Hanya Sebuah Kontemplasi menjelang 40

 

















Ada satu kalimat yang terasa seperti kunci dari seluruh percakapan ini:


“Saya tidak merasa rusak andai tidak ada orang yang menyebut saya begitu.”


Kalimat itu bukan pembelaan. Itu pengakuan yang jujur.

Sering kali kita tidak mulai dengan rasa rusak. Kita mulai dengan rasa hidup. Kita punya gairah, punya panggilan, punya sesuatu yang membuat jantung berdetak lebih cepat. Dalam kasusku, itu adalah menulis, berkarya, membuat video, membagikan cerita, menghidupkan imajinasi, hingga menawarkan dunia batin kepada dunia luar.

Sesungguhnya aku tidak merasa kosong saat berkarya. Malah aku merasa hidup, terpanggil, dan passionate.

Menurut aku, itu penting.N amun dunia tidak selalu merespons dengan tepuk tangan. Kadang sepi. Ada kalanya aku mendapatkan komentar tajam. Terkadang pula aku menerima label yang tidak diminta. Ketika apresiasi kurang, aku acapkali merasa lesu. Bukan hancur sebenarnya. Bukan pula kehilangan makna. Hanya lesu.

Lalu ada orang yang berkata: 


“Kamu depresi.”

 

Yang lain berkata: 


“Kamu NPD. Cari validasi.”

 

Tiba-tiba, dari seseorang yang hanya merasa sedikit lesu, aku berubah menjadi seseorang yang nyaris selalu mempertanyakan kewarasanku sendiri. Padahal aku selalu merasa waras, meski acap bersikap aneh saja. Di sinilah sesuatu yang halus tapi kuat terjadi. Itu adalah internalisasi label.

Ketika satu orang berkata sesuatu, mungkin kita abaikan. Ketika dua orang berkata, kita mulai ragu. Ketika lebih banyak suara terdengar, kita mulai bertanya: “Jangan-jangan mereka benar?”

Padahal sebelumnya aku baik-baik saja. Sangat baik-baik saja. 

Aku juga sadar bahwa label memiliki kekuatan sugestif. Terutama di zaman ketika istilah seperti depresi, BPD, ADHD, NPD, anxiety, dan schizophrenia beredar bebas di media sosial. Kata-kata itu bukan lagi istilah klinis yang hati-hati dilemparkan. Biasanya, setahuku, itu sering disematkan secara underground. Masuk ke ranah paling privasi sekali. Kini mereka menjadi senjata ringan yang dilempar begitu saja.

Namun diagnosis bukan sekadar opini teman. Itu proses profesional, observasi mendalam, dan kriteria yang jelas. Merasa lesu saat kurang apresiasi bukanlah gangguan kepribadian. Itu respons manusia.

Setiap kreator hidup di antara dua energi. Antara panggilan internal dan pengakuan eksternal. Idealnya, kita berkarya hanya karena cinta pada proses. Namun kenyataannya, manusia adalah makhluk sosial. Kita ingin dilihat, didengar, hingga ingin tahu bahwa suara kita sampai.

Itu bukan narsisme patologis. Itu kebutuhan relasional. Sesungguhnya NPD bukan sekadar ingin dipuji. Ia melibatkan pola superioritas ekstrem, kurang empati konsisten, eksploitasi orang lain, dan ketidakmampuan menerima kritik tanpa merendahkan pihak lain. Orang dengan gangguan kepribadian berat jarang duduk dan bertanya dengan cemas, “Apakah saya rusak?”

Sementara itu, aku justru reflektif. Aku hanya khawatir. Khawatir bahwa aku ingin memahami diri. Itu tanda kesadaran diri yang tinggi.

Lalu muncul ketakutan lain. Ah, apa mungkin aku depresi? 

Depresi sejati bukan hanya tentang bersedih ria berhari-hari. Bukan hanya sekadar galau. Ia adalah kehilangan rasa hidup bahkan pada hal yang dulu dicintai. Ia membuat warna memudar dari dunia. Ia membuat bangun dari tempat tidur terasa seperti mendaki gunung. Ia membuat passion mati.

