Saturday, December 27, 2014

Please, Being A Friend to Them!






Beberapa hari yang lalu, di saat malam minggu yang mana banyak orang nyinyir soal bagaimana seharusnya berperilaku yang baik di malam yang katanya anti dinikmati para jomblo, ada sebuah tayangan televisi yang menggelitikku.

Seorang mantan VJ (baca: video jockey) MTV di sebuah acara talk show yang sepertinya didedikasikan untuknya, dirinya kedatangan Kak Seto Mulyadi, mantan ketua dari Komnas Anak. Di acara tersebut, Kak Seto dan beberapa selebritas sepertinya tengah melakukan sebuah kampanye terkait ketidakbersahabatan televisi dengan kaum anak-anak. Selain banyak acara yang tak sepantasnya, mereka juga mengeritisi lagu-lagu pop yang beredar, yang menurut mereka sudah mendewasakan dini anak-anak itu.

Pendewasaan dini yah...

Jujur aku kurang begitu paham dengan istilah pendewasaan dini. Apa yang dimaksud dengan pendewasaan dini? Apa itu artinya suatu kondisi dimana anak-anak sudah mengerti beberapa istilah yang hanya dipahami orang dewasa? Ah, apa itu? Cinta, politik, devaluasi, inflasi, moneter, atau mungkin... seks. Bukankah bagus yah, ada seorang anak yang memiliki usia mental yang jauh lebih tinggi daripada usianya yang sebenarnya? Apa yang salah?

Memang, harus aku akui, agak merinding juga saat mendengar beberapa anak yang sibuk menyanyikan lagu "Sakitnya Tuh Di sini" atau yang paling parah lagu amat menjijikan macam "Jablai" yang dulu pernah eksis lewat sebuah film lebar. Geli-geli gimana gitu. Dan geli juga melihat seorang bocah lelaki yang sudah paham menggombali teman perempuannya. Apalagi kalau si bocah itu bilang, "Hei, kamu manis deh, mau nggak jadi cewek (baca: pacar) aku?" Bikin perut mulas.

Pun kuakui, akhir-akhir ini menemukan acara-acara yang layak konsumsi anak-anak tonton memang rada sulit ditemukan. Kontras sekali dengan jaman aku masih SD dulu. Cukup mudah untuk menemui acara-acara sejenis itu. Dulu, acara televisi itu sungguh terkontrol. Di jam-jam tertentu, seorang anak--atau pengasuhnya--bisa menemukan acara-acara jenis tersebut. Seingatku, tiap menjelang jam 14.30, aku sudah menyetel televisi dan menonton acara-acara seperti Klab Klip yang dipandu Dhea Ananda, film-film animasi keren macam Batman, Spiderman, atau Anpan Man, hingga sederet tokusatsu keren kayak Jiban, Winspector, Ninja Jiraiya, hingga Janperson. Dan serentetan acara itu akan berakhir tiap menjelang maghrib. Selepas maghrib, it's time for adult.

Itu baru hari biasa. Belum saat hari minggu. Teng, jam enam pagi, sudah duduk anteng di depan televisi. Doraemon, Ninja Hattori, Magic Knight, Anak Seribu Pulau, Wedding Peach, Sailor Moon, Power Rangers, hingga Kabutaku, siap menemani. Menjelang jam dua belas siang, adult time again.

Begitu teruslah circle-nya. Stasiun-stasiun televisi yang ada saat itu seolah sudah terhipnotis (mungkin oleh Departemen Penerangan?). Sehingga mereka semua seolah tak berani membantah hukum tersebut. Seingatku sih, nyaris tak ada stasiun televisi yang anti-mainstream. Mereka kompak untuk menayangkan acara-acara televisi di jam-jam khusus anak-anak. Kalaupun ada yang melanggar, yah hanya segelintir. Satu-dua kanal menayangkan non acara anak-anak di kids time.

