Friday, December 7, 2012

(Mungkin) Stigma itu berbahaya



For me, presumption is a hoax; zonk; and it's useless!





Stigma. Stereotipe. Anggapan. Mungkin memang sudah sesuatu yang naluriah dari manusia yang gampang banget bikin stigma terhadap suatu hal. Karena melihat sesuatu seperti itu, mereka dengan gampangnya bilang sesuatu itu gini lah, gitu lah. Akhirnya terbentuklah yang namanya stigma, lalu berlanjut menjadi keengganan, keseganan, atau ketakutan terhadap hal yang 'diberikan' stigma itu.


Kadang sering kasihan dengan siapa saja yang mendapatkan stigma dari masyarakat, khususnya stigma negatif. Nggak gampang memang untuk bisa lepas dari sebuah stigma. Bukan perkara mudah untuk menghapus sebuah stigma. Anggapan seseorang terhadap sesuatu itu sulit diubah - bahkan hingga kematian.

Dulu beberapa tahun silam - mungkin sekitar dua tahun lalu, aku pernah menemukan beberapa artikel soal nama-nama artis yang gay atau lesbian. Nggak tahu siapa yang bikin awalnya, tapi kalau kita ketik keyword 'artis gay', hasil pencariannya lumayan banyak.

Oya, di sini, aku bukan seorang homophobic; tapi bukan juga seorang homo. Hanya saja, kasihan juga dengan artis-artis yang terkena anggapan dari masyarakat, kalau mereka itu LGBT. Kalau benar sih, yo weis. Tapi kalau nggak benar, ckckck. Ada lho, seorang artis yang bahkan sudah punya keluarga, masih saja diberikan stigma gay. Kasihan banget artis tersebut. :(

Entah apa yang membuat mereka dengan seenak udelnya, memberikan cap-cap seperti itu. Apa karena nggak nikah-nikah, nggak pernah kelihatan bermesraan dengan lawan jenisnya, atau karena menghadiri sebuah acara khusus? Kan bisa saja mereka seperti itu, karena ada alasannya. Nggak nikah, mungkin mereka ingin fokus ke karir dulu. Nggak pernah kelihatan dengan lawan jenis, yah mungkin bagi mereka, privasi itu segalanya (* Jadi ingat kasusnya Daniel Mananta!).

Kita ambil contohnya itu dua seniman besar: Michelangelo dan Leonardo Da Vinci. Dulu pernah baca di sebuah blog, kalau dua orang ini homo. Tapi aku nggak percaya. Kalau misalnya mereka dianggap homo - karena nggak nikah, menurutku wajar. Mereka fokus dan total di karir mereka. Nggak heran karya-karya mereka jadi masterpiece. Seperti Patung Daud dan Lukisan Mona Lisa.

Selain itu, pernah juga kudengar kalau ada salah satu penyanyi Indonesia itu yang gay. Tapi aku memilih untuk tersenyum kecut. Bahkan waktu sepupuku bilang seperti itu karena pernah sekampus dengannya, aku juga nggak mudah percaya.

Yah, aku sendiri juga nggak mudah percaya dengan yang namanya stigma. Karena aku sendiri pernah hidup dari stigma; stigma yang negatif. Entah kenapa dulu semasa jadi pelajar, aku mendapatkan stigma anak culun. Tahu deh, kenapa dapat stigma seperti itu. Padahal kalau dilihat baik-baik, wajahku cukup tampan (* Narsis dikit! :P). Dan nggak mudah untuk keluar dari anggapan orang ke kita itu. Apapun usaha kita untuk menghapusnya, orang-orang bakal mengingat kita seperti itu. Kalau kita nggak kuat iman, nasib kita bakal seperti Amanda Todd. Aku sampai sekarang juga masih sulit menghilangkan kesan culun/lemah dari diriku.

Amanda Todd meninggal karena di-bully oleh teman-temannya.Semuanya berawal pada saat Amanda kenalan dengan seorang cowok di Internet yang berhasil membujuk dia untuk menunjukkan buah dadanya lewat webcam. Setahun kemudian, cowok itu menyebarkan foto topless Amanda lewat internet, bahkan membuat sebuah account Facebook yang menjadikan foto topless Amanda tersebut sebagai profile picture-nya. Hal itu membuat banyak orang membully Amanda, termasuk lewat 9gag, dan kemudian membuat Amanda dicemooh di sekolah dan di lingkungannya.

