Monday, September 16, 2013

Kisah Pi: Sungguh Sebuah Kisah yang Dapat Membuat Kita Percaya Tuhan



 "Ketika diri kita dipenuhi rasa takjub, pikiran sepele pun terlupakan." - Life of Pi, halaman 333


Life of Pi. Kali pertama tahu tiga kata itu, yah dari sebuah film. Sebuah koran lokal tengah mengulas filmnya. Novel yang dibuat oleh pria berkebangsaan Kanada bernama Yann Martel ini diangkat ke sebuah film layar lebar. Dan sang pengulas, di koran tersebut, agaknya cenderung lebih tertarik dengan topik agama yang juga menjadi salah satu unsur pembentuknya. Tak salah, tapi juga tak benar.




Awal-awal cerita, kita memang akan disuguhi oleh kehidupan masa kecil hingga remaja dari seorang remaja bernama Piscine Molitor Patel - atau yang akrab disapa Pi Patel (Pi dibaca Pi, seperti saat kita membaca 'Pi'sang). Anak ini punya kehidupan beragama yang misterius dan bikin geleng-geleng orang yang melihatnya. Bayangkan saja, ia berusaha mempelajari dan mendalami tiga agama yang keberadaannya cukup dominan di India, khususnya Pondicherry. Hindu, Islam, dan Kristen - adalah nama agama-agama yang (coba) dianutnya. Itulah juga, kenapa novel ini di awal-awalnya cukup frontal gaya penceritaannya. Bagi yang tak terbiasa berpikiran terbuka, disarankan jangan membaca novel ini.

Semula, Pi itu penganut Hindu yang cukup taat. Lalu suatu saat terbersit keinginannya untuk mempelajari Kristen - lalu Islam. Kebiasaannya itu, kali pertama kali, tak membawa masalah. Hingga tiga pemimpin agama dari agama yang diperdalaminya itu bersua dengan dirinya dan ayahnya di tepi pantai. Mereka sepertinya tak suka dengan cara beragama Pi. Mereka memaksa Pi untuk memilih salah satu. Jangankan mereka, kedua orangtua Pi juga berlaku sama. Namun Pi tetap ngotot untuk mendalaminya sekaligus. Dalihnya itu: "Orang saja bisa punya tiga paspor, tapi mengapa tak bisa memiliki tiga agama. Bukankah kata Bapu Gandhi (Maksudnya, Indira Gandhi), semua agama itu baik?"

Selain mendalami tiga agama yang sebetulnya saling bertolak belakang isinya, Pi juga mengeritik kebiasaan sejumlah penganut sebuah agama yang seringkali melakukan kekerasasan dengan dalih membela agama atau Tuhan. Katanya: "Tuhan itu tak perlu dibela. Dia bisa membela dirinya sendiri. Kalau mau membela Tuhan, yah dari dalam diri; bukan dari luar." Cukup salut dengan tokoh yang namanya diambil dari nama komplek kolam renang di Paris tersebut. Tambah tercengangnya lagi, tokoh bernama Pi itu sungguh nyata keberadaannya. Yah nyata. Di awalnya, penulis akan memberitahukan pada kita semua, kisah ini nyata. Benar-benar terjadi dalam kehidupan manusia. Lebih kerennya lagi, sang penulis menuliskannya dengan gaya bahasa novel yang enak dibaca siapapun, termasuk yang tak suka baca sekali pun. Walau begitu, tetap merasa yakin, pasti ada dramatisasi dalam buku tersebut; makanya dari awal, lebih cocok menyebutnya novel.

Cerita ini akan membuat kalian percaya pada Tuhan

Memang benar apa yang dikatakan Tuan Adirubassamy (Kalau tak salah ingat) atau dipanggil Mamaji (Mama artinya Paman; Ji itu imbuhan seperti -kun atau -san di Jepang - dan biasanya untuk penghormatan) oleh Pi - karena tradisi di negaranya. Apa yang dialami Pi ini sulit dipercaya dan mungkin orang hanya bisa berkata, "Mungkin Tuhan benar-benar ada dan telah melindungi si anak." Hanya keajaiban yang bisa menyebabkan anak ini sanggup bertahan hidup selama terapung-apung di atas sekoci yang mengarungi samudera Pasifik yang dahsyatnya luar biasa itu.

Pi sendiri awalnya pergi meninggalkan tanah airnya, India, karena faktor sang ayah. Demi kehidupan yang lebih baik, kebun binatang yang dikelola ayahnya itu dijual; lalu mereka semua pindah ke Kanada. Mereka pergi dengan membawa nyaris seluruh penghuni kebun binatang ke dalam sebuah kapal barang milik perusahaan Jepang yang berbendera Panama. Selama perjalanan, walau ia dan sekeluarga diabaikan oleh para perwira kapal yang terus mengoceh dalam bahasa Jepang, perjalanan mereka tetap selalu mengasyikan. "Petualangan memanggil!" Begitulah kata-kata Ravi, kakaknya, yang seolah menjadi candu buat dirinya dan kedua orangtuanya, sehingga tetap semangat, hingga tiba di Toronto, Kanada.

