Tuesday, May 7, 2013

Jakarta Maghrib yang sederhana, namun penuh makna


Terkadang sering kesal dengan mereka yang sering mengeluh tak mendapatkan ide - atau susahnya mendapatkan ide untuk menulis. Aduh, mereka salah besar. Ide itu, menurutku, ada dimana-mana. Ide untuk menulis itu ada di sekitar kita, lho. Hanya saja kembali ke kitanya saja: peka nggak untuk menjadikannya sebuah tulisan.

Nah film Jakarta Maghrib ini juga sepertinya ingin mengajarkan ke para penulis - calon penulis, bahwa ide menulis itu ada dimana-mana. Tak usah, deh, berpikir yang rumit-rumit hanya supaya tulisannya membahana. Nggak usah juga bikin tulisan tentang peran nuklir terhadap kenaikan jumlah kelahiran di suatu daerah. Kalau nggak menguasai, buat apa? Ingat, pembaca bakal tahu kalau kita tidak menguasai topiknya. Lebih baik sederhana, tapi kita kuasai dan bisa membikinnya jadi sebuah cerita menarik.






Film Jakarta Maghrib ini omnibus. Artinya di dalamnya ada beberapa plot. Plotnya itu tidak saling berkaitan - sebetulnya. Tapi oleh sutradaranya dibuat jadi saling berhubungan. Itu tampak dari ending-nya (Saat pasca maghrib) - yang juga inti dari filmnya, dimana tiap pelaku dalam tiap plot muncul kembali. Film ini juga menggunakan sudut pandang yang tak biasa. Penontonnya diajak untuk jadi pengamat terhadap suatu fenomena; meskipun sebetulnya, kita ini sebetulnya insan pengamat tanpa kita sadari.

Coba deh, kita posisikan diri kita sebagai seseorang yang sedang berjalan-jalan di plot terakhir. Kita melihat ada seorang pria yang gondok tak bisa memuaskan nafsu birahi terhadap istrinya. Untuk mengobatinya, ia memesan nasi goreng. Lalu di sela-selanya, lewatlah sebuah mobil dengan sopirnya itu wanita yang lagi menangis. Di dekat gapura, ada anak kecil yang takut pulang, bahkan ayahnya sendiri dikira kuntilanak. Jangan lupakan pula, segerombolan yang bergegas ke musala karena suara meraung-raung tak enak didengar.

Mungkin bagi yang rada cuek, beberapa kejadian yang dialaminya itu hal-hal biasa dan tak menarik. Tapi untuk sebagian orang, tidak. Beberapa kejadian yang ditemuinya bisa jadi sebuah inspirasi menulis. Dan bisa jadi juga beberapa elemennya itu terkandung sebuah cerita menarik. Begitupun yang terjadi pada Jakarta Maghrib.

Contohnya itu, si wanita pengendara yang bersedih. Siapa sangka, si wanita itu punya masalah asmara. Pacarnya tak punya komitmen untuk menikahinya. Masak tujuh tahun pacaran tanpa ada niat menikah? Selanjutnya kita coba mengorek mengapa si anak menangis. Oh rupanya, ia termakan cerita imajinasinya sendiri. Coba pula kita selidiki soal segerombolan warga yang membawa 'senjata' ke musala untuk menghampiri suara tak enak di dalam musala itu. Ternyata suara itu berasal dari seorang preman yang berduka karena kematian seorang penjaga musala. Penjaga musala itu mati mendadak di hadapannya.  Selain itu, tukang nasi gorengnya itu pun punya cerita - secara tak langsung. Karena kebiasaannya memasak menggunakan anglo, dagangannya jadi primadona warga komplek. Lima orang warga yang awalnya tak saling kenal karena kesibukannya masing-masing jadi dipertemukan gara-gara aki-aki penjual nasi goreng.

Ke semua plotnya itu sepertinya ingin memberitahukan kita satu hal. Bahwa bagi seorang penulis yang cukup sensitif, tiap hal yang ditemuinya itu bisa jadi sebuah cerita menarik.

Akhir kata, kalau IMDb kasih nilai hanya 6,5; aku berani kasih nilai 8.