Atau kisahnya Michael Jackson. Sebelum baca blognya Keven, aku tahunya kalau Michael Jackson itu operasi plastik demi popularitas. Eh tahunya, aku baru tahu dia mengidap Vitiligo dan Lupus, di mana kedua penyakit itu membuat sebagian kulitnya kehilangan pigmen warnanya. Awalnya dia berusaha nutupin dengan menggunakan make-up, tapi lama kelamaan, penyakit itu semakin menyebar dan makin hari, warna kulitnya semakin pucat. Dia juga berusaha menyembunyikan hal tersebut dengan make-up berwarna coklat, tapi akhirnya ia berhenti dan memilih untuk tampil apa adanya. Selain menyebabkan kulit kehilangan warnanya, penyakit itu juga menyebabkan noda dan borok di beberapa bagian tubuh, salah satunya adalah di hidung. Karena itu, MJ melakukan operasi plastik untuk mengembalikan bentuk hidungnya yang rusak akibat hal tersebut.


Proses memudarnya kulit MJ. Klik untuk memperbesar dan perhatikan baik-baik!







Tapi meskipun begitu, tetap saja kebanyakan orang - hingga dia sudah meninggal - tetap akan menganggapnya mengoperasi fisiknya demi ketenaran semata. Dan mungkin hanya segelintir saja yang tahu terhadap penyakit yang diderita MJ ini. Begitupun juga dengan anggapan lain terhadap MJ yang katanya melakukan pelecehan terhadap anak-anak. 

Selain itu, dulu pernah juga kudengar kalau di China, ada restoran yang menjual menu daging bayi/janin. Waktu itu sih, percaya nggak percaya. Hingga - lagi-lagi karena blognya Keven, isu tersebut hanyalah hoax. Orang-orang nggak tahu yang sebetulnya, dan cenderung menelan air yang ada di permukaan saja. Mereka nggak tahu, kalau foto-foto yang selama ini beredar adalah foto-foto sebuah Conceptual Art, hasil karya Zhou Yu, seorang pematung terkenal asal Shanghai, yang dipamerkan di Shanghai Art Festival pada tahun 2000 silam. Melalui karyanya tersebut, Zhou Yu hendak mengkritik keadaan sosial masyarakat dunia pada saat ini di mana manusia tega 'memakan' sesamanya sendiri, demi mendapatkan keuntungan. Memang benar, jaman sekarang, manusia tega menghalalkan segala cara untuk meraih kepuasan pribadi, bahkan tidak jarang juga mereka tega merenggut hak milik sesamanya. Lalu bayi di foto itu juga terbuat dari aneka ragam "bahan makanan" yang dibuat seolah-olah menyerupai janin manusia sungguhan, yang kemudian dimasak, disajikan, dan dimakan oleh seorang model foto yang Zhou Yu sewa. Jadi, selain makanannya cuma janin bohongan, adegan makannya juga bohongan. Cuma akting saja, kayak di film-film.

Makanya itu, nggak salah kan kalau kubilang stigma itu berbahaya. Yah minimal sedikit berbahaya. Sebabnya, betapa susahnya menghilangkan anggapan orang lain terhadap suatu hal. Apalagi bila kita sudah punya stigma terhadap sesuatu, kita cenderung menganggap segala hal yang berhubungan dengan 'sesuatu' itu... yah seperti itu. Itu sama seperti anggapan kebanyakan orang terhadap sinetron. Karena kebanyakan sinetron jelek dan sampah - menurut beberapa orang, mereka nggak bisa melihat sinetron-sinetron yang lumayan bagus. Salah dua itu, sinetron Putih Abu-Abu dan sinetron Love in Paris. Menurutku, kedua sinetron itu lumayan bagus dan unik plotnya, setelah beberapa kali menonton episode demi episodenya. Yah tapi itu semua kembali ke selera sih. Hehehe. Bukankah De gustibus non est disputandum (Tidak ada yang patut diperdebatkan menyangkut selera)?

Intinya - ibarat berada di sebuah kolam renang, daripada hanya menelan air permukaannya saja, kenapa nggak mencoba untuk mencelupkan diri kita, minimal nggak harus tenggelam hingga dasar kolam, tapi setidaknya kita bisa tahu apa fakta sesungguhnya.

"Life is so beautiful for ruining someone's life, from each assumption we make on them." - @NuelLubis