Saturday, April 28, 2012

(Mungkin) Internet untuk rakyat

Internet.

Jaman sekarang siapa sih yang nggak kenal internet. Mulai dari anak-anak, ABG, mahasiswa, sampai lansia aja tahu apa itu internet. Mulai dari berbagai macam profesi juga tahu internet. Apalagi sekarang memang mudah sekali mengakses internet. Dengan bermodalkan uang seribu-dua ribu rupiah, seseorang sudah bisa mengakses internet. Nggak percaya? Coba saja anda kunjungi warnet di dekat rumah anda yang memang sih kebanyakan tarifnya Rp 2000 sekali buka billing. Bahkan saking mudahnya diakses, orang bisa berselancar ria hanya dengan bermodalkan ponsel atau smart phone-nya. Isi pulsanya, aktifkan GPS-nya, maka anda bisa menjelajahi dunia (*maya).

Yah sekarang sih, orang mudah yah buat mengakses internet. Tapi tahukah anda kalau jaman aku masih seorang bocah yang imutnya mengalahkan Bo Bo Ho (*Muntah aja sekalian! :P), internet itu masuk ke kebutuhan tersier. Alias masih barang mewah. Hanya segelintir orang saja yang bisa mengakses internet, khususnya orang kaya. Bahkan saking mewahnya, sampai ada intemezo tentang internet: 'Indomie TeloR korNET' (*Iye tahu, nggak nyambung!). Saking mewahnya juga, aku nggak yakin juga Facebook dan Twitter bisa menjadi situs jejaring sosial paling diminati kalau saja dibuat di era 1990-an. Yah mengingat, sekarang-sekarang ini, Indonesia termasuk di sepuluh besar negara yang penduduknya punya akun di Facebook.

Oya, aku juga bersyukur karena aku sudah mengenal internet sejak aku masih SD. Kalau nggak salah, tepatnya itu waktu aku kelas 5 SD. Aku bersyukur papiku memasang koneksi internet di rumahku. Wah serasa jadi orang kaya deh waktu itu. Huehehe. Dan waktu itu juga, alamat web yang pertama kali kubuka itu Yahoo. Dulu tuh, aku suka banget nyebut Yahoo berkali-kali. Soalnya terdengar seperti Yabadabadoo-nya Flinstones. Juga agak mirip sama suara cemoohan 'Buuuu...' Walau dulu aku pertama kali menyebutnya itu Yaho. Yah maklumlah, aku kan masih kecil. Bahasa Inggrisku juga belum sebagus sekarang. Hehehe.

Meskipun sudah kenal dengan internet sejak SD, aku baru benar-benar menikmati ber-surfing ria itu waktu SMP. Dulu aku suka banget buka Google. Aku suka ketik nama aku sendiri di kotak pencariannya, yang pastilah nihil hasilnya. Kalau sekarang mah ketik nama sendiri, sudah banyak web yang majang namaku. Dan itu semua gara-gara beberapa blogger yang dengan biadabnya menuliskan nama lengkapku di blog mereka. Selain buka google, aku juga suka browsing ke beberapa situs resmi klub sepakbola. Nggak heran, hingga sekarang, aku sudah tahu situs resminya Inter Milan, Chelsea, dan Real Madrid. Oh yah, aku juga suka buka situsnya Majalah Bobo dan membaca beberapa cerpennya juga lho secara online.

Karena hobiku yang suka browsing ini, aku juga mulai mengenal situs-situs porno alias bokep. Yah mungkin itulah imbas dari kebiasaanku suka browsing. Orang yang suka browsing pasti -cepat atau lambat - akan mendarat juga di salah satu sisi hitamnya internet. Apalagi jamanku SMP, belum ada UU ITE, UU Pornografi, dan pengaturan soal internetnya nggak seheboh sekarang. Juga keberadaan warnet dan game online waktu itu belum segencar dan semarak sekarang. Jadi wajarlah, kalau pada masa itu proteksi terhadap sisi hitamnya internet tersebut masih lemah di Indonesia .

Dulu, jamanku masih SMP, orang kalau mau mengakses internet pasti harus merelakan sambungan komunikasi teleponnya diputus. Dengan kata lain, telepon di rumahku nggak bisa dipakai sama sekali kalau lagi buka internet. Nggak bisa menelpon, juga nggak bisa menerima panggilan dari luar. Alhasil, biaya internetnya itu masuk ke tagihan telepon. Semakin sering berinternet, semakin mahal pula tagihan teleponnya. Jadi kalau mau masang jaringan internet di rumahnya waktu itu, yah harus kuat juga yah keuangannya. Huehehe.

Kalau sekarang, biaya internet dengan biaya telepon sudah terpisah. Sekarang modemnya itu sudah nggak terhubung lagi dengan jaringan teleponnya. Mau selama apa kek pakai internetnya, nggak ngaruh tuh sama tagihan teleponnya. Apalagi modem internet sekarang ini sudah cukup terjangkau harganya. Dengan duit sekitar Rp 100.000, orang sudah bisa beli modem dan mengakses internet dari rumahnya. Nggak mampu beli modem, ada warnet yang tarifnya itu rata-rata masih murah meriah.Selain warnet, ada pula tempat hotspot yang menyediakan layanan internet tanpa kabel (Wifi) yang biasanya sih nggak dipungut bayaran. Karena itulah, makin banyak orang yang bisa mengakses internet. Mulai dari browsing situs-situs, main online game, hingga stalking status facebook atau tweet orang. Penggunanya pun tak hanya orang dewasa. Anak-anak SD pun juga ada. Karena itulah pula, pengaturan tentang internetnya itu diperkuat di Indonesia. Mulailah bermunculan beberapa peraturan hukum yang mengatur mengenai aktivitas online seseorang.

Wow! Gila yah perkembangan internet di Indonesia. Aku nggak menyangka kalau internet benar-benar untuk rakyat banget. Bener banget tuh slogannya Axis itu. :P




Hmm, kira-kira siapa dan bagaimanakah yang membuat internet semakin digemari oleh rakyat Indonesia? Anyone knows? :P