Monday, April 30, 2012

(Maybe) I got three precious stuffs from TV yesterday



Hanya mau membagikan tiga hal berharga yang kudapatkan dari kegiatanku menonton televisi di hari minggu kemarin. Semoga saja apa yang kudapatkan kemarin bisa berguna. And check it out!

1. Choose what-you-need, and not choose what-you-want                                           
Kemarin pagi, aku baru saja menonton Crayon Shinchan dan ada satu cerita yang menarik perhatianku. Nah ceritanya itu menceritakan Shinchan bersama tantenya, Musae berusaha agar bisa menang undian yang berhadiah sekarung beras. Mereka bertekad seperti itu, karena mamanya Shinchan, Misae mendadak minta dibelikan beras. Namun apesnya, uang yang diberikan untuk suatu hal oleh mamanya Shinchan itu habis. Habis karena dibelikan es krim. Padahal kalau nggak dibelikan es krim, uangnya masih cukup untuk membeli beras.

Karena itulah, mereka berdua ketakutan membayangkan kemarahannya Misae, hingga akhirnya memutuskan ikut undian, yang kebetulan salah satu hadiahnya itu sekarung beras. Awalnya mereka gagal, karena Shinchan hanya mendapatkan bola putih. Untuk mendapatkan beras, bola yang harus keluar adalah bola merah. Namun di kesempatan kedua, Shinchan gagal lagi mendapatkan bola putih. Ia malah berhasil mendapatkan bola kuning yang hadiahnya itu liburan ke Hawaii. Tantenya adi kegirangan dan lupa akan niat awalnya, yaitu harus memenangi beras itu. Tapi akhirnya peluang ke Hawaii itu kemudian ditukarkan oleh Shinchan dengan hadiah beras sekarung yang dimenangkan oleh kakak-kakak cantik sebelumnya. Shinchan dengan polosnya berkata: “Kan aku menang liburan ke Hawaii-nya karena undian yang kakak kasih, jadi lebih baik kalau ini buat kakak saja. Apalagi sebetulnya aku juga lebih membutuhkan beras itu.” (*Yah kurang lebih seperti itulah kata-katanya Shinchan itu)

Nah di situ aku salut sama Shinchan dan sekaligus tersadar.  Sadar jika seharusnya kita bisa memilih apa yang kita butuhkan, dan bukannya memilih apa yang kita inginkan. Namun kenyataannya, kita lebih suka memilih apa yang kita mau. Bahkan saking ngebetnya, kita jadi melupakan sesuatu yang genting sekali kita butuhkan dan malah menimbulkan masalah baru. Sama seperti yang dialami Shinchan itu tadi. Kebayang kalau seandainya Shinchan lebih memilih liburan ke Hawaii tersebut  daripada sekarung beras. Bisa-bisa ketika pulang, mereka malah nggak bisa makan malam dan juga harus kena omelan Misae, mamanya itu.

Hidup memang harus memilih. Tapi pilihlah yang terbaik, dan yang terbaik itu bisa jadi apa yang kita butuhkan saat ini.



2. Minute Men, A Bullying Hero                                                 
Kemarin sekitar jam satu siang, RCTI menayangkan film keluaran Walt Disney. Film itu menceritakan mengenai kemunculan tiga orang pahlawan Bullying (Virgile, Charlie, Zeke) bernama Minute Men yang beroperasinya itu dengan menggunakan pakaian salju. Mereka pergi menjelajah waktu demi menyelamatkan teman-teman sekolahnya yang selalu di-bully. Niatnya sih baik, tapi entah kenapa, orang yang biasanya di-bully mendadak jadi pem-bully setelah mereka tolong. Masalah baru muncul dan tambah kacaunya lagi, dimensi waktunya menjadi kacau karena ulah tiga orang Minute Men tersebut. Timbul black hole yang bisa mengancam warga. Nah untuk menebus rasa bersalahnya, mereka bertiga berkorban masuk ke dalam black hole itu dan kembali ke masa lalu, tepatnya masa dimana Virgile dan Charlie sedang di-bully oleh anak-anak eskul Rugby. Virgile ingin merubah hal tersebut, tapi dilarang oleh Charlie. Charlie berpendapat bahwa karena peristiwa itulah mereka bisa berteman akrab.

Nah film ini mengajarkan dua hal kepadaku: Pertama, terkadang membiarkan seseorang menyelesaikan masalahnya sendiri itu jauh lebih baik. Jauh lebih baik daripada kita mencampurinya dengan dalih ingin menolongnya. Sama seperti Minute Men yang menolong seorang remaja kulit hitam dari bullying yang dilakukan oleh sekelompok anak nakal. Si Hitam itu malah jadi sengak setelah ditolong oleh mereka bertiga.

Nilai kedua, seburuk-buruknya masa lalu kita, itu akan jauh lebih baik kalau kita tak berusaha mengubahnya. Yang berlalu biarlah berlalu. Biarlah yang buruk itu tetap terkenang di memori kita sebagai suatu cerita yang bisa diceritakan ke orang lain. Sama seperti Charlie yang melarang Virgile untuk menolong mereka berdua di masa lalu, yang sedang di-bully. 

 


3.Film Surat Kecil untuk Tuhan    



Masih kemarin juga, RCTI menayangkan sebuah film yang keren. Film yang diputar jam 19.30 itu berjudul Surat Kecil untuk Tuhan dan menceritakan kisah hidup seorang penderita kanker. Diceritakan di sana, Keke, seorang siswi yang cerdas dan juga supel harus menerima kenyataan kalau ia mengidap suatu kanker yang cukup ganas. Awalnya itu bermula waktu Keke mengeluh ke papanya soal matanya yang mendadak sakit dan ternyata sakit di matanya itu berujung pada kanker. Sehingga mau tak mau, Keke harus menjalani sejumlah terapi dan terus berdoa agar bisa sembuh. Ia akhirnya sembuh, tapi di kemudian hari, kankernya kambuh lagi. Ia harus kehilangan rambutnya karena kanker yang ia derita dan pada akhirnya, Keke mati karena kanker tersebut.

