Tuesday, December 6, 2011

REVIEW: Negeri 5 Menara




source

Kategori: Novel 
Genre: Fiksi
Penulis: Ahmad Fuadi


Buku ini menceritakan kehidupan seorang anak Padang bernama Alif Fikri yang merantau ke tanah Jawa untuk mengikuti pendidikan di Pondok Madani. Awalnya, dia terpaksa masuk ke situ. Sebelumnya dia bertekad untuk masuk ke sebuah sekolah umum, khususnya SMA ternama di Sumatera Barat di sana. Namun amaknya (ibu dalam bahasa Padang) mengingininya masuk ke sekolah agama.

Setelah mengalami pergolakan batin, Alif akhirnya (terpaksa) masuk sekolah agama. Namun dengan satu syarat. Ia ingin masuk pondok pesantren di Jawa bernama Pondok Madani (PM) seperti saran pamannya, Etek Gindo, bukan ponpes (pondok pesantren) yang ada di Padang.Mau tak mau, amaknya setuju. Yah karna akhirnya si Alf mau juga masuk sekolah agama. Dan jadilah Alif memulai petualangannya di Pondok Madani di Jawa sendirian.

Di Pondok Madani ini, Alif benar-benar digembleng layaknya seorang bintara di sekolah militer. Karena pendidikan di sana, sungguh ketat. Apalagi, di sana, para santrinya hanya diperbolehkan menggunakan dua bahasa saja: Arab dan Inggris. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah haram hukumnya.

Di ponpes ini, awal-awalnya juga, Alif dengan 5 temannya terpaksa menjadi jasus (mata-mata) yang mengawasi dan mencatat setiap pelanggaran yang  ada. Mereka berenam terpaksa menjadi jasus, karena mereka ketahuan melakukan pelanggaran oleh Kepala Keamanannya, Tyson. Mereka terlambat beberapa menit ke masjid. Itulah pelanggaran yang mereka lakukan.

Walaupun pendidikan di Pondok Madani cukup ketat, Alif banyak sekali mendapatkan banyak pengalaman-pengalaman menarik di sana. Pengalaman-pengalaman di sana tak kalah menarik dengan temannya yang sekolah di SMA bernama Randai. Salah satu pengalamannya itu ialah saat Alif mengikuti sebuah pertandingan sepakbola yang gara-gara komentatornya menggunakan bahasa Arab jadi diprotes oleh warga sekitar yang mengira ayat-ayat Al-Quran digunakan seenak udelnya di lapangan bola. Hehehe..

Ending novelnya itu, nanti akan berakhir dengan pertemuannya Alif Fikri dengan kedua temannya, Raja dan Atang di Trafalgar Square, London. Oh yah, walau dari awal novelnya bernuansa islami, sesungguhnya novel ini tidak menggurui soal islam. Tapi sih, buat kalian yang non-islam (termasuk saya) dan imannya lemah tidak dianjurkan membaca novel ini.

Diksi di novel ini juga bagus. Tak kalah dengan tetraloginya Andrea Hirata. Novel ini juga banyak sekali memuat kata-kata mutiara seperti:
Kullukum ra'in wakullukum masulun an raiyatihi. Setiap orang itu pemimpin dan tiap orang bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya

Ajtahidu fauqa mustawal akhar. Berjuang di atas rata-rata usaha orang lain


Man shabara zhafira. Siapa yang sabar akan memetik hasilnya

Do you know why you are stupid? Because you forget the alhadits and koran and you forget what Allah and his prophets taught us


Dan tentunya yang utama, kata-kata "Man Jadda Wajadda" nya yang terkenal. Hehehe.

Satu lagi kelebihannya Ahmad Fuadi daripada Andrea Hirata. Dia sungguh detail dalam bercerita, sehingga saya jadi terbawa suasana  cerita novelnya dan bisa merasakan yang dia rasakan ketika sekolah di PM. Mau tak mau, saya jadi terus dan terus membacanya. Oh yah 5 menara itu itu sebetulnya merupakan nama-nama tempat tempat para anggota Sahibul Menara akan mengadi nasib. Alif Fikri di Amerika Serikat, Raja Lubis di London, Baso Salahuddin di Arab Saudi, Atang di Mesir, dan dua temannya, Said dan Dulmajid di Indonesia.

Terakhir, saya memberikan skor perfect. 10 dari 10 bintang.

Semoga filmnya nanti sebagus novelnya.: )