Monday, April 9, 2012

(Mungkin) Sinetron itu representasi masyarakat


Banyak yang bilang kalau sinetron itu banyak yang nggak makes sense-nya. Nggak logis. Ngawur. Nggak mendidik. Membodohi masyarakat. Yah itulah mungkin yang ada di gambaran para sinetron-haters. Tapi sesungguhnya, sinetron itu representasi dari kehidupan masyarakat.

Representasi?

Yah representasi. Aku bilang seperti ini bukan berarti aku pecinta sinetron, lho. Aku juga nggak begitu suka nonton sinetron. Palingan nonton sinetron kalau ada cewek cakepnya aja. Oke, bagian yang ini abaikan saja. Hehehe.

Tapi kata-kataku ini ada benarnya juga. Sinetron itu sungguh representasi dari kehidupan masyarakat. Gambaran masyarakat sesungguhnya sudah terwakili dari sinetron. Alurnya mungkin yah agak-agak melenceng dari sosialita yang ada. Tapi... Ketidaklogisannya itulah yang mirip sama kehidupan masyarakat.

Yup, seringkali kan banyak kita temui hal-hal tak logis dalam kehidupan kita. Contohnya itu, dulu waktu aku SD, aku pernah baca berita di TV kalau ada seorang ibu yang meninggalkan anaknya sendirian saja di dalam mobil yang tertutup dan hanya mendapatkan udara dari AC. Atau kisahnya Sumanto si Kanibal yang dulu pernah kudengar. Atau kisahnya Ryan si Penjagal, yang membunuh hanya karna cemburu dengan pacar sesama jenisnya. Atau sejumlah kisah cerainya selebritis, yang menurutku banyak nggak logisnya. Masak baru nikah beberapa bulan saja, sudah minta cerai?

Nggak hanya di televisi pula. Di kehidupan sehari-hari, aku banyak menemui ketidaklogisan tersebut. Salah satunya itu, kisah tukang sampah yang buta di komplekku. Kayaknya nggak logis aja yah, ada orang buta yang bisa tahan mendorong gerobak sampah hingga hampir lima tahun. Itu kan pekerjaan yang berat. Geleng-geleng kepala tiap kali melihatnya. Takjub aja. Hmmm.

Itu baru tukang sampah buta. Di daerah tempat aku tinggal, masih banyak lagi ketidaklogisan tersebut. Contoh lainnya itu adalah sebuah warung serba ada. Di komplekku, ada sebuah warung yang dimiliki oleh sepasang suami istri yang menurutku, idealis. Kenapa idealis? Yah karena warung ini sama sekali tidak menjual rokok. Setiap ada pengunjung yang datang untuk membeli rokok, mereka selalu bilang 'Nggak jualan rokok.' Hingga mereka juga menempel karton di dinding yang bertuliskan 'Tidak menjual rokok.' Dan keidealisannya mereka itu tidak hanya berhenti sampai di masalah rokok saja. Saking idealisnya, mereka menutup warungnya setiap kali adzan maghrib ataupun sholat jumat.

Oya, ngomong-ngomong soal idealis, aku punya teman yang begitu idealis. Sangat, malah. Temanku yang bernama Bobby itu. Saking idealisnya itu, dia kayaknya enggan kalau ada yang menconteki lembar jawabannya saat ujian. Keidealisannya dia itu lebih tersirat lagi di tulisan-tulisannya yang ada di Facebook. Beberapa kali membaca tulisan-tulisannya yang sengaja di-tag kepadaku, bikin aku sadar kalau si Bobby ini idealis (Silakan baca yang ini, ini, dan ini). Dia itu.... benar-benar berpikiran idealis. Lebih idealis dariku.

Selain si Bobby dan empunya warung tersebut, ada lagi contoh idealis lainnya. Itu adalah empunya warnet yang sekarang warnetnya sudah tutup. Dulu tuh warnetnya setiap kali mau sholat jumat, pasti deh beranjak tutup dulu untuk sementara waktu. Untuk mempertahankan keidealisannya itu, dia sampe memohon para pengunjungnya untuk pulang dulu dan datang lagi nanti setelah sholat jumat. Jarang-jarang, aku melihat ada warnet seperti itu. Hmmm.

Hah? Sumpeh loo?

Back to the irrationality.

