Thursday, December 4, 2014

ANOTHER FICTION: Unpredictable Splendid Surprise



                                 

            “…Kalau ada satu kesempatan, ‘kan kujadikan kau kekasihku. Kalau ada satu kemungkinan, ‘kan kupastikan kau kekasihnya ‘tuk terakhir kali…”
            Feisal mengernyitkan dahinya, saat akan memasuki ruang kelas 11 IPS 1. Siapakah yang sudah datang di sekitar jam 06.00 pagi seperti ini? Pakai acara menyanyikan lagunya Kahitna segala lagi.
Kalau Feisal sendiri, ia datang sepagi ini karena hari ini gilirannya piket membersihkan kelas. Sebetulnya juga, ia malas datang sepagi ini. Bayangkan saja, ia harus bangun di jam 04.30, mengingat jarak rumah ke sekolahnya cukup jauh. Berpuluh-puluh kilometer jaraknya itu. Ditambah lagi, ia sudah lumayan sering diomeli dan terima hukuman dari Bu Shinta, wali kelasnya. Ia jadi jengah dan memutuskan untuk datang pagi di hari piketnya, yaitu hari Senin.
Saat ia sudah masuk di ruangan kelasnya itu, ia agak terkaget melihat hanya ada Diwang, sahabatnya sejak kecil. Oh jadi rupanya Diwang yang bernyanyi; bagus juga suaranya, pikir Feisal.
            “Eh, Diwang, tumben lu datang pagian.” sahut Feisal.
            “Gue kan piket juga di hari ini. Masak lu lupa?” kata Diwang tersenyum sambil sibuk menyapu lantai.
            “Masak sih?” tanya Feisal tak percaya.
            “Ya elah, Bos, lihat aja tuh di mading kelas.” jawab Diwang menunjuk mading yang dipajang di samping kanan papan tulis berwarna hijau itu.
            Ke sanalah Feisal bergegas. Ia melihat-lihat daftar nama murid-murid yang piket, mulai dari hari Senin hingga Jumat (Hari Sabtu, sekolahnya Feisal libur). Yah memang benar yang dibilang Diwang. Hari ini yang piket ada enam orang murid. Ada Feisal sendiri, Diwang, Oriana, Lenny, Eddy, dan Raka. Kebetulan atau tidak, yang piket hari ini merupakan sahabat dari SD.
            “Eh, lu bener juga, Wang.” kata Feisal nyengir.
            “Lagian lu sih datangnya telat mulu, jadi nggak tahu deh nama anak-anak yang piket. Kali-kali perhatian dikit, kek.” seloroh Diwang.
            “Maaf deh, maaf. Kan lu tahu sendiri, rumah gue lumayan jauh dari sini.” dalih Feisal defensif.
            “Alasan aja lu. Raka aja yang rumahnya lebih jauhan dikit dari rumah lu, masih bisa disempetin datang cepet di hari senin.” serang Diwang ofensif.
            “Iya, iya, bawel. Lu kayak cewek aja dah bawelnya.” ledek Feisal. “Trus gue mesti lakuin apa nih?”
            “Bantuin gue nyapu,  gih. Lu nyapu bagian sana, soalnya yang itu memang belon gue sapuin.” Diwang menunjuk ke arah jalur dalam labirin tempat duduk yang belum disapunya.
            “Oke, deh, Bos.” Feisal segera mengambil sapu yang diletakan di pojok kanan depan kelas. Segera saja ia menyapu jalur yang belum disapu oleh Diwang. “Oya, yang lain pada kemana?”
            “Oriana sama Lenny lagi ngambil kapur ke ruang Tata Usaha. Eddy ke kantin dulu, mau makan dulu. Doi blon sarapan di rumah, katanya. Trus satu lagi, si Raka blon dateng.”
            “Oooh…” kata Feisal yang sekarang sudah sibuk menyapu debu dan kotoran yang berada di sela-sela bawah meja dan kursi. “Oh iya, Wang. Ngomong-ngomong, itu lu yang nyanyi yah barusan pas gue datang tadi?”
            “Ya iyalah, kan cuma gue yang ada di kelas. Lu gimana sih?” ujar Diwang nyengir dan masih tetap sibuk menyapu. Hanya saja, kini ia sudah berada di dekat papan tulis; sebentar lagi akan berada di dekat pintu masuk kelas.
            “Gue baru tahu suara lu bagus juga, Wang.”
            “Ah lu ngeledek aja, Sal. Bilang aja lu mau bilang suara gue itu fals, sumbang, dan gak enak didengerin, kan?”
