Thursday, July 4, 2013

Just leave it in your subconscious...



"Remember! Your words is your pray. So watch your words. It can be true." - @NuelLubis


Masa SMA itu... jujur masa terpahitku. Berat sekali untuk keluar dengan cukup gemilang dari tahap SMA. Penuh perjuangan deh, tapi layak dikenang juga. Soalnya banyak pelajaran - selain pelajaran sekolah - yang kudapatkan dari sana. Salah satunya, dari seorang guru: Ibu Valen. Nama lengkapnya sudah mulai memudar dari memoriku, sebetulnya. Ingatnya cuma nama panggilannya saja. Hehehe. Tapi nggak jadi soal, yang penting itu ialah satu hal dari beliau yang perlu diceritakan.

Aku ingat. Ada satu kata-kata keren yang terucap dari dia. Dia, waktu itu, pernah bercerita soal kehidupan pribadinya. Dan itu ada kaitannya dengan quote beliau: "Kalau kita punya mimpi, simpan baik-baik dan saat tidur, bawalah ke alam bawah sadar kalian. Niscaya akan terbuka jalan bagi kita - untuk meraihnya." Kurang lebih seperti itulah kata-katanya. Agak lupa-lupa ingat. Itu juga teringat gara-gara si TK - Thomas Kurniawan - yang baru saja dapat hoki.


Komentar TK (Baca: Tikey) - yang dilingkari - terdapat pada postingannya yang berjudul WHAT A BIG SURPRISE


Berkat Bu Valen dan Bro TK, aku mengalami sendiri soal alam bawah sadar kita yang selalu menjaga impian kita dan terus membuka jalan untuk kita. Eh tapi, tak hanya mereka berdua saja. Tanggal 1 Juli silam, aku dapat kata-kata bagus dari sebuah acara di salah satu stasiun televisi. Ada salah satu selebritas tanah air yang menceritakan soal karir keartisannya dan itu semua timbul karena dari ucapannya semasa kecil sebelum jadi artis. Nah, host-nya yang berbadan agak subur lalu berkata seperti ini, "Your words is your pray; so watch your words" (Kurang lebih mengarah ke situ-lah).

Yah memang benar. Kata-kata itu memang doa. Tiap kali kita mengucapkan sesuatu, hati-hati; itu bisa jadi doa kita. Pastinya akan dicatat-Nya. Apalagi kalau ucapan itu berhasil terekam oleh alam bawah sadar kita. Siap-siap saja merasakan momen 'dream comes true', seperti yang aku alami tahun lalu. Saat itu sih, aku mengalami pengalaman negatif soal petuah tersebut. Cerita selengkapnya bisa dibaca di sini: Kata-kata adalah doa.

Dan selain peristiwa itu, aku mengalaminya lagi tahun 2013 ini. Satu di bulan Maret, dua di bulan Juni, dan satu lagi di bulan Juli. Aku ingat. Yang pertama itu berawal dari kesukaanku baca manga. Sembari berusaha mengejar mimpi, aku iseng-iseng mengunduh sembilan belas volume sebuah komik. Komik China. Judulnya Bowling King. Ceritanya bagus; hanya saja, yang diunggahnya itu hanya sampai volume 19. Volume 20 ke atas memang bisa ditemukan di internet, tapi pakai huruf Mandarin yang susahnya itu bikin kita jadi saingan Hantu Jeruk Purut. Gara-gara alurnya yang menarik, muncul keinginan: "Pengin banget bisa baca yang volume 20,"; apalagi di Indonesia sendiri itu, komiknya hanya terbit sampai volume 20.  Sayangnya belum kesampaian. Pernah ketemu sih yang jual komiknya, khususnya volume 20-nya. Hanya saja harus beli sepaket. Beli borongan dan harganya di atas seratus ribu. Alamak jan!  Tunda deh hasrat tersebut. Sampai akhirnya, baru terkabul di Maret 2013. Butuh kurang lebih empat bulan agar terkabul. Aku bisa baca komik itu gara-gara nggak sengaja mampir di sebuah taman bacaan di daerah Gading Serpong dan kebetulan mereka punya. Asyik, aku jadi bisa juga tahu ceritanya; yah walau nggak tuntas sih. Masih butuh empat volume lagi. Semoga saja sudah ada yang mengunggahnya dalam versi Inggris.

