Sunday, January 25, 2015

ANOTHER FICTION: Rahayu







AARRGHH!!!

Nuel mendengus hebat. Mata nyalangnya tertuju pada sosok yang berada di atas meja. Sosok itu asyik saja duduk-duduk manis sembari menyimpulkan senyuman manis. Kadang sosok itu juga menggodainya. Bibir kecil itu sesekali dimonyong-monyongi. Seksi? Mungkin kalian bisa berpikiran seperti itu.

Tapi tidak dengan Nuel. Ia tak terpancing untuk berbuat lebih. Bukan, bukan karena ia bosan. Ia sama sekali tak bosan untuk mencium bibir tipis tersebut. Demi merasakan kenikmatan bibir itu, berjuta-juta kali ia  siap melakukannya. Entah kenapa, walau si sosok merupakan pengalaman pertama, bagi lelaki itu bibir si sosok merupakan yang terbaik dari segala perempuan yang pernah ditemui. 

"Kakanda," ujar Rahayu masih dengan bibir monyong. "Cium dulu dong. Aku malas bilang ke Kakanda kalau masih dalam ukuran kecil seperti ini."

"Stop deh panggil gue dengan sebutan kakanda. Geli banget gue dengarnya. Kita kan juga bukan suami-istri. Gue masih remaja pula. Dan kalau emang harus nikah, gue penginnya nikah sama cewek normal. Lu kan nggak normal. Mana ada cewek normal yang kadang bisa membesar, kadang bisa mengecil." semprot Nuel dengan rahang menegang. 

Rahayu merajuk. Hilang sudah senyuman manis itu. "Kakanda kenapa sih? Memang Rahayu salah apa?"

Nuel mendesah. 

Salah? Memang lu pusat kesalahannya. Lu penyebab semua ini. Sejak lu datang ke kehidupan gue, hidup gue serasa aneh. Gue serasa hidup di dunia khayal. 

Hanya dalam pikiran, Nuel merasa tentram. Meskipun kehadiran Rahayu termasuk fenomena gaib, beruntung perempuan dengan mata nyaris segaris tiap tersenyum itu tak memiliki kemampuan gaib juga. Perempuan itu sama sekali tak dapat menembus masuk ke dalam pikiran Nuel. 

Nuel mendesah lagi. Ditatapnya Rahayu. Perempuan itu sibuk berusaha menuju pelukan lelaki tersebut. Lelaki itu, mungkin karena atau apalah, bangkit berdiri dan meraih Rahayu yang mungil; lalu mendudukan perempuan berambut panjang itu di atas tempat tidurnya. 

Dasar Rahayu! Perempuan itu masih tetap terlihat hiperaktif. Selalu. Setidaknya selama lima hari terakhir ini. Perempuan itu kini tengah mencoba naik ke pundak Nuel. Nuel tahu isi pikiran si perempuan itu. Pasti Rahayu ingin sebuah kecupan. 

Lagian perempuan ini aneh (Atau memang semua perempuan seperti itu?). Bukannya pas awal pertemuan, Rahayu selalu memasang judes. Rahayu selalu menyesali kenapa harus seperti itu bunyi kutukannya. 

"Kutukan yang menyebalkan. Kenapa untuk bisa terbebas dari bentuk boneka ini, aku harus dicium sama lelaki seperti Kakanda?" begitu tukas Rahayu yang masih teringat jelas di pikiran Nuel. 

Ah mungkin Rahayu mendadak jadi cinta sama dirinya. Bukankah perempuan itu sudah hidup bersama selama dua bulan? Membayangkan dirinya tengah disukai oleh seorang gadis yang cukup jelita, membuat hidung Nuel melebar selebar-lebarnya. 

Rahayu terkikik sewaktu menangkap cengiran yang muncul di bibir Nuel. Perempuan itu jadi lupa dengan niat awalnya. Apalagi kalau bukan soal kecupan itu. Nuel pun sama. Hilang sudah kekesalan itu. Kini, baik Nuel dan Rahayu bersitatap layaknya sepasang kekasih. 