Tak hanya warung idealis yang sungguh idealis - mengingat rokok adalah item paling sering dicari - ada lagi ketidaklogisan yang pernah kutemui. Itu terwujud dalam bentuk warnet. Yah warnet. Dan temanku pernah kehilangan sepedanya di warnet dan si empunya warnet sama sekali tak acuh. Di mata temanku itu, pemilik warnetnya itu kayaknya nggak peduli. Apalagi waktu dia minta ganti rugi, si empunya warnet malah menunjuk ke sebuah tulisan yang bertuliskan 'Tidak Bertanggungjawab atas Kehilangan Motor atau Sepeda.' Padahal sepedanya temanku itu hilangnya di halaman warnet tersebut.  Sudah gitu, yang punya warnet juga tidak menunjukan respeknya. Yah minimal menawarkan sejumlah duit untuk ongkos pulang atau apalah. Dia bahkan dengan entengnya bilang 'Yah di daerah sini emang rawan maling. Udah banyak sepeda yang ilang dek.'

What the...



Benar-benar nggak logis kan? Harusnya ketika tahu hilangnya di halamannya, setidaknya si empunya warnet bisa menawari opsi ganti rugi tanpa diminta. Yah minimal separo dari harga sepedanya. Secara logisnya, yah seperti itulah yang harus dilakukan si empunya warnet tersebut. Tapi sudahlah. Karena menurut penuturan temanku itu, warnet tersebut sudah tutup. Resmi tutup. Mungkin itulah azab dari Tuhan untuknya. Hehehe.

Hingga ketidaklogisan tersebut tak hanya kulihat sendiri, namun juga kualami. Yah aku bahkan mengalami sendiri. Waktu itu, aku baru saja pulang dari kampus. Apesnya, bus yang kutumpangi mendadak menurunkan semua penumpangnya di daerah Palem-Karawaci. Mau tak mau, aku naik angkot buat transit lagi di Cikokol. Nah pas sampai Cikokol, aku turun dari angkot. Segera kukasih uang Rp 5000 ke sopirnya. Begonya, kembaliannya nggak kuminta. Padahal harusnya tarifnya itu Rp 3000. Dan aku baru sadar kalau kembaliannya lupa kuminta itu baru dua jam kemudian dari waktu kejadiannya. Oke, itu bukannya nggak logis lagi. Tapi akunya aja yang kelewat ceroboh.

Oh Tuhan, kenapa aku bisa seteledor itu sih?

Itu baru satu contoh. Masih banyak ketidaklogisan yang kualami sendiri. Pernah aku meninggalkan kunci rumah di lubang pintunya, yang masih menempel. Untungnya saat itu, aku baru sadar ketinggalan baru sepuluh menit. Kebayang kalau aku nyadarnya pas lagi di bus. Rumah bisa didatangi tamu tak diundang. Huehehe.

Atau kisah lainnya saat aku mengadu ke operator warnet kalau aku baru saja (merasa) ketinggalan flash disk di warnet tersebut. Pas kembali lagi ke sana, flash disk-ku sudah nggak ada di komputer yang baru saja kupakai. Aku langsung mencak-mencak ke operatornya dan pulang dengan kecewa. Pada saat aku tiba di rumah, aku baru ingat kalau flash disk-nya sudah kulepas dan kutaruh di kantong celana yang sudah kutaruh di keranjang pakaian yang ada di kamar mandi. Itu. awkward. moment. banget.

Errr...

Tak hanya di dunia nyata. Ketidaklogisan tersebu juga kutemui di dunia maya, khususnya di twitter. Sering kulihat, ada beberapa orang yang suka nulis tweet-tweet kode. Tweet kode itu sama kayak surat kaleng. Bedanya, kalau di tweet kode itu, nama pengirimnya jelas dan yang nggak jelas itu malah orang yang dituju. Contohnya itu, pernah kubaca salah satu tweet seseorang yang berbunyi: 'dekap aku kau ku bully, berani ngelawan kau ku caci' Nah, itu kan nggak jelas banget siapa yang mau dia bully. Dan hal tersebut, sering kualami di situs jejaring sosial twitter. Makanya nggak usah heran kalau ada istilah 'Nulis buat siapa, yang kesindir siapa'.

Itu. absurd. banget.

Jangan-jangan daku yang dituju? :p

Jadi kesimpulannya, sinetron yah (mungkin) menggambarkan keadaan sesungguhnya dari masyarakat, Jadi, please, stop bilang sinetron itu nggak logis. Bukan karena aku pecinta sinetron nih, yah tapi karena yang kubilang ada benarnya juga. Apalagi sinetron juga ada gunanya kok. Itu memberikan suatu pelajaran ke anak-anak atau orang-orang yang suka nangis. Ada kan orang-orang kayak gitu?!

Nah sinetron itu sepertinya mau bilang kalau nangis itu adalah aset. Coba lihat saja sendiri. Rata-rata sinetron yang ratingnya  tinggi adalah sinetron yang banyak mengumbar adegan nangisnya. Itu kan bisa kasih peluang ke mereka yang gampang nangis untuk ikutan casting jadi pemain sinetron. Hahaha. #DitimpukinBuahBusuk







NB: Rata-rata gambar bersumber dari tumblr