Thursday, October 17, 2013

Orang Sakit yang (Mungkin) Tak Mau Dikasihani


"Tak ada kutu buku yang mau dibilang kutu buku." - @NuelLubis




Manusia itu suka sekali melakukan pembenaran dalam hidupnya. Percaya atau tidak, pembenaran itu bisa diciptakan dalam hal mendukung segala pemikiran dan aktivitas mereka. Makanya kebenaran itu mahal sekali harganya. Sulit sekali mencari kebenaran yang hakiki. Mau punya IQ berapa pun, kita tak akan bisa mencapai kebenaran hakiki. Itu mungkin salah satu bukti bahwa manusia memang punya keterbatasan dalam akal budinya.

Berbicara soal pembenaran, dulu sekali aku pernah secara tak langsung masuk (Tapi tidak bergabung ke grupnya; lagian grupnya itu open group) ke grup komunitas LGBT yang ada di situs Facebook. Iseng-iseng saja ingin tahu apa pemikiran mereka sehingga memilih jalan jadi LGBT. Ternyata eh ternyata, demi mendukung orientasi seksualnya yang kebanyakan agama bilang itu sebuah penyimpangan, beberapa di antara mereka menciptakan agama sendiri yang setidaknya mendukung pemikiran mereka. Dalil-dalil pun dikumpulkan.

Aku heran sama kaum LGBT ini. Kenapa sulit sekali menerima pemikiran dan orientasi mereka itu keliru yah? Selalu saja ada pembenaran yang mereka lakukan. Padahal andai kata mereka benar, apa yang menimpa mereka itu bukan penyimpangan, terus kenapa Tuhan menciptakan dua jenis kelamin: laki-laki dan perempuan? Kalau yang tidak percaya, pertanyakanlah kenapa ada dua jenis kelamin saja - yang nyatanya jelas-jelas bisa dibedakan secara kasat mata (Kita tidak berbicara soal omong kosong genetik yah). Setelah akil balig, yang pria pasti berjenggot, berkumis, atau berjakun; yang wanita pasti berdada atau punya liuk tubuh. Lalu alat kelaminnya juga berbeda. Yang pria berpedang, yang wanita bersarung.

Nah dari situ saja seharusnya mereka sudah tahu, pasangan ideal itu yah laki-laki dan perempuan. Bukannya saling adu pedang atau lewat pantat atau pakai alat bantu seks yang menurutku itu menjijikan dan rawan penyakit kelamin. Pernikahan itu bukan untuk sekedar senang-senang saja; having sex dari tengah malam sampai pagi menjelang. Juga bukan sekedar punya partner hidup yang bisa saling mendukung. Pernikahan itu pasti muaranya... yah ke membentuk sebuah keluarga dan punya anak. Yah aku tahu, mereka pasti punya pembenaran lagi. Kalau anak sih, yah kan ada yang namanya bayi tabung. Sewa saja sel sperma atau sel telur dari orang lain, beres masalahnya. Padahal kalau begitu caranya, kalau dibiarkan terus, anak merupakan sebuah komoditas yang mahal sekali harganya (Sekarang jadi mengerti kenapa banyak orang yang berani keluar duit banyak untuk punya anak).

Yah tapi memang susah yah, berdebat dengan kaum LGBT ini; sama mustahilnya dengan debat antar agama yang tidak bakal ada titik temunya. Mereka (Kaum LGBT, maksudnya) akan terus bersikukuh bahwa apa yang menimpa mereka ini bukan penyakit atau penyimpangan. Bahkan ada juga yang berpandangan, cinta yang mereka alami itu juga cinta. Halah, omong kosong. Bagiku, tak ada cinta dalam hubungan homoseksual. Itu nafsu. Kenapa kubilang nafsu? Ya iyalah nafsu, karena pasti suka dengan pasangannya itu karena ketertarikan fisik - kebanyakan. Berbeda sekali dengan cinta pria jelek dan wanita cantik. Kalau cinta pria jelek dan wanita cantik sih memang ada, dan murni karena rasa cinta atau chemistry (Kita ambil contoh Narji dan istrinya). Makanya ada legenda Beauty and the Beast.

