Monday, February 17, 2014

"Anak Kampus" yang Lucunya Kurang Asoy


Ada yang sudah menonton "Monster University" di sini? Pastinya sudah dong. Kan filmnya rilis Juni 2013 kemarin. Belum setahun sih, tapi sebagian besar pembaca pasti sudah menontonnya. Tapi bagi yang belum menonton, aku akan menceritakan sedikit.

Jadi "Monster University" itu merupakan cerita pendahulu dari Monster Inc. Belum ada Boo di sini (Tahu kan Boo itu siapa? Itu lho anak manusia yang masuk dengan tidak sengaja ke dunia monster). Di "Monster University" itu diceritakan mengenai kisah hidup Mike Wazowsky secara personal. Diceritakan, gara-gara kejadian sejak kecil, si monster bermata satu itu jadi tertarik untuk masuk ke dalam Monster University, sekolah yang mendidik para monster untuk menjadi monster seram yang bakal dibutuhkan di Monster Incorporation.



source


Mike ini sebetulnya punya sesuatu yang layak ditiru. Yaitu mentalnya tersebut. Ia punya nyali. Tidak kenal takut. Tapi sayangnya ia sepertinya ogah untuk berintrospeksi diri. Tak sadar bahwa ia memiliki kelemahan yang sulit ditutupi: dia kurang seram. Yah penampilannya memang tidak seseram monster-monster lainnya; bahkan jika dibandingkan dengan sahabatnya, James Sullivan.

Namun Mike ngotot. Ia terus berpendapat bahwa segala hal bisa dipelajari. Soal seram pun juga sama. Makanya ia begitu rajin belajar untuk menjadi monster yang seram, walaupun tidak punya rasa untuk menakuti di dalam dirinya. Mike pun semakin terbakar lagi saat dirinya direndahkan oleh seorang mentor di Monster University. Untuk membuktikan keseramannya, ia mengikuti sebuah kontes seram, dimana ia harus berpartisipasi dalam sebuah kelompok. Mike lalu tergabung ke dalam kelompok yang bisa dibilang underdog. Kebanyakan anggotanya - sama seperti dirinya - tidak seram. Namun karena hoki dan kerjasama kelompok, mereka bisa jadi pemenangnya. Di akhir lomba, Mike mulai menyadari sesuatu dalam dirinya. Terutama saat memaksa masuk ke dunia manusia. Di sanalah, ia sadar bahwa dirinya tidak seram. Walaupun demikian, Mike memiliki potensi untuk menjadi guru seram - setidaknya untuk sahabatnya, Sullivan.

Hmm, film ini lucu.Tapi film ini juga filosofis. Banyak pelajaran yang bisa kita petik di sini. Seperti segala hal itu mungkin terjadi; jadi jangan pernah anggap mustahil, sebelum mencoba. Atau: two heads are much better than one. Dengan bekerja sama, segalanya jadi lebih muda. Masih ada lagi: walau segalanya bisa dipelajari, tapi ada saatnya dimana kita tidak bisa bersaing atau melampaui mereka yang memang berbakat alami. Yah itulah yang dialami Mike. Walau soal takut-menakuti bisa dipelajari, Mike tetap tak bisa seperti Sullivan atau monster-monster lainnya - yang lebih seram. Menyamai mungkin bisa, tapi untuk melampau tetap tidak bisa. Secara penampilan, Mike tidak seram.

Anak Kampus

Apa yang terjadi di film kartun produksi Disney-Pixar itu sebetulnya cerminan dari dunia nyata. Kita beranggapan segala hal bisa dipelajari. Tapi kita lupa ada beberapa hal yang sulit dipelajari. Contohnya itu seperti sense, passion, atau yang sejenisnya. Kita bisa mempelajari teknik menulis, teknik fotografi, teknik menggambar, teknik desain, teknik melucu, teknik menyanyi, atau segala teknik lainnya. Secara teori, itu semua bisa dipelajari. Namun secara praktek, itu susah. Minimal kita bakal susah bersaing atau melampaui mereka yang memang berbakat atau punya sense di bidang itu. Semisal, kita memang bisa menguasai teknik menyanyi. Tapi kita bakal kesulitan untuk melampaui seseorang yang memang bersuara emas. Mana suara kita masuk kategori standar pula. Mau sampai ada hujan salju di Indonesia, bakal susah bersaing dengan yang berbakat alami.