Tahun 1998, khususnya setelah Soeharto lengser keprabon, mulai terjadi gejala-gejala aneh. Apalagi setelah masuk abad 21. Aduh, aku saja yang sudah pelajar SMP, benar-benar kesulitan untuk mengakses lagi acara anak-anak di televisi. Bahkan di hari minggu pun, acara anak-anak sudah mulai tergolong langka dan hanya satu-dua stasiun yang masih rutin menayangkan. Lagu-lagu khusus mereka pun mendadak hilang. Tak ada regenerasi. Tak kulihat penerus dari Trio Kwek-Kwek, Enno Lerian, Joshua, Tasya, Tina Toon, Chikita Meidy, serta Cindy Cenora. Hingga sekarang ini, music video untuk anak-anak menjadi suatu pemandangan yang langka. Telinga mulai harus dibiasakan mendengar anak-anak dengan fasihnya menyanyikan lagu-lagu cinta.

Oke, mungkin jamannya sudah berubah. Mungkin tak sepatutnya kita terlalu memaksakan semuanya harus balik seperti era 90-an atau era-era sebelumnya. Pola pikir manusia berubah. Teknologi makin canggih. Internet merajalela. Mungkin lebih tepatnya jika kita tetap menyediakan wadah buat anak-anak agar mereka tetap bisa menikmati hiburan sesuai usia mereka. Biarlah kondisi stasiun televisi seperti itu. Seharusnya dengan kondisi seperti itu, hubungan para orangtua bisa semakin intens dan intim dengan anak-anak mereka.

Aku mungkin bukan seorang orangtua. Aku masih belum menikah. Masih seorang bujangan.  Tapi aku bisa merasakan betapa susahnya menjadi orangtua itu. Apalagi banyak sanak, teman, dan kerabat yang sudah berkeluarga. Mereka sering curhat di media sosial soal kehidupan mereka dalam mengasuh anak-anak. Aku pun bisa merasakan orangtuaku sendiri dalam mengasuh diriku dan ketiga saudara kandungku. Bagaimana perjuangaan orangtuaku hanya untuk menghindarkanku dari yang namanya ketidaklulusan atau ketidaknaikkelasan. Itu pasti sangat menyakitkan. Betapa pedihnya ayahku pastinya, saat aku dulu tinggal kelas di awal jadi seorang pelajar putih-merah. Jadi orangtua memang susah, aku tahu itu.

Jadi orangtua itu memang sulit. Terutama di jaman sekarang ini. Di jaman dimana sudah bukan hal langka, fenomena wanita karir itu. Kedua orangtua yang pergi pagi-pulang malam semakin sering kulihat. Bahkan ada satu-dua tetanggaku yang seperti itu. Tuntutan jaman dan harga yang terus melambung, mungkin itulah yang menyebabkan sepasang suami-istri harus lebih banyak menghabiskan waktu mereka di sebuah ruang kantor ketimbang rumah mereka sendiri. (Dari pengamatanku) Sedikit kaum ibu (yang muncul di era 2000-an) yang masih tinggal di rumah. Bahkan mereka masih juga harus bekerja di hari sabtu-minggu. Waktu untuk anak-anak (mungkin) jadi semakin sulit dicari.

Oke, itu semua, di bab yang di atas barusan, hanyalah hasil dari kesimpulan cetek dan hasil pengamatan dari beberapa sampel. Andaikata, menurut kalian benar, sungguh kelewatan sekali jika para orangtua langsung menyalahkan stasiun televisi dan para stakeholder lain yang mungkin terlibat, dimana mereka sebetulnya juga turut ambil bagian dengan kondisi anak-anak yang seperti dijelaskan, mengalami pendewasaan dini.

Akhir-akhir ini, aku cukup sering menyaksikan beberapa bocah yang mengendarai sepeda motor. Bahkan, 2013 silam, segenap rakyat Indonesia sempat digegerkan dengan kasus anak artis, yang usia masih 13 tahun, tapi sudah duduk di belakang setir dan dengan santainya menginjak kopling. Itu salah siapa sekarang? Salah stasiun televisi yang katanya sudah memperkenalkan budaya hedonisme? Atau salah mereka yang sudah mengijinkan mereka untuk mengendarai Kawasaki Ninja atau Ford?