"Kakanda sudah tidak kesal lagi dengan aku kan?" ujar Rahayu cemberut manja. 

"Rahayu, Rahayu," desahan Nuel mungkin terasa di tubuh Rahayu yang masih mungil. "Sing ayu kamu ini."

"Matur nuwun, Kakanda." kata Rahayu tersenyum lebar dan terbinar-binar matanya. "Jadi, aku boleh cium Kakanda? Boleh yah?" Sedikit lagi Rahayu akan menyentuh bibir lelaki itu.

Nuel kembali melotot. Diangkatnya tubuh mungil itu lagi, lalu dikembalikan ke atas meja. Dengan galaknya, ia berkata, "Udah lu duduk di situ aja. Dan nggak ada cium-ciuman untuk malam ini. Lu tahu sendiri kan, Papa sama Mama mencurigai gue yang bukan-bukan sekarang ini. Mereka kira gue mengkhianati kepercayaan mereka dengan memasukan seorang gadis diam-diam ke dalam rumah tanpa sepengetahuan mereka."

 Rahayu cemberut. 

"Kalau lu cium gue, ntar lu malah jadi semakin besar lagi, dan gawat kalau Papa, Mama, atau siapapun itu mendadak lewat kamar gue dan dengar suara lu." sahut Nuel dengar suara yang sebetulnya tak bisa dibilang kecil sebetulnya. "Dan kalau lu kecil gini kan -- "

"Nuel," Terdengar suara di balik pintu kamar. Mama. "Kamu belum tidur? Kamu lagi bicara sama siapa di dalam?"

Nuel mengertakan gigi. Lelaki itu memberikan kode kepada Rahayu untuk tidak berbicara sedikit pun. Walau masih bertubuh mungil, tetap saja bahaya juga jika Rahayu mengeluarkan sepatah kata. 

"I-i-i-iya, Ma,..." kata Nuel panik. "I-i-i-ini aku lagi nelepon temen. Lagi ngobrolin soal tugas."

"Oh gitu," kata Mama untuk kali terakhir. Mungkin memang benar-benar untuk kali terakhir. Sebab lima belas menit menunggu, Nuel sama sekali tak mendengar suara-suara mencurigakan. Ada gunanya memang memiliki kamar di lantai dua dan letaknya... yah bisa dibilang di pojok. 

Semenjak minggu lalu, sekeluarga mengembuskan isu itu ke wajah Nuel. Mulanya Mama yang mencurigai Nuel sudah menyelundupkan seorang gadis. Katanya, Mama mendengar suara seorang gadis sewaktu melewati kamar Nuel yang dekat dengan gudang. Suara itu tak bisa dibilang kecil, namun pun tak dapat dibilang besar. Yah setidaknya suara itu tak cukup besar untuk terdengar hingga ruang tengah di lantai dasar. 

Tak hanya Mama, adik-adik Nuel juga berfirasat yang sama. Apalagi adik tertua, Chrissela. Dia pernah memergoki abangnya itu tengah dipepet mesra oleh seorang perempuan dengan perpaduan kecantikan khas Jawa dan Oriental di sebuah mal. Mbak Yati, pembantu rumah tangga di rumah mereka pun sering mengamati Nuel yang cukup sering membawa barang belanjaan dalam ukuran yang cukup banyak. Tak seperti Nuel yang biasanya. Lelaki itu kan sebelumnya tak pernah hobi berbelanja sampai lima-enam kantong plastik belanja. 

Nuel menghela napas lega. Kembali ia menatap Rahayu dengan perasaan kebas. Rada takut juga dirinya untuk kembali melanjutkan obrolan. Jam memang sudah hampir menunjukan pukul dua belas malam. Tapi tetap saja sedikit riskan. Apalagi, ah ia baru ingat, adiknya yang lain -- si Titus -- suka masuk ke dalam kamar mandi menjelang tengah malam. Memang adiknya yang cukup gendut itu masuk dalam keadaan setengah sadar. Namun tetap saja kan, bisa saja Titus mendengar suara lembut Rahayu. 