Nah film tersebut sebetulnya tak memberikan suatu nilai yang berharga juga untukku. Namun karena film ini, aku jadi teringat kejadian beberapa tahun silam saat aku kehilangan temanku. Kejadiannya itu waktu aku kelas 6 SD dan tepatnya lagi hari sabtu. Temanku yang bernama Mayang Larasati harus meninggal di usia yang semuda itu karena leukimia. Kabarnya penyakit kanker  darah putih yang diderita oleh Mayang itu disebabkan karena mi instan yang biasa dikonsumsinya. Apalagi mi instan itu disajikan dengan kuah rebusan mi-nya. Karena itulah, aku tahu dampak negatifnya makan mie instan sebelum TV gencar memberitakannya. 

Pada saat aku mendengar kabar meninggalnya Mayang itu, aku dan teman-temanku sedang mengikuti upacara memperingati Hari Guru. Teman-teman yang mendengarkan kabar itu langsung meraung-raung kencang. Kita semua spontan menangis  di depan umum. Gila yah? Lebih gilanya lagi, air mataku sulit keluar waktu itu. Kayaknya hanya aku saja yang nggak menangis. Nggak tahu kenapa aku sulit menangis. Oya, sebetulnya juga, ada satu temanku yang ikutan tidak menangis juga. Wiko awalnya tak menangis dan malah berucap: “Udahlah nggak usah nangis. Kita nangis kayak gini juga, Mayang nggak bakalan kembali.” Serius, itu kata-katanya keren banget untuk seorang anak kelas 6 SD. Tapi setelah Wiko bilang kayak gitu, dia malah ikut-ikutan yang lainnya menangisi Mayang.

Aku nggak tahu kenapa waktu itu aku nggak bisa menangis. Yah mungkin saja karena itu pengalaman dukaku. Itu pertama kalinya aku mengalami kehilangan seorang teman karena kematian. Sebelumnya aku belum pernah mengalami peristiwa seperti itu. Barulah setelah meninggalnya Mayang itu, aku berjumpa dengan pengalaman-pengalaman maut itu. Berturut-turut aku melihat banyak kerabatku yang sudah meninggal. Pendeta Yohanes, Christine Fransiska, Tulang Tasman, hingga Opung yang meninggal Februari lalu. Dan dari ke semuanya itu, nggak ada satupun yang bisa membuatku mengeluarkan air mata. Perasaan ingin nangis sih ada, tapi entah kenapa air mataku nggak bisa keluar. Gara-gara itu, aku sering mengira kalau aku memang ditakdirkan untuk menjadi seorang yang tegar. 

Oya, kembali ke soal Mayang tadi. Gara-gara nonton film itu, aku jadi teringat Mayang lagi. Kalau dipikir-pikir, cukup tragis juga yah apa yang dialami Mayang itu? Beberapa bulan sebelum pelaksanaan Ebtanas, Mayang dipanggil Tuhan. Ia jadi tak bisa merasakan nikmatnya lulus SD. Kalau saja ia masih hidup, mungkin ia sudah menjadi sarjana. Entahlah sarjana apa, soalnya aku dulunya memang nggak begitu akrab sama Mayang tenang. Tapi kalau dia jadi murid SMA, ia pasti  masuk jurusan IPS. Dulu, si Mayang memang nggak terlalu pintar. Ia jarang masuk sepuluh besar. Walaupun begitu, Mayang tetap ceria.

Aku juga sempat memikirkan keluarganya Mayang. Kira-kira kalau kedua orang tuanya nonton film itu, bagaimana yah reaksinya. Aku saja terharu nontonnya. Karena film itu jugalah, aku jadi tahu bagaimana perasaannya Mayang yang bergelut dengan leukimianya itu. Pasti rasanya itu hidup segan, mati tak mau. Apalagi kalau ingat dia akan lulus SD di tahun berikutnya. So tragic!

Satu-dua bulan setelah Mayang meninggal, aku dan teman-temanku masih belum bisa melupakannya. Bahkan sempat muncul guyonan nggak lucu yang dimaksudkan untuk bahan menakut-nakuti. Bangku yang dulu diduduki Mayang seolah dijauhi. Ada temanku yang berseloroh: “Eh itu kan pernah didudukin Mayang. Ati-ati lho digentayangin.” Oke itu konyol sekali. Hehehe. Tapi rasanya aneh yah kalau di caturwulan pertama, orangnya masih ada. Namun di caturwulan berikutnya, orangnya sudah tiada. Rasanya ganjil banget. Apalagi orangnya itu tiada karena kematian. 

Ah sudahlah, setidaknya Mayang sudah tenang di alam sana. Setidaknya juga Mayang nggak ngerasain hal-hal nggak ngenakin yang menimpa negaranya ini. Setidaknya dia nggak perlu melihat peristiwa pemboman, Tsunami Aceh, virus flu burung, ataupun wabah Tomcat. Meski dia nggak bisa merasakan nikmatnya lulus SD, dia beruntung nggak harus melihat banyak peristiwa menyakitkan yang menimpa negara Indonesia ini. 

#MayangLarasatiInMemoriam

* Sumber gambar bisa dilihat dengan cara mengklik kanan gambarnya