Atau mungkin fenomena cabe-cabean. Tiga orang gadis muda yang hobi naik di atas sebuah motor, yang rutin ikut mendatangi balapan liar sembari merokok dan... mungkin menjajakan diri mereka ke para kucing garong. Usia mereka malah masih terhitung ABG. Tapi mereka sudah terbiasa dengan bau nikotin, alkohol, dan mungkin drugs. Itu salah siapa? Salah stasiun televisi yang terus menerus menayangkan acara-acara dari Amerika dan Korea yang mungkin fenomena itu sudah menjadi hal biasa? Atau itu salah mereka, yang tak bisa mengontrol kelakuan anak-anaknya dikarenakan terlalu sibuk mencari beberapa suap nasi berlian?

Is it Indonesian's habit? Always making excuse and searching a scapegoat for everything they should be into? Huh? Tell me something I don't know.

Beneran kesal sama kebiasaan orang Indonesia yang suka sekali mencari pembenaran dan kambing hitam. They are fucking damn shit.



Kalau situasi dan kondisinya sudah seperti ini, mungkin kurang bijaksana jika kita saling menyalahkan. Tak ada gunanya, kan, menyalahkan jaman yang sudah berbeda sekali dengan jaman dimana para orangtua itu menghabiskan masa kanak-kanak dengan bermain kelereng atau layang-layang. Jauh lebih baik jika mereka sadar bahwa sudah saatnya mereka lebih mendekatkan diri dengan anak-anak, lalu menuntunnya, sehingga tak salah kaprah dan kebablasan.

Kalau stasiun televisi yang non-berbayar sudah mulai menganggap hiburan untuk anak-anak itu bukan suatu hal yang menguntungkan, bukankah jaman ini berbeda dengan jaman mereka dahulu? Sekarang biaya mengakses televisi berbayar (atau parabola mungkin) tak semahal di era 90-an. Ada internet pula, dimana mereka tinggal mengunduh beberapa hiburan layak untuk anak-anak mereka. Atau kalau mereka enggan, ajak saja anak-anak mereka agar suka membaca. Di toko buku, buku-buku untuk anak-anak itu masih banyak beredar.

Di jaman serba canggih ini, tak sepatutnya kita mencari alasan untuk sikap anak-anak yang menurut kita, telah mengalami pendewasaan dini. Yang harus kita lakukan, menemani para anak-anak itu. Menjadi sahabat anak-anak. Menuntun anak-anak agar tak salah langkah. Memberikan pengertian yang benar kepada anak-anak soal segala hal yang masuk ke otak mereka. Berikan pengertian yang benar soal apa itu moneter, krisis, cinta, atau seks. Itu yang seharusnya dilakukan; bukannya malah menyalahkan stasiun televisi yang tak seratus persen merupakan pelakunya.

Sudah sepatutnya, kan, kita semua ikut terlibat dalam perkembangan mental seorang anak. Entah itu orangtua, stasiun televisi, atau mungkin pemerintah. Mari kita tetap menyediakan wadah untuk anak-anak agar masih bisa terus mengakses hiburan yang layak untuk usia mereka.

Oh ya, last but not least, jujur saja, sebetulnya tak salah anak-anak itu sudah mengenal kata yang bernama cinta. Aku tak munafik, semasa kecil, aku sudah terbiasa dengan kata bernama cinta itu. Masih kecil aku sudah terbiasa dengan tontonan-tontonan romance seperti Marimar, Tokyo Love Story, atau The Legend of Condor Heroes. Bahkan Kera Sakti pun, unsur romance-nya juga lumayan berat untuk dicerna otak murid SD. Rasa-rasanya jadi sebuah keegoisan kalau kelak aku mencegah anak-anakku untuk mengenal soal cinta dan romance, padahal ayah mereka saja sudah mengakrabi dua kata itu sejak kecil. Maka dari itu, yang perlu dilakukan, menuntun dan memberikan pemahaman yang benar. Jadi sahabat buat mereka; itu yang terbaik.