Friday, June 8, 2012

REVIEW: Mocking Jay




Penulis: Suzanne Collins
Genre: Fiksi

Inspired by


Novel ini merupakan kelanjutan dari Catching Fire, yang sebelumnya diceritakan bahwa Katniss akhirnya meledakan arena pertarungan Hunger Games dan itu cukup membuat kondisinya semakin tersulut. Beberapa peserta Quarter Queel berhasil melarikan diri setelah diselamatkan oleh orang-orang dari Distrik 13. Termasuk Katniss sendiri. Hanya saja ada beberapa orang yang malah ditangkap oleh Capitol. Salah satunya itu, Peeta Meelark.

Katniss Everdeen pun kemudian hidup di Distrik 13 bersama-sama dengan para penghuni Distrik 12 lainnya yang terpaksa mengungsi. Di sana, Katniss pun perlahan-perlahan dipercaya oleh para pemberontak untuk jadi 'pemimpin'. Bukan pemimpin sesungguhnya, tapi hanya pemimpin bayangan untuk bisa digunakan sebagai alat untuk menyatukan distrik-distrik di Panem. Karena sesungguhnya pemimpinnya itu tetap Alma Coin, presiden di Distrik 13. Bisa dibilang juga, Katniss hanya jenderal lapangannya saja.

Lalu tugas pertama Katniss sebagai 'pemimpin' atau Mocking Jay adalah membuat propo-propo (Lebih mirip video klip gitu deh. Atau mirip iklan-iklan calon presiden menjelang pemilu).  Nah propo-propo itu digunakan sebagai bahan untuk semakin memanaskan pemberontakan terhadap Capitol. Video propo tersebut pertama kali disebarkan ke tiap distriknya untuk semakin menebarkan kebencian kepada Capitol. Bisa ditebak, distrik-distrik lainnya semakin terpancing dan ikut serta dalam pemberontakan.

Namun Capitol tak menyerah begitu saja. Capitol yang berhasil menahan Peeta, kemudian menggunakannya sebagai alat untuk menyiksa Katniss, sehingga Katniss berhenti melakukan usahanya tersebut. Awalnya Katniss mulai goyah untuk ikut serta dalam pemberontakan, tapi setelah dibujuk oleh para pemberontak, Katniss pun melanjutkan tugasnya sebagai Mocking Jay. Apalagi setelah para pemberontak berhasil membebaskan para tawanan seperti Peeta, Johanna Mason, dan Annie Cresta. Yah walau kondisinya Peeta semakin memburuk saat diselamatkan. Ia rupanya dicuci otaknya oleh Capitol, sehingga membuatnya membenci Katniss.

Setelah tawanan berhasil diselamatkan dan setelah Beetee berhasil memasukan propo ke dalam sistem jaringannya Capitol, perang pun semakin memanas. Perang tak terhindarkan lagi. Hal ini membuat Katniss mau tak mau harus turut serta berperang  bersama para pasukan terpilih, yang di dalamnya terdapat Gale, Boggs, Leeg 1, Peeta, Cressida, Pollux, dan beberapa lainnya. Mereka yang terpilih inilah berhasil masuk ke Capitol dan selangkah lagi berhasil masuk menuju ke kediamannya Presiden Snow.

Pada saat itulah, bala bantuan dari Distrik 13 datang. Mereka datang menggunakan pesawat dan menjatuhkan beberapa bom yang malah menewaskan Primrose, adiknya Katniss yang sedang bertugas medis di sana. Karena itulah, Katniss menjadi Avox (Avox itu orang bisu. Namun di triloginya,sepertinya para Avox ini muncul karena pihak Capitol yang memotong lidah mereka yang dicurigai sebagai pemberontak). Katniss bukannya tidak bisa berbicara karena lidahnya terpotong, namun kondisi emosionalnyalah yang membuatnya sulit berbicara. Yah walaupun pada akhirnya Katniss bisa bicara lagi, setelah menemui Snow yang berhasil ditangkap dan disekap di suatu tempat.

Lalu endingnya tersebut, Presiden Coin akhirnya mati di tangan Katniss yang sukses memanahnya. Nggak tahu kenapa, yah tapi setelah menyimak jalan ceritanya itu, Coin itu merupakan seseorang yang ambisius, sama seperti Snow. Berbahaya jika orang seambisius itu naik takhta. Apalagi Coin berencana mengadakan Hunger Games lagi untuk terakhir kalinya, yang bertujuan untuk membalaskan dendam kepada rezim Snow yang telah menyengsarakan Panem. Namun setelah Coin tewas terpanah, rencana itupun buyar. Snow sendiri akhirnya mati, entah karena terinjak atau karena mati tersedak karena tertawa.

Selanjutnya kondisi di Panem mulai memanas yang memaksa diadakannya pemilu dadakan. Setelah presiden barunya terpilih, Katniss disidangkan. Dalam sidang itu, Katniss dinyatakan bebas, setelah Dokter Aurel menolongnya dengan cara menyatakan bahwa ia tak waras. Setelah dibebaskan, Katniss pulang kembali ke Distrik 12 dan berusaha membangun kembali bersama orang-orang terdekatnya seperti Haymitch dan Peeta, yang akhirnya telah pulih.

Oh yah, novel ini lumayan menarik. Malah jauh lebih menarik daripada seri sebelumnya, Catching Fire. Sekali bacanya, rasanya tak ingin berhenti. Saking menariknya juga, aku sering beberapa kali mengintip halaman-halaman selanjutnya, padahal halaman yang satu saja belum selesai kubaca. Hehehe. Selain itu, Suzanne Collins, menurutku, cukup sukses menggambarkan situasi perangnya. Dia berhasil menggambarkan tiap detil perangnya ke dalam tulisan, sehingga pada saat membacanya, benar-benar terasa sedang berperang melawan Capitol. Bahkan ia sukses memberikan gambaran seseorang yang dicuci otaknya oleh Capitol, yaitu Peeta. Alhasil, aku memberikan nilai sempurna untuk Mocking Jay.

Sekedar informasi juga, setting yang digunakan di trilogi The Hunger Games ini adalah masa depan. Jadi wajar bila fashionnya, teknologinya, atau tata kotanya mungkin rada aneh di mata kita. Namun di sini aku salut dengan imajinasinya Suzanne Collins yang bisa menggambarkan suatu masa setelah masa kita ini.