"Entah sampai kapan lu hidup terus bareng gue?" keluh Nuel yang benar-benar terlihat frustasi. "Moga aja Melati cepet menemukan informasi soal keberadaan bunga anggrek tebu berwarna merah jambu itu."

*****

Hanya satu orang yang tahu soal Rahayu. Itu Melati, gadis berambut pendek dengan tubuh separuh badan Nuel, yang merupakan teman masa kecil dan tinggal di komplek perumahan yang sama; hanya saja Melati berbeda blok dengan Nuel. 

Nuel dan Melati memang terlihat akrab. Namun sepertinya belum ada tanda-tanda munculnya cinta di tengah-tengah mereka. Nuel selalu beranggapan bahwa Melati itu merupakan teman belajar yang menyenangkan. Penjelasan perempuan itu selalu lebih mudah dicerna ketimbang guru-guru di sekolah. Pun Melati merupakan satu-satunya orang dimana lelaki itu merasa begitu tenangnya melampiaskan uneg-uneg. 

Itu dari sudut pandang Nuel. Bagi Melati... hingga detik ini, perempuan itu...

Perempuan itu sekarang tengah berada di kamarnya. Ya iyalah, berada di kamar. Sekarang kan hampir menjelang tengah malam. Melati juga masih kelas sebelas. Melati memang bebas mengakses internet kapan pun. Namun kedua orang tuanya tak begitu menyukai jika Melati keluyuran -- apalagi di jam-jam seperti ini.

Melati memang masih sibuk berada di depan komputer. Ia masih terus mencari informasi selengkapnya soal  bunga anggrek tebu berwarna merah jambu. Bunga anggrek tebu saja sudah termasuk langka di Indonesia. Apalagi yang berwarna merah jambu. Kira-kira dimana ia bisa menemukannya? 

Spontan perempuan itu terkekeh. Lucu juga. Baru kali ia mengalami yang seperti ini. Ia kira kisah seperti ini hanya dapat ditemukan di buku-buku ceritera untuk kanak-kanak. Ternyata ia -- atau tepatnya kawannya -- malah mengalaminya langsung. Segalanya itu bermula saat...

Ia dan Nuel -- bersama-sama rombongan kelas sebelas -- tengah mengikuti study tour. Kelas mereka, yaitu kelas 11B, kebagian mengunjungi anjungan Jawa Tengah saat tiba kali pertama di Taman Mini. Padahal guru-guru maupun karyawan-karyawati yang bekerja di sana sudah mewanti-wanti untuk tidak sembarangan menyentuh benda apapun yang berada di dalam anjungan. Namun namanya juga darah muda. Tanpa sepengetahuan siapapun, hanya mereka berdua, Nuel iseng menyentuh sebuah boneka yang cukup antik. Boneka itu memang terbuat dari keramik, tapi tak terlalu berat untuk ditenteng. Boneka itu berwujud seorang gadis muda dengan mengenakan pakaian khas Jawa. 

Oh tidak, pakaian itu bukan berupa kebaya. Boneka gadis itu mengenakan kemban untuk tubuh bagian atas. Sementara bagian bawahnya tertutupi oleh semacam kain lurik. Ada tiara di jidat si boneka. Boneka itu terlihat seperti sesosok Srikandi di mata Nuel. Mungkin karena alasan itulah lelaki itu jadi menimang boneka itu, lalu di luar kendali malah mengecup bibir si boneka. 

Boneka itu bertransformasi. Persis dilakukan saat benar-benar hanya tinggal dirinya dan Nuel saja (Entah sedang apa karyawan-karyawati itu semua? Kenapa pekerja Indonesia itu suka sekali makan gaji buta sih?). Nuel kaget. Melati pun sama. Siapa sangka, saat itu, di hadapan mereka berdua tampaklah seorang gadis muda nan jelita yang seusia mereka. Tergesa-gesa mereka berdua membawa lari si gadis ke tempat yang cukup sepi. Di tempat yang sepi, gadis itu mengaku bernama Rahayu, yang merupakan anak bungsu seorang patih di era terbentuknya kerajaaan Singosari. 