            “Serius, Wang. Suara lu lumayan bagus. Lagian kan gue aktif nge-band, so pasti gue tahu dong mana suara yang bagus, mana suara yang jelek. Dan suara luitu  masuk kategori yang pertama. Suara lu keren abis. Sumpah dah.” kata Feisal meyakinkan Diwang kalau suaranya bagus dengan menatap fokus Diwang.
            “Oh gitu, kalau gitu, makasih deh pujiannya.” ucap Diwang yang sekarang dia sudah berada di dekat pintu masuk kelas. Tak terasa selesai sudah ia menyapu. Ia letakan kembali gagang sapu itu ke pojok kelas.
            “Gue serius lagi, Wang. Gak becanda. Lagian suara bagus gitu, kok lu gak masuk ekskul paduan suara aja sih? Lu malah masuk ekskul teater.”
            “Gue gak pede, Sal. Tapi masak sih suara gue bagus?” Diwang masih tak percaya dengan kualitas suara yang ia miliki.
            Di saat bersamaan, Oriana dan Lenny masuk ke kelas. Oriana yang mengambil sekotak kapur tulis langsung meletakannya di meja guru yang ada di pojok kiri depan kelas.
            “Kalian berdua lagi ngobrolin apaan sih?” tanya Lenny yang baru saja duduk di bangkunya yang berada di depan persis papan tulis.
            “Ini, Len, si Diwang lagi nyanyiin lagunya Kahitna, pas gue dateng. Dan suaranya itu keren abis. Swear deh gue.” jawab Feisal yang masih sibuk menyapu. Sedikit lagi, bagian wilayahnya akan selesai disapunya.
            “Emang nyanyi lagu apa dia?” tanya Oriana yang segera duduk di bangkunya yang berada di belakang Lenny.
            “Judulnya kalau nggak salah, ‘Lebih Dari Sekedar Cantik’,” kata Feisal.
            “Wang, nyanyiin lagi dong lagunya Kahitna itu. Gue penasaran sama suara lu. Masak iya sih, kata Feisal, suara lu bagus?” pinta Oriana pada Diwang sudah duduk di samping Oriana.
            “Iya, Wang, nyanyi dong.” timpal Lenny memanas-manasi. “Nyanyi, nyanyi, nyanyi, nyanyi, nyanyi,….”
            “Nyanyi sekali, Wang. Ayo, Wang.” Feisal semakin mendesak Diwang untuk segera unjuk suara.
            Diwang memerah mukanya. “Eee… Oke deh gue nyanyi, tapi please, jangan ngejekin suara gue yah?”
            Ketiga sahabat Diwang sejak SD itupun mengangguk, pertanda mereka setuju untuk tidak menertawakannya. Seharusnya Diwang tahu teman-temannya itu tak akan menertawakannya suaranya yang memang bagus.
            Kemudian, mulailah Diwang menyanyikan ‘Lebih Dari Sekedar Cantik’-nya Kahitna. Kali ini ia menyanyikan lagunya utuh. Dari bait pertama, refrain, hingga kalimat penutupnya. Kurang lebih sudah nyaris lima belas ia bernyanyi. Tanpa ia sadari, ruang kelas 11 IPS 1 mulai ramai. Banyak murid yang sudah masuk kelas dan terpana dengan kualitas suara Diwang barusan. Hingga selepasnya ia bernyanyi, ia mendengar suara tepuk tangan yang riuh dan itu ditujukan untuknya.
            “Gila! Keren, Boi, suara lu itu.” .
            “Cadas.”
            “Mantep gila.”
            “Dahsyat.”
            “Bikin gue merinding dengernya.”
            Begitulah segelintir komentar yang baru saja ia dengar setelah bernyanyi tadi. Matanya terbelalak dengan muka memerah waktu mendengar pujian-pujian tersebut. Masak sih suara gue sebagus itu, Diwang bergumam dalam hati.
            “Keren, Wang, suara lu itu. Pokoknya lu harus mau masuk paduan suara. Nanti gue bilang langsung ke guru pembimbingnya, deh. Gue yakin, Bu Agustin pasti sepakat sama gue kalau suara lu itu memang dahsyat.” ujar Oriana dengan mata berbinar-binar. Oriana sendiri memang masuk ekskul Paduan Suara.
            “Eee… gue ke toilet dulu yah,” Diwang berjalan cepat menuju toilet dengan kedua pipinya masih memerah. Diwang, Diwang, kamu itu merendah atau kurang percaya diri, sih?
            Setelah Diwang pergi, Feisal mengajak Oriana, Lenny, Edi, dan juga Raka yang datang sepulun menit setelah Diwang mulai bernyanyi. Ternyata Feisal ingin merundingkan sesuatu dengan keempat temannya itu terkait ulang tahun Diwang yang ketujuh belas bulan depan.

