Wednesday, June 4, 2014

Belajar Bahasa Lewat Main-Main





Hello, dear. Ohisashiburi. Tak disangka sudah bulan Juni saja yah. Lima bulan sudah terlewati. Banyak hal yang pemilik blog ini telah lewati. Baik suka maupun duka. Bagi pengikut setia blog ini, pasti tahu soal sebuah resolusi tahun baru yang pemiliknya gembor-gemborkan. Oke, siapa sih aku ini? Sok tenar banget. Ha-ha-ha.

Jadi begini lho. Karena blog ini semakin banyak dikunjungi orang luar Indonesia, tak bermaksud sombong juga, maka aku memutuskan untuk lebih sering menulis dalam bahasa Inggris. Tak hanya di blog juga, di Twitter dan Facebook pun sama. Di Twitter, akunku itu malah sudah dimasukan ke dalam reading list oleh beberapa akun luar. Maka dari itu, aku lebih mempersering diriku sendiri untuk menulis dalam bahasa Inggris. Ini wajib hukumnya. Kapan lagi memperlancar kemampuan berbahasa Inggris kalau bukan sekarang? Begitu, sobat blogger tersayangku. Itu alasannya kenapa beberapa postingan itu kutulis dalam bahasa Inggris.

Omong-omong, maaf sekali kalau Inggris-ku jelek, baik secara tata bahasa maupun penggunaan diksinya. Maaf. Maklumi saja yah, namanya juga masih dalam proses. Ke depannya, aku berjanji -- kalian tak akan lagi mendapati kesalahan-kesalahan seperti itu dalam sebuah postingan di blog ini. I promise to you indeed. Swear. Dan, aku lebih suka kalian mengomentari isi postingannya; bukan teknik penulisannya.

Bicara soal bahasa Inggris -- atau bahasa apapun, kalian semua tengah sibuk belajar sebuah bahasa, nggak? Nah, postingan kali ini membahas soal itu juga.

Bagaimana sih cara kalian menguasai sebuah bahasa? Pasti kebanyakan dari les. Bagaimana sih cara kalian tertarik untuk belajar suatu bahasa? Pasti jawabannya beraneka ragam. Ada yang tertarik belajar bahasa Korea, karena keseringan nonton Jewel in the Palace. Ada yang tertarik belajar bahasa Jepang, karena keseringan nonton anime Sword Art Online. Atau ada yang tertarik belajar bahasa Spanyol, karena kepincut sama cewek-ceweknya yang bahenol habis (Ini mah aku banget =D ). Tak salah sih kalian punya motivasi-motivasi seperti itu. Justru motivasi seperti itulah yang bikin kalian jadi bersemangat untuk mempelajari sebuah bahasa. Itu modal yang cukup berharga.

Sekadar saran juga, sebaiknya kalian jangan terlalu serius begitu dalam mempelajari sebuah bahasa. Jangan dijadikan beban. Santai saja. Anggap saja kalian sedang bermain-main.

Berdasarkan pengalaman juga, di sini aku mengakui, dulu sekali -- pas SMP atau SMA, ya ampun, bahasa Inggris-ku itu lebih kacau daripada sekarang. Dulu pas SMP, aku ingat betul, suka minta bantuan Papi aku untuk mengerjakan tugas bahasa Inggris. Benar-benar payah banget bahasa Inggris aku. Kalimat sederhana saja sulit kumengerti. Bayangkan, aku dulu sempat tak tahu maksud dari kalimat ini: 'I love you so much-much-much more'. Bahkan 'ugly' pernah kulafalkan jadi 'ugli'. Serius, tak bohong sama sekali. Pas SMA, nilai bahasa Inggris-ku jarang sekali menyentuh angka 9. Dapat 8 saja sudah sujud menyembah lantai. Tapi seiring berjalannya waktu, terlebih setelah aktif blogging dan gemar baca komik-komik Jepang secara online, perlahan tapi pasti, bahasa Inggris-ku meningkat drastis. Awal ikut tes TOEFL, nilainya itu 400. Itu November 2007. Terakhir tes, pas Oktober 2011 silam, nilai TOEFL-ku itu sekitar 425. Dan mungkin aku punya firasat, TOEFL-ku naik lagi. Mungkin hampir mendekati 500; itu semua karena mempelajari bahasa Inggris secara otodidak, tanpa unsur paksaan (baca: belajar bahasa lewat sistem nilai ala sekolah/institusi pendidikan lainnya)

