Monday, January 5, 2015

Dilema Berbuat Baik



Baru saja pulang dari suatu tempat (untuk mengurus beberapa hal), tepat hendak membuka pagar, aku dihampiri oleh dua orang. Seorang ibu paruh baya dan (mungkin) anaknya yang sepertinya masih berusia SD.

Awalnya si ibu meminta sedekah kepada aku, berupa beberapa butir nasi. Ummph, it doesn't matter at all. Tapi masalahnya bukan di situ saja. Masalahnya mulai muncul saat aku menuju dapur, dan ternyata tak ada nasi yang layak untuk disedekahkan begitu saja. Aku sekonyong-konyong keluar dan beringsut pada si ibu dan anak itu lagi. Bilang jujur apa adanya ke dia. Bla-bla-bla.

Aku kira, si ibu bisa menerima dan... berlalu begitu saja. Ternyata tidak. Si ibu beralih ke topik -- atau mungkin cara lain. Si ibu menawarkan padaku sebuah barang yang dia coba jual. Sendal. Ya aku mulanya tak keberatan. Apalagi pas dia bilang, buat biaya makan anaknya yang belum makan beberapa hari. Sungguh tak keberatan. Yang jadi masalah itu... sumpah, sendalnya itu....

...sendal yang ditawarkan benar-benar bikin aku dilema mampus. Bingung antara beli atau tidak. Sendalnya itu dibungkus dengan kertas koran. Terlihat seperti sendal mahal. Tampak jelas logo sebuah perusahaan olahraga asal Jerman. Alas sendal itu terlihat begitu berdebu. Kotornya!

Bagaimana tak dilema melihat sepasang sendal dengan penampilan seperti itu? Sepintas muncul keraguan. Takut-takut mau beli gitu. Aku takut, jangan-jangan sendalnya itu hasil curian. Nggak lebay dong, kalau aku ragu buat beli. Masalahnya, sekarang kejahatan makin merajalela. Banyak kasus pencurian motor, yang motor curiannya untuk dijual kembali. Aku takut, andaikata jadi beli, malah disangka sebagai penadah. Berhubung gelarku itu sarjana hukum (yang murtad), aku tahu pasti penadah itu bisa dipidana. Siapa yang mau dibui? Ogah-lah yaaaaw....

Lain cerita, kalau sendalnya terlihat bersih dan terbungkus plastik. Mungkin aku mau beli. Jangankan sendal, dulu ada orang buta yang berjualan keripik pun, aku mau beli. Bukan bermaksud sombong atau biar dianggap, tapi aku termasuk tipe orang yang tak segan keluar duit demi suatu hal yang bersifat charity. Itu juga selama tak ada halangan yah.

Kembali ke soal si ibu dan anaknya.

Lalu aku langsung putar otak bagaimana cara menolaknya. Jujur aku termasuk jenis orang yang rada susah menolak sesuatu. Tapi tipe orang yang punya segudang alasan buat menghindar (yang tentunya harus semedi tujuh hari, tujuh malam di goa kapuk).

Yatta! Ketemu alasannya. Jujur saja bilang, aku bla-bla-bla... yang jelas soal finansial. He-he-he. Si ibu terus mendesak. Kutolak lagi. Setelah cukup lama, ada kali menghabiskan waktu sepuluh menit, si ibu dan anaknya pergi. You know, si ibu menggerutu. Yang kuingat, dia mendumel seperti ini: "Dasar orang kaya! Saya sumpahin nggak dapet rejeki!" Anaknya pun menimpali: "Orang kaya emang gitu ya, Bu?!"

Errrr...

Awalnya aku cuek. Namun beberapa menit kemudian, timbul perasaan tak enak. Terburu-buru keluar rumah lagi untuk mencari si ibu dan anak itu. Niatnya mau beli sendal tersebut. Sekalian mau mengetes juga.

Oh iya, si ibu dan si anak itu pernah ketahuan sama aku -- mereka sedang melakukan aksi serupa beberapa hari lalu. Berlagak menjual sendal demi sesuap nasi. Aku curiga, mungkin si ibu ini memiliki niat jelek. Bisa saja dia mencuri sendal, lalu sok dijual lagi ke orang lagi. Bukannya suudzon, tapi lagi-lagi sendalnya itu dibungkus koran dan penampilannya sama. Seperti sendal mahal tapi bekas. Tak salah dong, aku mengetesnya?!

Aku sengaja mengetes seperti itu. Pengin lihat, setelah kubeli sendal itu, dia dan anaknya masih berkeliaran atau tidak. Begitu skenarioku.

Tapi apa daya. Aku tak kunjung berjumpa kembali dengan ibu dan anak tersebut. Oke, mungkin mereka betulan penipu. Tak heran, aku tak diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bertemu lagi. Masa cuma ditinggal beberapa menit, langsung cepat menghilang? Padahal sudah keliling-keliling beberapa ruas jalan.

Omong-omong, tulisan ini tak sedang mengajak kalian untuk berpikiran negatif. Tidak sama sekali. Aku sekadar sharing semata. Sekaligus mengajak kalian untuk tidak naif. Kadang, aku baru sadar, berdewasa dalam berbuat baik itu perlu. Apalagi jaman sekarang, orang jahat semakin banyak. Sulit dibedakan mana orang jahat, mana orang baik.

Tulisan ini sekaligus menjadi counter-attack untuk tulisanku terdahulu:. superhero sesungguhnya . Baru sadar, tulisan itu terkesan naif sekali. Berbuat baik tak semudah itu dilakukan. Tak gampang untuk mematikan otak kiri kita selama melakukan suatu kebaikan. Malah, terkadang berbuat baik, terlebih saat hendak melakukannya, bisa jadi suatu dilema sendiri. Sama yang seperti baru saja kualami. Dilema, mau menolong atau tidak.

Aku yakin, Albert Schweitzer, Bunda Theresa atau Florence Nightingale pasti juga merasakan kegalauan yang sama dalam menjalankan perbuatan mulianya. Jaman mereka juga tak jauh beda. Sama-sama banyak orang jahat. Sama-sama sulit menemukan orang yang benar-benar butuh bantuan. Pasti pernah juga mengalami perasaan takut dimanfaatkan.

Aku rasa, bukan suatu pemandangan langka, fenomena 'dikasih hati, minta jantung'. Ditolong sekali, dibantu sekali, disubsidi sekali, malah terus-menerus hidup dalam naungan belas kasihan orang lain. Golongan bernama pengemis itu terlahir dari fenomena tersebut. Karena dilihatnya mengemis itu bisa bikin kaya secara cepat, akhirnya malah jadi suatu profesi; bukan jadi suatu kondisi keterpaksaan. Itu jamak terjadi di kota-kota besar akhir-akhir ini.

Belum lagi, ada seseorang yang hobi memanfaatkan kebaikan orang lain demi keuntungan pribadi. Tipe oportunis. Yah kalau oportunisnya tak begitu membahayakan. Kalau sampai menjurus ke arah kriminal?

Hmmm...

Benar-benar deh, berbuat baik di jaman sekarang ini begitu susah dilakukan. Jadi dilema banget.

#NowPlaying Selena Gomez - My Dilemma.