*****

            Satu bulan pun sudah terlewati. Tak terasa sudah tanggal 11 April 2013. Tanggal 11 April sendiri merupakan hari ulang tahun Diwang yang ketujuh belas. Dan hari kamis itu, Diwang jengkel sekali dengan ulah kelima sahabatnya itu. Waktu ia akan memundurkan sepeda motornya di parkiran sekolah, tiba-tiba saja ia merasa kepalanya ditaburi sesuatu. Mana agak lengket-lengket gimana gitu. Ia pun menoleh dan ternyata…. kelima sahabatnya itu rupanya memberikannya sebuah surprise khas, yaitu melemparkan tepung terigu  yang dicampur dengan isi telur ayam ke kepalanya. Basah kuyup sekaligus bau deh sekujur tubuh Diwang. Untung saja, itu dilakukan setelah kegiatan belajar mengajar berakhir.
            Dengan bΓ©tenya, Diwang menyetarter sepeda motornya itu dan melaju dengan kencang ke rumah. Nanti sajalah ia ganti  baju di rumahnya. Toh jarak rumahnya ke sekolah tak terlalu jauh. Dengan menggunakan sepeda motornya, ia hanya butuh waktu tempuh tiga puluh menit saja.
            Sesampai di rumahnya yang cukup mewah, ia segera saja masuk kamarnya dan mengambil pakaian dari dalam lemarinya. Saat itulah, terdengar suara ringtone dari blackberry-nya. Terpaksa ia tunda rencananya berganti pakaian di kamar mandi. Ia angkat panggilan yang masuk ke blackberry-nya itu.
            “Halo…” sapanya terhadap suara di ujung sana yang meneleponnya.
            “Halo, ini dengan Diwangkaton Ramadani?” Rupanya yang meneleponnya seorang pria. Sepertinya pria itu berusia sekitar 20-.an dari suaranya itu.
            “Yah, ini dengan saya sendiri,” jawab Diwang.
            “Oh ini mas Diwang sendiri yah? Begini lho, saya hanya mau menyampaikan kepada Mas untuk segera datang ke studio RCTI yang ada di Kebon Jeruk buat ikut audisi Indonesian Idol. Audisinya itu dari jam sembilan pagi hingga jam lima sore, Mas.”
            Diwang terperangah. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya itu barusan. “Tapi saya nggak pernah mendaftarkan diri di kontes itu.”
            “Mungkin Mas lupa kali kalau sudah daftar. Karena data-datanya Mas ada di kami sekarang.”
            “Eee… “ Diwang agak kebingungan untuk meresponnya kembali. Tapi akhirnya ia malah berkata, “Iya kali yah, saya pernah daftar, tapi lupa. Oke deh, saya akan datang ke audisinya. Jam sembilan, kan?”
            Putuslah sambungan percakapan antara Diwang dengan pihak dari ajang pencarian bakat Indonesian Idol itu. Sekarang Diwang jadi kebingungan. Seingatnya, ia sama sekali tak mendaftarkan diri di kontes itu. Lagipula mana berani dia ikut serta di ajang itu. Masuk ekskul Paduan Suara saja, ia tak punya nyali; apalagi mengikuti ajang sebesar Indonesian Idol itu.
            Di tengah kebingungannya itu, blackberry-nya berbunyi lagi. Kali ini ada nama Feisal di display-nya. Ia segera mengangkat.
            “Halo, Sal, Ada apa?” tanya Diwang yang masih mengernyitkan keningnya.
            “Halo, Calon Idola Indonesia. Gimana? Udah ditelepon belom sama pihak Indonesian Idol -nya? Setahu gue, besok kan audisinya, berarti kemungkinan kalau nggak kemarin, sekarang lu udah diteleponin.” jawab Feisal di ujung sana.
            “Oh jadi lu yah yang daftarin gue ke sana?”
            “Iya. Gue sama yang lainnya sepakat buat daftarin lu. Tiga hari setelah daftar online, kita berlima  nganterin segala persyaratannya ke studio RCTI. Itu tuh waktu kita ngerjain tugas Bahasa Indonesia. Inget gak lu?”
            “Oooh…. Yang kata lu semua minjem KTP sama ijazah dan rapor gue itu   yah? Yang katanya buat tugas Bahasa Indonesia? Sialan lu pada!” ujar Diwang kesal karena dikerjain.
            “Sorry, Wang. Habis kalau nggak begini, lu nggak akan sadar-sadar kalau suara lu itu memang bagus banget. Dan lu harus buktiin itu nanti di depan para juri Indonesian Idol nanti. Gue tunggu aksi lu yah di TV nanti. Bye.”                
            Feisal langsung mematikan teleponnya dan membuat Diwang jadi geregetan.  Haruskah ia datang ke studio RCTI buat audisi Indonesian Idol itu?

