Thursday, April 12, 2012

REVIEW: The Raid: Redemption


Genre: Action
Sutradara: Gareth Evans
Pemain: Iko Uwais, Donny Alamsyah, Pierre Gruno, Ray Sahetapy, ...



Dari akhir bulan Maret lalu, aku cukup dibikin penasaran sama kata 'mad dog' yang sering kutemui tiap kali buka twitter. Awalnya kukira itu adalah nama penyakit yang disebabkan oleh anjing (baca: Rabies). Eh tahunya, setelah buka blognya si Tukang Colong, aku baru tahu kalau Mad Dog itu salah satu nama tokoh di The Raid.

Film The Raid sendiri awalnya kukira adalah nama sebuah film  baru dari negeri Paman Sam. Namun sama kayak Mad Dog, dugaanku salah lagi. The Raid sendiri merupakan sebuah film karya anak bangsa. Nyaris orang-orang di belakang layarnya adalah putera-puteri bangsa Indonesia, termasuk artis-artisnya.Dan katanya, film The Raid ini sendiri berada di posisi 20 di tangga box office. Selain itu, sudah ditayangkan di 875 layar di Amerika. Hmm, mantap nggak tuh?

Oleh karena itulah, aku penasaran. Sebeleum nonton filmnya sekarang, aku googling dulu sebentar untuk tahu lebih lanjut tentang film ini. Ku-googling, ketemulah sebuah sinopsis dari situs Ngono:
Tim SWAT (special weapons and tactics), atau pasukan khusus tiba di sebuah blok apartemen yang tidak terurus dengan misi menangkap pemiliknya, raja bandar narkotik bernama Tama. Blok ini tidak pernah digerebek oleh polisi sebelumnya. Sebagai tempat yang tidak dijangkau oleh pihak berwajib, gedung tersebut menjadi tempat berlindung para pembunuh, anggota geng, pemerkosa, dan pencuri yang mencari tempat tinggal aman.

Mulai bertindak di pagi buta, kelompok SWAT diam-diam merambah ke dalam gedung dan mengendalikan setiap lantai yang mereka naiki dengan mantap. Tetapi ketika mereka terlihat oleh pengintai Tama, penyerangan mereka terbongkar. Dari penthouse suite-nya, Tama menginstruksikan untuk mengunci gedung apartemen dengan memadamkan lampu dan menutup semua jalan keluar.


Terjebak di lantai 6 tanpa komunikasi dan diserang oleh penghuni apartemen yang diperintahkan oleh Tama, tim SWAT harus berjuang melewati setiap lantai dan setiap ruangan untuk menyelesaikan misi mereka dan bertahan hidup.
Ceritanya boleh juga. Ceritanya cukup menarik dan bisa membuatku harus menontonnya langsung. Maka pergilah aku ke bioskop 21 di mall WTC. Kebetulan di mall tersebut, filmnya diputar pada jam 12.30. Langsung saja, tanpa berpikir lagi, aku beli dan menonton filmnya.

Saat awal menontonnya, aku langsung disuguhi oleh adegan orang sedang sholat. Mungkin sutradaranya ingin menunjukan kalau settingnya adalah di Indonesia. Sehingga adegan itulah yang dipilih sebagai pengisi scene pertama. Lalu setelah itu, orang sholat yang rupanya bernama Rama itu pamit ke istrinya untuk turun ke dalam sebuah misi menggerebek sebuah apartemen yang merupakan tempat persembunyian para penjahat. Dan dari sanalah, pertempurannya dimulai.

Tim SWAT yang di dalamnya ada Rama, mati-matian berusaha masuk ke ruang dimana Big Bossnya berada. Dan untuk sampai di sana, telah banyak nyawa melayang. Baik itu dari anggota SWAT, maupun penghuni apartemennya. Namun hanya beberapa orang yang bisa selamat dan salah satunya itu ialah Rama. Rama ini berhasil selamat, setelah harus bercucuran darah. Rupanya ia berhasil selamat karena ada kakaknya yang merupakan bagian dari suatu konspirasi.

Rupanya juga, misi penggerebekan itu bukanlah suatu misi kemanusiaan. Namun itu semua hanya kedok untuk mendapatkan nama. Pimpinan mereka yang merancang semuanya itu, Wahyu, pada akhirnya akan ditangkap oleh Rama. Sedangkan Big Boss-nya, Tama mati karena ditembak oleh Wahyu. Selanjutnya, menurutku, ending-nya agak sedikit gantung. Nggak jelas bagaimana nasib dari Rama, Wahyu, hingga apartemen tersebut setelah Tama mati.

Selain ending-nya yang agak begitu nggak jelas, secara teknis, film ini cukup baik. Sisi angle-nya baik, tata suaranya juga lumayan apik, serta acting para pemainnya juga lumayan meyakinkan. Terutama untuk pemeran Mad Dogg. Yayan Ruhian. Yayan ini cukup bagus acting-nya untuk ukuran pendatang baru (Pendapatku). Efek suaranya juga digarap dengan baik. Terbukti efek suaranya mampu bikin penonton (Salah satunya itu aku)  jadi geregetan waktu menyimak alur ceritanya.

Okay, secara sinematografinya cukup apik dibuatnya. Namun tidak untuk segi plotnya. Karena film ini tidak menceritakan secara rinci kejadiannya, mulai pada saat penggerebekan hingga ending-nya. Kalau aku tak baca sinopsis dari Ngonoo tadi, aku benar-benar bingung sama ceritanya. Sebabnya dari awal tak dijelaskan asal muasal kenapa apartemen itu digerebek, konspirasi yang ada di dalamnya, nasib Wahyu setelahnya, hingga ada seseorang tokoh yang aku benar-benar bingung dengan kemunculannya. Karena menurutku, orang itu nggak ada tampang orang jahat. Malahan istrinya sedang sakit. Jadi siapakah pria tersebut dan kenapa ia ada di apartemen neraka tersebut? Entahlah.

Oh yah, sesuai banyak yang dibilang banyak orang, film ini penuh dengan darah. Maksudnya itu, banyak adegan-adegan sadisnya. Selain tembak-tembakannya, di film ini juga ada adegan tusuk-tusukannya. Yah jadi diharapkan - kalau kalian mau menontonnya - tidak membawa anak-anak, khususnya yang masih SD dan SMP. Kondisi psikis dan kejiwaan mereka, kurasa, belum siap untuk melihat adegan-adegan sadisnya yang cukup frontal dipertunjukan.

Overall, aku memberikan film ini skor 8 dari 10 bintang. Kalau saja, alurnya diperjelas sedikit, mungkin bisa dapat  8,5 atau 9. Yah tapi setidaknya film ini berhasil membuktikan kalau Indonesia mampu memproduksi film-film laga dengan mutu yang hampir menyamai Hollywood.:D

Juga setidaknya film ini dapat memuaskan para pecinta film-film laga, yang kurang begitu suka dengan film laga yang penuh dialog. Jujur saja nih, film ini kebanyakan dipenuhi aksi-aksi laganya ketimbang dialognya. Jadi nggak ngebosenin waktu nontonnya. 




* Tulisan ini diikutsertakan  dalam Lomba Blog Review yang diselenggarakan oleh NGONOO.com