Lalu.... yang kedua itu... keinginanku biar bisa kerja sesuai passion: menulis. Keinginan itu terjawab di bulan Juni 2013. Awalnya itu terjadi akhir Mei. Waktu itu, iseng-iseng saja beli novel Suki Desu. Itu tuh sejenis antologi begitu. Dan saat selesai membaca, aku lihat ada info menarik dari penerbitnya: DeTeens. Mereka kasih syarat-syarat pengajuan naskah. Entah kenapa, terbersit keinginan untuk mengirimkan sekali lagi naskah Dejavu-ku ke mereka; padahal sudah skeptis dan mulai pesimis sama naskah itu. Tapi rupanya kata hati berkata lain. Ada sesuatu yang mendorongku melengkapi segala persyaratannya dan mengirimkannya via surat elektronik. Dan.... puji Tuhan.... belum ada sebulan, mereka kasih jawaban. Jawabannya juga bukan penolakan. Amin ya Tuhan. Naskah yang ini diterima juga. Terimakasih. Sepertinya keinginanku agar bisa hidup dari passion terkabul juga. Tak sabar rasanya menunggu naskah-naskahku yang lainnya terbit juga. Tak sabar juga menunggu honor atau royaltinya turun. Hehehe. Senangnya itu bermilyar-milyar kuadrat pangkat tiga, deh. Rasanya itu seperti dicium sama Mii-Chan, Mayuyu, dan Selena Gomez sekaligus. Tak bisa berhenti tersenyum, deh.



Kita berlanjut yang ketiga. Kali ini terkait keinginanku untuk membeli buku Mbak Indi, seorang blogger dan penulis juga. Keinginanku itu: ingin sekali bisa beli dan baca buku beliau. Walau tak bisa beli, baca saja juga nggak apa-apa; dan keinginanku muncul tahun 2011 lalu. Pengin banget bacanya, hanya saja di tiap toko buku yang ada di Tangerang, aku belum pernah ketemu bukunya itu, baik buku pertama hingga buku ketiganya; bahkan hingga ke Jakarta pula. Ya sudah deh, aku pasrah. Sampai akhirnya, setelah dua tahun berlalu, aku bisa beli bukunya. Secara tak sengaja menemukannya waktu ke Gramedia Karawaci buat beli novel terbaru Alvi Syahrin - yang judulnya, "Swiss: Little Snow in Zurich". Wah siapa sangka, aku dapat rejeki ganda. Pengin beli novel Alvi, malah ketemu pula buku Mbak Indi. Hahaha. Rasanya? Seperti diajaki kencan oleh Mayuyu. Hahaha. Tambah senangnya lagi, aku beli kedua buku itu pakai duit yang kuhasilkan dari Social Front Page (SFP). Itu adalah sebuah situs - semacam blogger.com - yang membayar tiap tulisan kita selama bisa memenangkan tiap project-nya. Kita bisa menarik uang kita jika saldo kita di atas Rp 200.000.

Aku tunjukan pendapatanku di sana.

Ini halaman muka SFP

Jadi kesimpulannya, eeeee, bingung tiap kali mau bikin akhir postingan. Sudah deh, langsung tutup saja dengan kata-kata TK , yang tentunya sudah diedit ini:
"Nggak rugi punya mimpi dan cita-cita, walau kesannya nggak mungkin. Kalau Tuhan sudah berkehendak, semua yang nggak mungkin bisa jadi mungkin."









"You have a dream? Just say them and save in your subconscious. Leave them and let yours (Or God)  to play the rest." - @NuelLubis