Rahayu bertutur bahwa dirinya dikutuk oleh seorang empu yang memiliki dendam kesumat kepada ayahnya. Sang empu begitu geramnya dengan kearoganan sikap sang patih yang sungguh dilewat batas. Karena itulah, saat Rahayu datang berkunjung untuk mengambil pesanan keris, sang empu langsung saja melancarkan aksi balas dendam. Tanpa ada kecurigaan sama sekali, Rahayu main minum begitu saja minuman yang disodorkan. Minuman itulah yang membuat Rahayu menjelma menjadi sosok boneka porselen yang entah mengapa sekarang ini Rahayu juga bisa menjelma menjadi boneka ala abad 21. 

Tapi tetap saja Rahayu jengah dengan bentuk fisiknya. Perempuan itu berulang kali minta tolong kepada dirinya dan Nuel untuk mencarikannya bunga anggrek tebu warna merah jambu. Menurut pengakuan si empu (walau jadi boneka, segala indra Rahayu masih tetap bekerja), Rahayu bakal terbebas dari kutukan kalau lelaki berwajah buruk rupa yang membebaskannya dari kutukan bisa mengoleskan putik dari bunga itu ke kedua pipi Rahayu. 

Iya, tapi mau dicari dimana bunga itu? Bunga anggrek tebu saja sudah merupakan bunga langka di Indonesia. Apalagi yang berwarna merah jambu. Lagian, Melati menengarai bahwa jikalau berhasil menemukan, pasti tak akan mudah untuk memetiknya lalu diolesi ke kedua pipi Rahayu. Ingat, harus bagian putiknya yang diolesi ke pipi Rahayu. 

Semangat, semangat, semangat, -- Melati menyemangati dirinya sendiri untuk aktif mencari informasi. Tapi...

Melati melirik jam yang ada di layar. Sudah jam dua belas. Besok harus sekolah kan. Mending ia meneruskan pencariannya besok saja. Kalau diteruskan, bisa-bisa ia tak dalam kondisi fit untuk pergi ke sekolah. Pencarian dihentikan untuk sementara. 

Ia beranjak menuju tempat tidur dan merebahkan diri. Seraya menatap langit-langit, ada secuil perasaan aneh yang muncul. Tiba-tiba ia merasa tak tenang jika Rahayu terus hidup sekamar dan serumah dengan Nuel. Jujur saja, mungkin ia bisa merasakan kegelisahan Nuel, mungkin juga perasaan yang lain, tiap melihat teman lelakinya itu berjalan berdampingan dengan Rahayu, ia tampak begitu senewen. Ia jauh lebih banyak bergeming ketimbang bertutur kata. 

Apa mungkin dirinya tengah...

Nggak-nggak-nggak,... nggak mungkin itu. Daripada mikirin soal itu, lebih baik gue fokus nolongin Nuel. Kasihan juga kan dia harus terus dikuntit sama Rahayu. Apalagi Rahayu juga emang harus terus sama Nuel. Pernah pas tinggal di rumah gue, gadis itu mendadak jadi boneka lagi -- tanpa bisa jadi manusia. Cuma Nuel dan bunga anggrek itu solusi dari masalah Rahayu. 

*****

Aaaargh!! Edan nih cewek. Demen banget sih ciumin bibir gue -- desis Nuel kesal. 

Sekarang Rahayu kembali ke ukuran normal. Ukuran normal seorang perempuan Jawa kebanyakan. Sama seperti Melati, tapi agak pendek beberapa senti. Perempuan bergelayutan di dada Nuel dengan wajahnya yang begitu dekat dari wajah Nuel. Perempuan itu tersenyum aduhai. Itu membikin Nuel makin berdebar-debar. Kalau ini bukan cinta, lantas apa namanya? 

Nuel meneguk air liur. Terengah-engah ia berujar, "Rahayu, please dong, berdiri. Lu itu berat tahu."

"Re---bes, Kakanda!" sahut Rahayu yang menyingkir dari tubuh Nuel. 