Selain itu, LGBT itu tak ada hubungannya dengan kelainan genetik, seperti yang mereka sangka selama ini. Kalau benar itu kelainan genetik, kenapa kita sering mendengar yang namanya kampanye LGBT terselubung? Contohnya itu, baru-baru ini aku tahu kemasan produk seperti ini:

 



Okelah, kalau gambar di atas ini merupakan trik komputer. Tapi secara kasatmata saja, kalau dilihat terus-menerus, otak manusia pasti bisa berpikir, pasangan homoseksual itu juga 'pasangan'; sama-sama bisa membentuk sebuah keluarga.

Itu satu contohnya. Contoh lainnya, bisa disimak dalam sebuah animasi terkenal, Spongebob Squarepants lewat episode "Rock-A-Bye Bivalve". Walau pihak Nickeledeon membantahnya, tetap saja episode Spongebob-Patrick merawat bayi kerang memang jelas itu sebuah kampanye LGBT terselubung. Diceritakan mereka menemukan bayi kerang, lantas mengasuhnya berdua. Patrick berperan sebagai ayah dan Spongebob sebagai ibunya - yang komplit memakai daster dan dandanan ala ibu rumah tangga. Bahkan di akhir cerita, Patrick berkata, "Mari kita bikin anak lagi," - kurang lebih seperti itulah.

Tak hanya itu saja, ada banyak film yang mengusung tema LGBT. Di Indonesia, kita bisa tonton Arisan, Coklat Stroberi, atau Sanubari Jakarta. Di luar Indonesia, ada Interview at the Vampire atau sekarang ini, No Strings Attached. Aha, yang seperti itukah kelainan genetik? - tapi terus menerus mengampanyekan gaya hidup sesama jenis kepada orang lain - seolah-olah ingin mengatakan, "Ini sesuatu yang normal, dan cinta itu tak sebatas hubungan hetero saja; kita pun bisa memiliki cinta (Dalam artian romance) saat memandang sesama jenis kita." Yah mungkin seperti itulah pemikirannya.

Juga mereka berhasil mengeluarkan homoseksual dari DSM (Diagnostic and Statistic Manual of mental Disorder). Bahkan sekarang ini, bagi yang kontra terhadap LGBT akan digolongkan sebagai homophobia atau bigotry. Pernah dengar juga, ada kasus dimana seseorang yang menghina kaum LGBT jadi malah dipidana di Amerika sana.

Gila yah, kaum LGBT itu? Mereka itu orang sakit yang menolak untuk disembuhkan. Iya sakit, pikiran dan jiwa mereka yang sakit. Tapi mereka terus berkampanye bahwa apa yang mereka lakoni saat ini normal adanya. Kalau itu gol (Homoseksualitas adalah normal), aku yakin beberapa penyimpangan lainnya juga pasti ingin dianggap normal juga - seperti incest, pedofil, atau mungkin yang terparah, berhubungan seks dengan binatang atau mayat.

Mereka - kaum LGBT - sepertinya lupa akan satu hal: (Pernah baca di sebuah artikel) penyakit AIDS itu kali pertama mewabah di kalangan kaum gay kulit hitam karena aktivitas anal seks. Selain itu, ada juga penelitian yang mengatakan homoseksualitas itu bukan genetis (Atau ciptaan Tuhan), melainkan ditularkan oleh lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Paul Cameron Ph D (Family Research Institute) menemukan bahwa di antara penyebab munculnya dorongan untuk berperilaku homo adalah pernah disodomi waktu kecil - dan parahnya, perilaku menyodomi anak kecil menjadi salah satu budaya kaum homo (Maksudnya budaya tusuk pantat itu), dan juga, pengaruh lingkungan, yaitu: (1) Subkultur homoseksual yang tampak/terlihat dan diterima secara sosial, yang mengundang keingintahuan dan menumbuhkan rasa ingin mengeksplorasi (ingin mencoba); (2) pendidikan yang prohomoseksual; (3) toleransi sosial dan hukum terhadap perilaku homoseksual; (4) adanya figur yang secara terbuka berperilaku homoseksual; (5) penggambaran bahwa homoseksualitas adalah perilaku yang normal dan bisa diterima.  Penelitian Cameron juga menunjukkan bahwa kecenderungan homo seksualitas bisa disembuhkan, antara lain, melalui pendekatan diri kepada Tuhan. Selain itu, dari sisi kesehatan, perilaku homoseksual juga berdampak sangat buruk bagi pelakunya. Pula dampak jangka panjangnya, eksistensi manusia itu sendiri di planet Bumi.

