataupun kekuasaan. 

Belum lagi adegan dimana Shinichi melawan ibunya sendiri yang sudah dirasuki parasit. Aku sungguh merasakan dilema seorang Shinichi yang agak berat melawannya. Padahal ia harus menumpas parasit itu demi sebuah misi yang lebih penting lagi, ketimbang persoalan ibunya yang sebetulnya sudah lama tewas oleh parasit. 

Di luar soal beberapa pesan humanisme, bagi kalian penggemar film-film yang mengandalkan efek spesial, "Parasyte" ini tak terlalu mengecewakan. Berani jamin, kalian akan puas menontonnya. Puas deh, melihat beberapa adegan sadis. Ada adegan manusia ditebas hingga terpotong menjadi dua bagian. Atau bagian dimana parasit melahap hidup-hidup seorang manusia. Atau bisa juga saat seorang parasit yang sudah berbentuk manusia, tengah menyantap potongan-potongan daging manusia. Gamblang dipertunjukan. Dan, untuk ukuranku, tak terlihat cela efek spesial dan make-up-nya tersebut. Perfecto.

Inti dari artikel ini, bagi kalian penikmat slasher, bagi kalian penikmat film sadis, bagi kalian penikmat film yang mengandalkan efek spesial, bagi kalian yang hobi film-film Jepang, "Parasyte" ini amat sayang dilewatkan. 



RATE: 90 / 100


Genre: Misteri, Live-action, Slasher, Thriller
Sutradara: Takashi Yamazaki
Pemain: Shota Sometani, Ai Hashimoto, Eri Fukatsu, Sadao Abe, Masahiro Higashide,...
Durasi: 109 menit (untuk yang part 1)
Tanggal keluar: 29 November 2014 (untuk yang part 1)
Bahasa: Jepang
Subtitle: Indonesia dan Inggris. 






* Sumber gambar merupakan hasil capture. 

7 comments:

  1. Nuel, aku mau nonton dongs.. Kamu donlot di mana? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nonton di bioskop blitz, yang ada di tempatku. Klo versi download atau streaming, belum nemu. Kayaknya belum ada juga. Hehe. Maaf

      Delete
    2. Yah.. Kalok di Blitz mah di 21 ngga ada biasanya.. :(

      Delete
  2. Wah keren nih film nya...
    Patut di tonton nih

    ReplyDelete
  3. Jepang nggak pernah ada matinya ya ide-ide dan imajinasi untuk selalu bikin karyanya. :|

    ReplyDelete
  4. harus gitu, darah-darah fotonya :|

    btw, novel The Great Gatsby aku belinya di bazaar buku gramedia :D

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^