Sampai akhirnya, suatu musibah terjadi. Kapal barang tersebut, setelah melewati Manila, mulai oleng dan akan tenggelam di Pasifik. Pi sendiri tak tahu apa penyebabnya. Awak kapal yang orang Taiwan dan para perwira Jepang itu tak memberitahukan apa alasan sebenarnya. Ia hanya tahu, ada badai dan ombak, serta entah bagaimana caranya, binatang-binatang mulai lepas dari kandangnya. Tapi ia mencurigai, awak-awak kapal yang suka mabuk itulah pelakunya. Atau mungkin para perwira Jepang. Atau mungkin benar juga dugaan Ravi, kapal itu tak seharusnya beroperasi.

Tak sempat mencari tahu apa alasannya, seorang tukang masak berbahasa Perancis langsung menggendongnya dan melemparkannya ke sekoci. Singkat cerita, Pi sudah berada di atas sekoci - bersama ibunya, si tukang masak, dan awak kapal dari Taiwan, yang sebelah kakinya nyaris putus. Ayah dan Ravi sudah tak dilihatnya lagi setelah kericuhan tersebut. Walau tahu sudah meinggalkannya lebih dahulu, Pi tetap yakin mungkin suatu saat bakal bertemu di benua Amerika.

Setelah berhari-hari lewat, Pi mengalami kejadian buruk dalam hidupnya. Ia menyaksikan sendiri aksi kanibalisme. Awalnya, si tukang masak itu memotong sebelah kaki si Taiwan yang nyaris putus. Dalihnya itu, untuk mengurangi penderitaan si Taiwan. Namun saat Pi hendak membuang potongan kaki yang sudah terpotong, si tukang masak mencegah dengan alasan bahwa potongan itu bisa digunakan sebagai umpan memancing. Ibu Pi marah besar. Terjadi pertengkaran antara ibunya dan si tukang masak. Kemudian hari-hari berlalu, dan terjadilah keributan. Ibu Pi melihat sendiri si tukang masak memakan hidup-hidup potongan kaki si Taiwan. Keributan itulah yang menjadi pemicu matinya sang Nyonya Patel. Pi sakit hati dengan si tukang masak, lalu terjadi baku hantam - dengan pemenangnya dia sendiri. Ia berhasil membunuh si tukang masak, dan entah mengapa, tubuh si tukang masak dimutilasi dan disantap.

Karena kejadian itulah, Pi seperti mengalami delusional. Ia mengira, dirinya tengah berada di atas sebuah sekoci bersama zebra, hyena, orang utan, dan harimau bernama Richard Parker. Sebenarnya binatang-binatang itu hanya sebuah metafora. Zebra itu si Taiwan, hyena itu si tukang masak, orang utan itu ibunya, dan dirinya adalah Richard Parker, si harimau Bengal yang dibayangkan sebagai makhluk tersadis yang pernah dijumpainya di kebun binatang. Mungkin ia menganggap dirinya sebagai Richard Parker, karena tak menyangka bisa sesadis itu: membunuh dan memakan hidup-hidup si tukang masak. Dan cerita perumpamaan tersebut disampaikannyalah pada dua orang Jepang yang berasal dari sebuah perusahaan, pemilik kapal barang tersebut dan menjalin kerja sama dengan ayahnya.

Dua orang Jepang itu, sewaktu diceritakan kisah perumpamaan itu, tak percaya dan terus mendesaknya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Karena terus didesak, akhirnya ia menceritakan kisah sesungguhnya. Dan dua orang Jepang itu, Okamoto dan Chiba, bergidik; dan mungkin karena rasa kasihan, cerita asli tidak diberitahukan dan lebih memilih untuk menggunakan cerita perumpamaan karangan Pi sebagai alasan tambahan tenggelamnya kapal; Pi juga mendapatkan uang asuransi. Ditambah lagi, percuma saja mereka mencari tahu. Pi sama sekali tak tahu mengapa kapal Tsim-Tsum tenggelam di Pasifik pada 2 September 1977. Itu masih menjadi misteri.

Novel ini benar-benar luar biasa. Yann Martel sungguh hebat dalam mengemas kisah nyata ini menjadi sebuah santapan yang luar biasa. Tak sekedar menghibur, saat kita membacanya, kita diajak juga untuk berpikir. Berpikir dalam hal menebak-nebak jalan pikiran si Pi itu. Deskripsinya, khususnya di Bagian Dua, sungguh terasa hidup. Seolah-olah kita sendirilah si Pi. Tak heran, novel ini mendapatkan penghargaan The Man Booker Prize. Aku sendiri berani juga memberikan nilai sempurna; sungguh sebuah buku yang layak dibaca dan dimiliki sendiri. Terbukti, selama baca novel, jarang sekali punya quote menarik dari novel yang bersangkutan. Hanya yang istimewa saja; dan Life of Pi ini sangat istimewa. Ada quote favorit dari novel ini:

1. "Kalau sedang sangat putus asa, menghadapi masa depan yang gelap, kadang ada hal kecil, detail kecil, yang muncul seketika dalam benak. Dan apa yang muncul itu bukan lagi hal sepele, melainkan hal paling penting di dunia. Kita jadi kreatif kalau terdesak oleh kebutuhan." - halaman 204

2. "Akal sehat adalah perangkat terbaik manusia. Tapi kalau menggunakan akal sehat secara berlebihan, bisa-bisa keajaiban alam semesta ini ikut terbuang bersama air mandi." - halaman 418


No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^