Monday, May 14, 2012

(Mungkin) Mei 1998 memang tragedi


Kemarin, tepatnya tanggal 12 kemarin, merupakan peringatan tragedi Trisakti. Yah tanggal 12 Mei 1998 merupakan saat terjadinya Tragedi Trisakti. Dan setelah Tragedi Trisakti itulah, Indonesia mulai memanas. Kerusuhan mulai terjadi dimana-mana. Waktu itu aku masih kelas 3 SD, tapi percayalah aku tahu kok bagaimana mencekamnya saat itu. Berbeda dari Tomkuu, aku cukup up-to-date tentang Mei 1998. Walau samar-samar, aku bisa tahu bahwa awalnya kerusuhan itu bermula di timur Indonesia sana. Tepatnya di Ambon (Bener kan yah?).

Dari Ambon, kudengar gejolaknya mulai menulari daerah lainnya seperti Solo, Surabaya, Medan, Bandung, hingga ibukota. Sejumlah mahasiswa-mahasiswi Jakarta mulai ikutan berdemo. Hal yang kutahu itu, karena pengaruh berita-berita di TV, mereka berdemo buat menurunkan presiden Soeharto dari tahtanya. Motifnya? Aku nggak begitu paham sama sekali. Masih terlalu kecil buat mengerti yang namanya politik. Apalagi kata politik itu memang kata asing buatku saat itu.

Aku juga ingat. Saat aku lagi di dalam kelas, mendadak mamiku datang ke sekolah buat jemput aku. Sepintas yang kudengar, mami bilang: "Mau ada kerusuhan," Dulu waktu itu, aku sudah cukup paham dengan kata 'kerusuhan'. Apalagi di bayanganku saat itu, kata kerusuhan itu bermakna sama seperti tawuran. Orang-orang sibuk melempari barang di jalan, bawa senjata, teriak-teriak, dan.... segala sesuatu yang jelas bikin anak kelas 3 SD ketakutan. Ditambah lagi dulu pernah nggak sengaja melihat ulah bonek (Bondo Nekat, suporternya Persebaya) di stadion waktu diajak jalan-jalan ke Jakarta. Makanya aku cukup ketar-ketir waktu dengar kata kerusuhan terdengar dimana-mana.

Apalagi tak seperti orangtuanya Tomkuu, papi-mami saat itu dengan santainya - seolah-olah aku tak ada - menayangkan berita-berita seputar politik dan kerusuhan di rumah. Alhasil aku jadi tahu bagaimana carut marutnya negeri ini waktu itu. Rumah dibakar, mobil dibakar, bangunan gedung dilempari batu, mahasiswa ribut sama polisi, toko-toko dijarah dan dibakari..... Aduuuuh, serius deh, aku kayak lagi nonton film-film bergenre thriller seperti Anaconda. Sempat juga kulihat beberapa ekpatriat yang terpaksa balik lagi ke negaranya karena Mei 1998. Swear, Indonesia used to become a hell.

Bahkan mall termegah di Tangerang, Supermall, jadi sasaran amuk massa (khalayak, bukannya mahasiswa lho yah! Anyway jadi ingat kelakarannya @profdodo waktu itu.:P). Sempat kudengar mall tersebut dibakar sampai habis. Begitupun dengan Hero Modernland dan Ramayana Ciledug. Beberapa tahun setelahnya, bangunan-bangunan tersebut kini jadi berhantu. Tak banyak orang yang berani ke sana di atas jam 9 atau 10 malam. Hingga sempat juga Ramayana jadi bahan cerita di acara televisi berjudul Kismis (Kisah Misteri). Itu dulu ditayangkan di RCTI jam 9 malam.

Saking mencekamnya pula, aku pernah melihat panzer terparkir di komplek Mahkota Mas, Cikokol, Tangerang. Ratusan aparat bertebaran di jalan-jalan kota Tangerang. Yah tahu sendirilah kalau Tangerang dan Jakarta itu lumayan dekat sebetulnya. Bila nggak macet dan nggak ngetem, cukup 30-60 menit perjalanannya. Wajarlah kalau aura ketegangan di Jakarta segera tertular ke Tangerang. Gara-gara itu juga, beberapa sekolah di Tangerang di-belajar di rumah-kan alias libur.

inspired by

Tak bisa dipungkiri pula, etnis Tionghoa (Aku nggak menggunakan kata China. Soalnya itu terdengar kalau mereka itu orang asing di Indonesia) yang paling kena dampaknya. Gadis-gadis bertampang oriental banyak yang diperkosa, hingga betapa susahnya menghilangkan rasa traumanya. Beberapa lainnya mengalami siksaan. Bahkan saking takutnya , beberapa rumah atau bangunan sempat ditulisi: 'Ini rumah pribumi!'