Dokumentasi pribadi




Nah itu dia yang terjadi pada buku "Anak Kampus: Catatan Perjuangan Mahasiswa Pas-Pasan". Buku yang bergenre personal literature itu ditulis oleh seorang blogger. Lumayan familiar, karena beberapa kali sering bertandang ke blog Mas Aditya Bayu. Sebetulnya bukunya bagus sih. Lumayan bermanfaat untuk mengetahui bagaimana kehidupan seorang mahasiswa. Apalagi jarang-jarang menemukan buku yang membahas soal dunia kampus secara lebih spesifik (Lebih spesifik lagi, mahasiswa perantauan yang nge-kos). Mulai dari soal mata kuliah, dosen, cinta, skripsi, hingga kegiatan kemahasiswaan - semuanya dibahas di sana. Komplet dibahas di bukunya itu. Plus dilengkapi pula dengan ilustrasi-ilustrasi yang lumayan menghibur.

Namun, sayang sekali nih, agak terganggu dengan genre komedinya. Maaf untuk penulisnya, punchline-nya kurang nendang. Nggak lucu. Malah sewaktu membacanya, aku tidak seperti membaca tulisan yang Mas Adit-nya. Merasa jiwa yang ada di buku tersebut bukanlah jiwa Mas Aditya Bayu sendiri (Mana yang dibahas itu kehidupan pribadinya lagi). Ia seolah menjadi orang lain.

Sebelum bukunya betul-betul terbit, ia pernah bercerita di blognya bahwa untuk menulis buku tersebut, ia melakukan riset. Riset melalui sering baca buku-buku genre komedi ataupun menonton segala genre komedi. Alhasil, yah itu dia, blunder. Bukunya jadi seperti repetisi dari segala ciri komedi yang ia temui. Aku suka menemukan gaya beberapa penulis di dalam bukunya. Bahkan ciri komedi yang sering dilakukan, dilakukan pula olehnya. Jadi klise deh. Garing humornya. Hehehe. Sekali lagi maaf buat penulisnya.

Untung saja, itu buku pertama Mas Aditya Bayu yang diterbitkan secara major (Masih bisa dimaafkan deh). Ke depannya, untuk para penulis atau calon penulis lainnya, coba deh - kalau berencana menulis buku - jadi diri sendiri saja. Pahami juga sejauh mana kemampuan kalian dalam menulis suatu hal. Misalnya,  kalau mau menulis sesuatu yang lucu, tidak usah lirik punya tetangga. Jadi diri sendiri saja. Coba deh gali sendiri potensi melucu kalian. Plus jangan juga mengulangi trik-trik melucu. Sebaiknya bahan humor itu jangan sering digunakan. Karena makin sering digunakan, jadi tidak lucu lagi. Berbeda halnya kalau kalian bikin cerita sedih (baca: elegi). Itu mah diulang beberapa kali, feel-nya tetap terjaga.

Akhir kata, "Anak Kampus: Catatan Perjuangan Mahasiswa Pas-Pasan" ini layak juga dibeli dan dibaca. Terlebih untuk kalian para remaja yang ingin mengetahui bagaimana kehidupan anak kampus itu. Sekedar pelepas penat, bukunya itu begitu direkomendasikan, di luar kelemahan soal humornya itu. Yuk, cuus, cari bukunya di toko buku-toko buku terdekat! /(^^)/

RATE: 75






Judul:  "Anak Kampus: Catatan Perjuangan Mahasiswa Pas-Pasan"
Penulis: Aditya Bayu 
Tebal: viii + 246 halaman 
Tahun: 2014
Penerbit: Checklist