Jadi itulah mungkin mengapa selalu ada alasan kenapa LGBT masih dianggap sebagai sebuah penyimpangan oleh beberapa orang. Wajar juga kenapa beberapa agama mengecam LGBT. Walau begitu, si para sakit itu tetap tak boleh difasilitasi dengan dalih kasihan; mereka sendiri tak mau dikasihani. Mereka hanya perlu dirangkul agar meluruskan pola pikir mereka yang salah. Kalau tak mau diluruskan, biarkan saja. Toh Tuhan sudah memberikan kehendak bebas pada manusia. Jika sudah saatnya, pasti mereka sadar. Hmmm... 






Pandangan beberapa agama terhadap LGBT:

Kristen:
Imamat 18:22: Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian. 
Imamat 20:11: Bila seorang laki-laki tidur dengan seorang isteri ayahnya, jadi ia melanggar hak ayahnya, pastilah keduanya dihukum mati, dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.
Imamat 20:12: Bila seorang laki-laki tidur dengan menantunya perempuan, pastilah keduanya dihukum mati; mereka telah melakukan suatu perbuatan keji, maka darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.
Imamat 20:13: Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.
Imamat 20:18: Bila seorang laki-laki tidur dengan seorang perempuan yang bercemar kain, jadi ia menyingkapkan aurat perempuan itu dan membuka tutup lelerannya sedang perempuan itupun membiarkan tutup leleran darahnya itu disingkapkan, keduanya harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya.

Islam: 
"Tidaklah segolongan kaum mengingkari janji, kecuali akan terjadi pembunuhan di antara mereka. Tidaklah merajalelanya perbuatan keji (homoseks atau lesbian) di kalangan masyarakat, kecuali Allah akan mendatangkan kehancuran bagi mereka. Dan tidaklah sekelompok kaum enggan membayar zakat, kecuali mereka akan ditimpa kemarau panjang" (HR Hakim yang menurutnya termasuk hadis shahih, sejalan dengan riwayat Imam Muslim)
"Allah melaknati orang yang menyembelih binatang dengan menyebut nama selain nama Allah melaknati orang yang imenguasai sesuatu yang bukan dalam kekuasaanya, dan melaknati orang yang berbuat seperti kaum Luth (homoseks)" (HR Ibni Hibban dalam kitab shahih nya, dan Baihaqi)
"Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth” (HR Ibnu Majah : 2563, 1457. Tirmidzi berkata : Hadits ini hasan Gharib, Hakim berkata, Hadits shahih isnad)

Buddha:
Vinaya melarang penahbisan seorang homoseksual (pandaka) dan mengharuskan pelepasan jubah bagi anggota Sangha yang terbukti homoseksual karena dapat mengganggu kehidupan suci komunitas Sangha. Selain itu, dalam Vinaya seorang bhikkhu yang memasukkan (maaf) alat kelaminnya ke dalam salah satu lubang tubuh makhluk apa pun (termasuk sesama pria atau seorang pandaka) akan dikeluarkan dari Sangha.

Cakkhavatti-sihanada Sutta (Digha Nikaya 26) menyebutkan praktek menyimpang (miccha-dhamma) menyebabkan generasi manusia yang dulunya memiliki usia rata-rata 500 tahun berkurang usianya menjadi 250 tahun pada generasi berikutnya. Menurut komentar, miccha-dhamma yang dimaksud adalah hubungan seksual antara laki-laki dengan laki-laki dan antara perempuan dengan perempuan. Dengan demikian, homoseksualitas dianggap sebagai salah satu faktor yang menyebabkan penurunan moral manusia.