Tuesday, May 29, 2012

(Mungkin) Hanya slogan yang tak bermakna sama sekali


Dulu aku sering terheran-heran dan rasanya tak percaya tiap kali menonton Reportase Investigasi yang ditayangkan di Trans TV tiap Sabtu pukul 17.00. Tak percaya dengan segala hasil reportase mereka tersebut. Apa iya rakyat Indonesia itu selicik itu dalam berusaha, sampai-sampai segala jenis produk pun dipalsukan? Mulai dari jajanan bocah, rinso, obat, hingga onderdil kendaraan bermotor. Bahkan saking tak percayanya, aku mengira itu semua hanya akal-akalannya stasiun TV tersebut.

Tapi setelah kejadian yang menimpaku kemarin minggu itu, aku sadar bahwa tayangan tersebut (mungkin) memang berdasarkan fakta. Setidaknya itu menurut opini dangkalku. Ketidakjujuran dan rasa tanggung jawab makin sulit dicari di negeri ini. Lihat saja bagaimana si Tapiheru itu sudah mencecarku dulu, sebelum aku jelaskan akar masalahnya. Bicaranya juga berbelit-belit dan berputar-putar pada sebuah pernyataan yang pro-penjual: 'Situ kalau jualan, trus ada pembeli mau nuker sama yang ancur, gimana?' Padahal jelas-jelas aku yang dirugikan. Barangnya rusak, karena di luar kemauanku (Force majeur). Toh bisa saja kan dia bicara seperti itu sebagai dalih untuk menghindarkan diri dari tanggung jawab. Bisa saja kan barang tersebut memang sudah retak atau berkualitas buruk.

Apalagi kemarin sore, aku diberitahukan mami bahwa sebetulnya si Tapiheru tetap ngotot nggak mau ganti rugi. Uang sebesar Rp 10.000 yang diberikan mami kepadaku itu murni dari kantong beliau. Bahkan menurut penuturannya, si Tapiheru malah bilang bahwa akulah yang memaki-maki dia. Oh shit! Jujur, dari awal aku complaint ke dia secara baik-baik. Bahkan aku rela menungguinya sewaktu dia sibuk melayani pembeli yang datang sebelum aku. Malah si Tapiheru-lah yang bicaranya lumayan kencang, melecehkanku, dan mempermalukanku di depan umum. Itu belum lagi dengan sebuah fakta berikut: 'Dia berusaha melemparku dengan sebuah bangku.'

Selain masalahku dengan si penjual, ada pula masalah temanku yang kehilangan sepedanya di warnet. Sudah hilang, sang pemilik sekaligus operatornya juga tak bertanggung jawab. Bahkan bersimpati tidak. malah dengan entengnya, dia berkata bahwa itu bukan tanggung jawabnya warnet tersebut. Beda cerita kalau warnet tersebut memberikan sedikit 'santunan'. Yah namun seperti penuturan temanku tersebut, tak ada niatan baik (good faith) yang ditunjukan si pemilik kepada temanku tersebut.

Sehingga setelah dua kejadian tersebut, bolehlah aku berkesimpulan bahwa tayangan per tayangan yang disajikan acara reportase tersebut memang setidaknya berdasarkan fakta. Wajarlah pula bila angka korupsi di negeri ini lumayan tinggi. Tindakan korupsi tak hanya dilakukan oleh orang-orang kelas atas saja, namun sudah merasuki nyaris sebagian rakyatnya, termasuk kaum jelata. Hati nurani mereka menjadi tumpul. Kecurangan pun merebak dimana-mana, hingga konsumen selalu menjadi awam yang terus dirugikan. Tak peduli bagaimana complaint konsumen terkait kerugian yang mereka derita, para penjual atau pebisnis selalu punya 1001 cara untuk mengelak dari tanggung jawabnya.

Kalau sudah begini, sepertinya kata-kata 'Pembeli adalah Raja' hanyalah sebuah slogan biasa yang tak bermakna sama sekali.