Oh iya, Nuel harus akui bahwa Rahayu ini termasuk gadis yang cukup cerdas. Dalam waktu beberapa hari saja, perempuan itu sudah cukup fasih dengan bahasa yang memang berbeda dengan bahasa era kerajaan Singosari. Perempuan itu sudah tahu beberapa istilah, bahkan yang ngetren seperti sekarang ini. Itu lho, istilah cabe-cabean. Atau beberapa kosa kata yang dipopulerkan oleh seorang pelawak ternama Indonesia. Ada cemewew, wakacipuy, sama wakacinongdindong

Gila! Sepertinya Rahayu ini terlahir di jaman yang salah deh. 

"Gue kan udah bilang, berapa hari ini, jangan pernah ciuman dulu, oke?" Nuel mendengus. "Lu itu bisa dikasih tahu nggak sih?"

Rahayu hanya tersenyum sembari menelengkan kepala ke arah kanan.

"Udah deh, nggak usah pasang tampang sok imut. Nggak mempan sama gue." 

"Masa sih nggak mempan, Kakanda?" kata Rahayu yang semakin beringsut setelah Nuel bangkit berdiri. "Kok tadi aku dengar suara-suara yang dag-dig-dug dari dada Kakanda sih?" 

"Jangan ngaco!" sembur Nuel. "Dan mendingan lu balik lagi ke ukuran boneka. Bisa gawat kalau ada yang lihat lu ada di kamar ini."

"Memang Kakanda nggak punya kuncinya?"

"Papa sama Mama nggak pernah kasih kunci kamar gue. Mereka takut, kalau gue dikasih kunci kamar ini, gue bakal berbuat yang aneh-aneh. Takut-lah gue bawa masuk narkoba." 

Rahayu terkekeh. 

"Nggak ada yang lucu." ujar Nuel sebal. "Mending buruan lu balik ke wujud boneka lu. Cepetan!" 

"Nggak ah, aku emoh," ucap Rahayu masih menggelambirkan sebuah senyuman. "Aku lebih suka tidur bareng Kakanda dalam kondisi seperti ini."

"Hah?" Nuel terperanjat. Dahinya mulai mengeluarkan keringat deras. "Jangan gila ye! Nggak baik cowok sama cewek tidur seranjang. Lagian lu kan lahir di jaman kerajaan Hindu-Buddha, bukannya lu harusnya berkelakuan yang sopan santun yah? Mana ada cewek Jawa yang lahir di jaman Singosari punya sikap genit kayak gini."

"Memang salah yah, kalau aku mengikuti tren di jaman ini?" kata Rahayu dengan nada yang benar-benar polos. "Aku juga bosan kali dengan segala sikap kepatuhan perempuan eraku yang tak wajar. Kelewat patuh dengan kaum lelaki."

Nuel mati kutu. Rahayu ada benarnya. Ia tak berhak melarang Rahayu untuk memilih gaya hidup yang diinginkan. Tiap manusia punya kehendak bebas, bukan? Lagipula selama Rahayu tahu betul segala konsekuensinya, kenapa tidak?

"Ya udah, ya udah," kata Nuel menyerah. "Lu tidur di atas, gue yang tidur di lantai. Lagian udah lama juga gue nggak tidur di lantai."

"Kakanda nggak takut masuk angin?" tanya Rahayu sok prihatin, walau memang cemas sih.

Sembari mengambil sebuah guling, Nuel menjawab dengan ketusnya, "Berhenti ye manggil gue kakanda. Panggil aja gue Nuel. Gue nggak enak dengarnya tahu." 






* Cerpen fantasi ini terinspirasi dari sebuah sinetron yang pernah tayang di tahun 2007, "Mini" (https://www.youtube.com/watch?v=1BUc1b7szQw). 

4 comments:

  1. boneka jadi manusia..manusia jadi boneka..sudah banyak dijadikan cerita dan film,,,bahkan sinetron indonesia juga membuat plagiat-nya.....kisah rahayu dan nuel ini seru juga ya....
    keep happy blogging always...salam dari makassar :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, mas. Jadi semangat nulis dan bikin yang lain. Hehehe. ^_^

      Delete
  2. Hahahha... bisa aja... :))

    Rahayu... boneka yg kenes dan menggemaskan.... :D

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^