Simak  pula kisah pria ini yang kukutip dari blognya Tomkuu:

Lelaki ini seperti biasa pergi ke satu tujuan atas perintah bosnya untuk mengambil uang (jumlah sangat besar 300 juta.. cash)... dengan mengendarai motor ia berhasil mengambil uang itu... namun di perjalanan pulang ia harus menemui kesialannya itu... beberapa kali ia tidak bisa lewat karena mendapatkan banyak massa memblokir jalan... hingga ia memutar arah dan mencoba jalur lain... tamun ternyata dimana-mana jalan sudah terblokir dan ia harus menerima "hari sialnya"... ia turun dari motornya dan berlari sambil membawa uang di tas itu dengan tujuan menyelamatkan diri,.. namun ia di hadang dan akhirnya di keroyok... ia dipukuli... di injak-injak... (sampe di contohin gimana diinjak-injaknya) dan dengan keadaan berlinang darah (keluar dari hidung, telinga, dan mulut) ia diseret ke motornya yang sudah terkapar di jalan lalu tangki bensin motor di buka dan di banjurkan ketubuh si om-om ini (TK lupa namanya.. klo gak salah Wanto)... dan ia di bakar.... namun untungnya ia selamat... namun dengan keadaan yang mengenaskan... jari-jarinya banyak yang hilang dan menempel... dan hal ini menimbulkan luka yang mendalam buat si om-om ini... ia bercerita kalau ia juga pernah mencoba untuk bunuh diri... namun ia diselamatkan...




What the hell!!

Sampai sekarang aku masih bingung dengan kata 'pribumi' itu. Pribumi itu maksudnya orang-orang Indonesia tanpa kaum pendatang atau hanya suku-suku yang tinggal di Jawa saja (# No offense). Mungkin saja kan kata pribumi itu sebetulnya hanya merujuk ke suku atau agama tertentu saja. Soalnya dalih pribumi itu sering terdengar dari arah sekelompok suku atau agama tertentu. Bukannya SARA atau rasis nih, but that's fact. Fakta, sejelek apapun, nggak usah ditutupi. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti ketahuan juga.

Jujur selama sudah dinaturalisasi atau selama sudah tinggal untuk waktu yang cukup lama, menurutku seseorang sudah bisa dianggap orang Indonesia. Mau itu Batak, Jawa, Sunda, Tionghoa, Arab, India, Ambon, ataupun Papua, selama di hatinya itu tetap merah putih, dia tetap dan akan selamanya orang Indonesia. Kecuali kalau dia lebih merasa berkewarganegaraan Amerika, Jepang, atau Belanda, itu lain soal. Seharusnya perasaan kebangsaan atau nasionalisme seseorang itu tidak ditentukan oleh orang lain. Siapa saja berhak  mengakui kalau dia orang Indonesia, selama dia mau.

Aku juga geleng-geleng kepala saat ada orang yang mencibir etnis Tionghoa karena kesuksesan mereka. So what? Tokh selama ini kulihat, mereka sukses karena usaha mereka. Anyway etnis Tionghoa cukup cerdas dalam mengatur hidup mereka. Anak mereka, saat masih bayi, sudah diancang-ancang mau jadi apa dan kemana. Plus pernah kubaca juga di sebuah koran, etnis Tionghoa dan etnis Batak cukup strict kalau bicara soal pendidikan. Mereka sukses karena mereka pekerja keras. Itulah yang seharusnya bisa kita contoh dari mereka, bukannya malah dicibir dan dihina.

Kadang juga nggak habis pikir sama orang-orang yang masih berpikiran sempit, yang masih belum bisa kenyataan sama kemajemukan negeri Indonesia ini. Masih geleng-geleng kepala melihat kaum mayoritas menindas yang minoritas, seolah-olah ingin menunjukan superioritasnya. Masih gemas dengan mereka yang  masih hidup dalam paham sukuisme, chauvinisme, ataupun rasisme. Harus yah?  Apa sih yang harus dibanggakan dari ras, suku, atau agama kalian? Tokh juga mati sama-sama jadi abu lagi.

Finally, i hope the tragedy keep in memoriam ever and ever. Just live in the history books without replay. We don't need other tragedies. Enough tragedy only and it is  May 1998 Tragedy.

Please guys, if we could use the constructive solution,we don't need the destructive. Peace is  beautiful. Damai teh endah. ^^

# Tragedi Mei 1998 In Memoriam