Ada kabar yang benar-benar membuatku terdiam. Aku mendapat informasi bahwa Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni, atau yang akrab disapa Dokter Icha, telah berpulang.
Meski aku mungkin tidak mengenal beliau secara dekat, setiap kabar tentang berpulangnya seorang tenaga kesehatan selalu meninggalkan rasa kehilangan yang mendalam. Di balik jas putih yang dikenakan, ada sosok yang memilih mengabdikan hidupnya untuk merawat, mengobati, dan memberi harapan kepada banyak orang.
Dokter Icha diketahui bertugas di RS Leona Kefamenanu. Menjadi dokter bukanlah pekerjaan yang mudah. Ada banyak waktu yang dikorbankan, jam istirahat yang tidak menentu, hingga tanggung jawab besar yang harus dipikul demi keselamatan pasien. Pengabdian seperti itu tentu layak dihormati.
Mendengar kabar ini membuatku kembali diingatkan bahwa kehidupan begitu singkat. Kita sering kali baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah ia tiada. Semoga segala kebaikan, dedikasi, dan pelayanan yang telah diberikan dr. Icha selama bertugas menjadi amal yang terus mengalir.
Aku juga menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga, sahabat, rekan sejawat, serta seluruh tenaga medis di RS Leona Kefamenanu yang merasa kehilangan atas kepergian beliau. Semoga mereka diberikan kekuatan, ketabahan, dan penghiburan dalam menghadapi masa duka ini.
Selamat jalan, Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni. Terima kasih atas setiap pengabdian yang telah diberikan kepada masyarakat. Semoga Tuhan menerima beliau dalam damai yang kekal, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan untuk melanjutkan kehidupan dengan penuh pengharapan.
Selamat beristirahat dalam damai, Dokter Icha. Jasamu akan selalu dikenang oleh mereka yang pernah merasakan ketulusan pelayananmu.
Terakhir, untuk Dokter Icha, percayalah, Tuhan itu ada. Tuhan, selain Dia maha mengampuni, Dia juga maha membalas. Dia pembalas yang luar biasa, Dok. Tuhan bahkan bisa membalas orang-orang--juga sistem--yang sudah seenaknya membuat mental seseorang ambruk, hingga tertekan, hingga muncul keinginan untuk bunuh diri. Lalu mereka membuat satu skenario bahwa psikiater atau seorang psikolog adalah satu-satunya solusi untuk masalah mereka. Padahal ada banyak jalan, tapi entah mengapa harus ke sana.
Saat aku menuliskan paragraf tadi, terkadang aku cenderung berpikir, mengapa harus seperti itu? Mengapa harus di-setting seperti itu?
Padahal ada banyak jalan. Padahal masih ada banyak pula solusinya, selain ke psikiater atau psikolog, selain pula bunuh diri atau menyakiti diri sendiri. Namun, mengapa dunia ini membuat seolah-olah itu satu-satunya jalan?
Ada milyaran penduduk Bumi, masa tak ada satu pun yang bisa menolong atau menyelamatkan? Buta? Tuli? Bisu? Atau, apakah?
Bukan aku anti, tapi aku jijik dengan satu-satunya, dengan seolah-olah satu-satunya solusi adalah psikiater tersebut. Mengapa harus begitu? Ke mana milyaran warga Bumi tersebut? Mereka ada di mana? Terjebak dalam sebuah persekongkolan bin konspirasi? Sibuk menceramahi pemerintah sendiri? Sampai-sampai kalian sibuk mengabaikan sesama kalian yang membutuhkan kalian, begitukah?
Kembali ke Dokter Icha, percayalah, Dokter, meski hukuman duniawi sulit mengampuni yang sudah menyakiti Dokter Icha, Tuhan pasti akan menghukum mereka melalui para Malaikat Maut Tuhan yang bertebaran di mana-mana sebenarnya.





Comments
Post a Comment
Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^