Thursday, August 23, 2012

(Mungkin) Masa depan memang tak bisa ditebak (part two)


 For the healthy, we need a medicine and it taste salt. Thereby we have to taste salt first before reaching our dream.

Tak menyangka waktu begitu cepat berlalu. Dari yang masih berkutat dengan skripsi, sekarang sudah menjadi seorang pengangguran yang menanti kabar naskah-naskahnya diterima (Doain yee biar diterima semua, guys!). Dari seorang bocah ceking, hingga sekarang menjadi pemuda-kelebihan-berat-badan-yang-bingung-cara-menurunkannya. Time flew so fast. Heh.... #BuangNafas


Tak menyangka juga beberapa teman sudah ada yang bekerja. Ada yang jadi pengacara, ada yang bekerja di maskapai, ada yang bekerja jadi teller bank, ada pula yang hidup dari webnya. Bahkan juga ada pula yang menikah. Kalau jaman masih kuliah, temanku yang sudah menikah itu bisa dihitunng pakai tangan. Ada si Fani, si Murni, dan si Winda. Sekarang sepertinya sudah bertambah saja siapa-siapa saja yang menikah. Si Yussy, si Sari, Si Tata, atau yang tergres, si Joan. Bahkan beberapa dari mereka ada yang sudah punya atau mau punya momongan. Beuh, serasa jadi om-om saja nih.

Aku sih tak mempermasalahkan alasan mereka nikah sedini itu. Mungkin mereka mengira lebih baik menikah, daripada pacaran lama-lama, yang pastinya nambah cobaan. Cobaan selingkuh, cobaan sex before married, dan banyak cobaan lainnya.  Setidaknya menikah bisa kasih suatu kepastian bagi hubungan mereka masing-masing. Apapun motif mereka buat menikah, aku percaya itu yang terbaik bagi mereka dan berharap bisa langgeng sampai maut memisahkan.

Tapi kalau dipikir-pikir, masa depan memang tak bisa ditebak yah? Jangankan aku, mungkin bagi mereka yang memutuskan nikah dini juga nggak menyangka bakal jadi seorang ayah atau ibu dan menimang-nimang anak sendiri. Itu termasuk juga buat mereka yang sekarang kerjanya di tempat-tempat lumayan elit. Seperti temannya yang kerja sebagai cabin crew di Air Atlanta Icelandic. Mungkin dia tak menyangka bakal kerja di sebuah maskapai asing dan nyaris hidupnya di negeri Timur Tengah.

Begitupun juga yang kerjanya di Kompas, law firm ternama, bank ternama, dan tempat-tempat elit lainnya. Mungkin mereka tak menyangka bakal kerja di tempat-tempat seperti itu. Bakal bekerja di tempat elit, pakai kemeja tiap harinya, pakai dasi, dan hidup di ruangan ber-AC dari pagi sampai sore. Masa depan memang tak bisa ditebak. Merela semuanya hanya bisa menikmati saja apa yang ada dan sama sekali tak tahu bakal seperti apa ke depannya.

Kalau masa depan bisa ditebak, mungkin bagi yang menikah, dari awal mereka sudah menyiapkan nama bayi yang indah. Bakal mempersiapkan bakal ditinggal yang mana. Atau bagi yang bekerja, bakal mempersiapkan diri untuk bekerja dengan tekanannya yang maha dahsyat.

Eh tapi paragraf sebelum ini, kalau dibaca sekali lagi, kok jadinya seperti masa depan itu bisa diciptakan yah? Jadi ingat kata-kata seorang blogger nih. Yah masa depan memang tak bisa ditebak, tapi bisa diciptakan. Orang lain mungkin nggak bisa tahu seperti apa masa depan kita. Tapi kita seharusnya tahu bakal seperti apa masa depan kita. Kalau mau jadi baik, pasti bisa jadi baik. Kalau memang mau jadi nakal, pasti lebih mudah. Semuanya itu pilihan lho buat kita sendiri. Karena diciptakan, masa depan hanya ada di pikiran kita. Jadi wajarlah kalau mesin waktu tak akan pernah bisa diciptakan. Siapa coba yang bisa masuk ke dalam pikiran sendiri?

Masa depan memang tak bisa ditebak, sehingga kita hanya bisa menantikan apa yang terjadi di depannya. Tapi kita sendiri bisa menciptakan masa depan. Masa depan kita sendiri, minimal yang kita ciptakan. Kalau kita sudah tahu masa depan kita seperti apa, barulah kita bisa menciptakan masa depan orang lain dan dunia. 

Tapi.... Meskipun kita bisa menciptakan masa depan kita sendiri, hasilnya tetap ada di tangan Tuhan. Kita hanya bisa merencanakan masa depan kita di dalam pikiran kita. Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Begitulah petuah yang cukup sering terdengar. Kita hanya bisa bermimpi soal masa depan kita di dalam pikiran kita. Tapi Tuhan lah eksekutornya. Dialah yang membuatnya menjadi nyata berdasarkan apa yang sudah kita kerjakan. Mungkin bisa dibilang, kita arsiteknya, Tuhan kontraktornya.

Oh yah, kalau masa depan bisa ditebak, kalau masa depan bisa langsung sim salabim jadi waktu kita baru pikirkan saja, mungkin aku bakal mengidam-idamkan kehidupanku tuh seperti ini:

Bikin buku/novel --> Diterima penerbit --> Best seller --> Depositokan uang --> Deposito terkumpul, bikin usaha (warnet) --> Sembari jalankan usahaku, sembari nulis ke beberapa media --> Sudah cukup sukses dan berduit, memutuskan cari jodoh --> Menikah --> Punya anak --> dll, dst, dsb....

Yah begitulah alurnya di pikiranku. Dan kalau bisa ditebak, Puji Tuhan sekali itu semua bisa terkabul. Nggak perlu lagi deh masa-masa menggalau. LoL. Namun sayang sekali kita tak bisa menebak masa depan bakal seperti apa. Kita hanya bisa menciptakannya di pikiran kita dan berharap itu terjadi sambil menanti-nantikannya dengan asyik.





* Terinspirasi dari tulisannya @adittyaregas dan merupakan remake dari tulisanku yang sejenis.