Yah, belajar sebuah bahasa lewat institusi pendidikan itu menurutku, maaf lho yah, kurang begitu bagus. Hanya menjadikan kesempatan belajar sebuah bahasa itu jadi beban, sehingga terasa sulit sekali untuk menguasainya. Memang sebaiknya belajar bahasa itu dilakukan secara senang-senang. Sebaiknya juga belajar bahasa itu jangan diperlakukan seperti ilmu pasti. Okelah, kita perlu mempelajari grammar-nya. Tapi tetap yah, jangan terlalu serius begitu. Grammar itu bukan untuk dihapal; tetapi untuk dipahami. Ilmu bahasa itu bukan ilmu pasti juga. Lagipula, percaya sama aku, sekali kalian mempelajari grammar sebuah bahasa, lalu dipraktekkan langsung -- baik lisan maupun tulisan, itu akan cepat menempel di otak. Menurutku, belajar bahasa itu lebih menggunakan feeling. Pelajari sebentar grammar, pahami, lalu biarkan feeling kalian bermain saat menjajal kemampuan berbahasa kalian.




Pernah dengar istilah 'belajar bahasa Inggris lewat video games'? Atau 'belajar bahasa Jepang lewat anime'?

Seorang blogger dulu pernah menceritakan soal kemampuan bahasa Inggris-nya yang meningkat karena game. Namanya Keven Keppi. Dia ini hobi gaming. Mulai dari jaman sega dan tetris masih merajalela, sampai era RPG (Role Playing Game). RPG favoritnya itu Final Fantasy 7. Katanya sih, FF7 itu memiliki tingkat kesulitan, jalan cerita dan sistem permainan yang jauh lebih menarik ketimbang RPG sekarang. Saking demennya main FF7 itu, Keven sampai belai-belain buka kamus Inggris-Indonesia. Terus, ia juga menguasai sejarah perang salib karena Age of Empires. Atau tahu nama 'Nobunaga Oda' karena Dynasti Warrior. Berikutnya, kalau kalian tak percaya, silakan buka: DEWASA MELALUI GAME.

Atau ada lagi cerita teman kuliahku, si Joshua. Ia pernah cerita, kemampuan bahasa Inggri-nya bagus itu bukan karena les. Dulu ayahnya sering menyuruhnya serta saudara kandung lainnya untuk beli The Jakarta Post. Lalu disuruh baca dan menceritakan kembali isi artikel yang sudah dibaca.

Masih ada lagi nih. Salah seorang teman si Keven itu juga mengalami hal yang sama. Jago berbahasa Inggris karena game FF itu. Plus juga menguasai yang namanya patching karena The Sims 2.

Yah memang sih, untuk lebih menguasai bahasa secara gramatikal, kita memerlukan jasa mereka yang lebih profesional dalam bidangnya. Untuk menguasai bahasa Jepang secara jagonya, perlu bertanya juga ke mereka yang sudah fasih. Perlu buku panduan juga. Tapi untuk bisa menguasai sebuah bahasa tanpa terbebani, beberapa pengalaman yang sudah kutulis ini boleh juga sebagai bahan masukan. Malah harus, kalau kubilang yah. Karena, bagiku, ilmu bahasa itu harus dipelajari secara santai. Semakin diseriusi, bakal lama untuk menguasainya, karena terkena efek bosan dan stress. Selain itu, perlu motivasi yang kuat juga. Misal: pengin jago bahasa Perancis, supaya bisa mengencani Laetitia Casta. Contoh lho, itu contoh. =D

Last but not least, setelah kalian fasih menguasai sebuah bahasa, aku harap kalian tak merasa jumawa yah. Pengalaman juga, seringkali aku melihat orang-orang macam itu yang melecehkan -- atau setidaknya mengejek -- kemampuan berbahasa orang yang baru belajar. Buat apa sih menyombongkan kemampuan berbahasa itu? Menurutku, saat kalian menghina kemampuan berbahasa orang -- terlebih logatnya, itu sama saja dengan menghina cara bicara seseorang, terlebih jikalau orang tersebut gagu, gagap, atau cempreng. Kalian nggak mau, kan, dihina cara bicara kalian yang menurut orang lain itu aneh? Nah itu. Diralat boleh, tapi big-big no untuk menyombongkan kemampuan berbahasa itu; apalagi jika sampai melecehkan. -_-