*****

            Walau sebetulnya ia agak malas dan takut datang ke audisi Indonesian Idol tersebut, pada akhirnya ia sudah berada di dalam gedung tempat pelaksanaan audisi tersebut. Ia ke sana dengan masih mengenakan seragam sekolahnya. Hanya saja kini sudah tertempel nomor pesertanya. 33200, yah itulah nomor pesertanya. Ia kini sedang duduk di salah satu bangku dan melihat kontestan-kontestan lainnya yang sedang berlatih olah vokal. Ia begitu mengagumi suara-suara mereka, walau ada juga yang sebetulnya tak layak ikut serta.
            “Eh, kenalin nama gue Toni, dari Bekasi,” ucap kontestan cowok berambut panjang yang duduk di sampingnya. Ia mengangsurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Diwang.
            Diwang balas mengangsurkan tangannya. “Gue Diwang, dari Tangerang.”
            “Mau nyanyi lagu apaan ntar?”
            “Gak tahu, gue bingung.”
            “Kok bingung? Kenapa?”
            “Yah soalnya gue gak ada rencana mau ikut audisi. Gue didaftarin sama temen gue, soalnya.”
            “Oh gitu… Gue saranin lu nyari lagu yang aman-aman aja, sob, kalau mau lolos. Yah lagu-lagu yang nadanya nggak terlalu sulit.“
            Diwang agak sebal diremehkan oleh Toni ini. Tapi di saat ia mau membalas ledekannya itu, namanya sudah dipanggil dan segeralah ia masuk ke ruang audisi. Dan sekarang, di depannya sudah duduk empat orang pelaku musik tanah air. Ada Ahmad Dhani, Anang Hermansyah, Rossa, dan juga Agnes Monica. Siapa sangka ia bisa juga bernyanyi di hadapan para penyanyi atau musisi sekelas mereka.
            Dengan gugup, ia mulai bernyanyi. Ia menyanyikan lagunya Selena Gomez yang berjudul ‘Love You Like a Love Song’.  Ia menyanyikan lagu tersebut utuh dan di sela-sela ia bernyanyi, Ahmad Dhani terpekik girang. Kurang lebih ketika ia menyanyikan bagian hook-nya.
            “GILA! Suara kamu bagus banget. Saya oke kamu maju ke tahap selanjutnya.” sahut Ahmad Dhani. 
            “Dan, dengerin dia dulu selesai nyanyi. Jangan main potong gitu aja.” sela Anang Hermansyah dengan logat jowo medhok-nya.
            “Yah tapi suara dia memang bagus banget, Nang.” kata Ahmad Dhani yang segera mengambil selembar kertas karton bertuliskan ‘SELAMAT’. Tanpa minta persetujuan juri-juri lainnya, ia mengangsurkannya pada Diwang.
            Melihat ulah Ahmad Dhani barusan, baik Rossa, Agnes Monica, hingga Anang Hermansyah sendiri jadi tertawa. Sebetulnya mereka ingin memberikan kesempatan pada Diwang untuk menyelesaikan lagunya, yah walau benar kata Ahmad Dhani barusan. Jelas suara Diwang punya kualitas tersendiri yang ia tak sadari selama ini karena ketidakpercayadirinya itu.
            Setelah diijinkan keluar ruang audisi dan benar-benar diyakinkan oleh semua juri ia lolos ke babak selanjutnya, Diwang keluar. Di luar, ia berteriak histeris dengan air mata mulai keluar dari kedua bola matanya itu. Siapa sangka tiket lolos ke babak selanjutnya Indonesian Idol ini bisa jadi kado paling berharga buat ulang tahunnya yang ketujuh belas.

            Di depan kamera dan di depan host-nya – Daniel Mananta, ia berujar, “Thank to all of my friends yang sudah mendaftarkan gue secara diam-diam ke kontes ini. Ini benar-benar Unpredictable Splendid Surprise banget.”