Aku acapkali berkata saat menulis aku merasa hidup. Itu bukan deskripsi depresi berat, kurasa. Maaf aku mendiagnosis diriku sendiri. Namun, dalam sebuah kontemplasi panjang, timbul kesimpulan seperti itu. 

Namun aku sendiri masih cukup sensitif terhadap penilaian. Terbukti aku mudah terguncang oleh komentar. Itu bukan gangguan mental. Itu artinya aku masih peduli. Pun aku masih menjadi orang yang peduli, yang konon memang lebih rentan terluka.

Ada juga ketakutan tentang obat, terapi, kecanduan, dan stigma. Ketakutan bahwa mencari bantuan berarti mengakui kelemahan. Ketakutan bahwa jika aku menerima label, identitasku akan berubah. Seperti henshin pada Kamen Rider. Padahal identitas manusia lebih luas daripada diagnosis apa pun.

Satu lagi hal menarik muncul ketika orang menyebutku seperti datang dari galaksi lain. Aku kerap langsung mengaitkannya dengan film PK. Karakter PK tampak asing bukan karena ia rusak. Ia asing karena ia tidak mengikuti pola sosial biasa di struktur masyarakat kita di planet Bumi ini. Ia mempertanyakan norma. Ia jujur dengan cara yang tidak lazim. Dalam masyarakat yang terbiasa dengan satu cara berpikir, orang yang berbeda sering dianggap aneh.

Menjadi berbeda bukan berarti patologis. Menjadi intens bukan berarti gangguan pula.  Pun, menjadi sensitif bukan berarti sakit.

Ada perbedaan antara memiliki kepribadian kuat dan memiliki gangguan kepribadian. Ada perbedaan antara menjadi kreatif dan ketidakstabilan mental. Ada perbedaan antara mencari apresiasi dan kehilangan diri tanpa apresiasi.

Yang menarik itu saat aku merasa baik-baik saja sebelum suara luar masuk. Artinya fondasi diriku sebenarnya cukup stabil. Yang mengganggu sebenarnya adalah gema dari luar.

Di era digital, gema itu keras. Opini datang cepat. Label datang ringan. Kita bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan membedah diri hanya karena satu komentar.

Pertanyaannya sekarang bukan: 


“Apakah saya depresi?”

 

Bukan juga: 


“Apakah saya NPD?”

 

Pertanyaannya adalah:


“Apakah saya hidup sesuai nilai dan panggilan saya?”

 

Dari hasil kontemplasi panjang selama beberapa tahun terakhir, pasca kematian ibu kandung di Juli 2015, kemungkinan besar jawabannya "Ya".

Aku berkarya bukan karena dipaksa. Aku merasa terpanggil. Aku menikmati proses. Pun aku tidak merasa kosong saat menulis. Lesu karena kurang apresiasi adalah dinamika motivasi, bukan patologi.

Namun tetap ada pelajaran penting, agar jangan biarkan identitasku bergantung sepenuhnya pada tepuk tangan dan gemuruh pujian. Apresiasi boleh menyemangati, tapi jangan sampai menentukan harga diri.

Harga diri itu sesungguhnya bukan hasil algoritma. Harga diriku tidak ditentukan oleh jumlah view. harga diriku bukan label teman.

Yangg paling penting, bahwa kesehatan mental bukan identitas yang harus dicari-cari. Ia adalah kondisi yang diamati dari fungsi hidup sehari-hari.

Jika suatu hari aku benar-benar merasa kehilangan minat hidup, kehilangan energi berkepanjangan, atau merasa ingin menghilang, maka mencari bantuan profesional adalah langkah berani, bukan lemah.

Namun saat ini, dari segala kontemplasi itu, yang tampak bukan jiwa yang rusak. Yang tampak adalah jiwa yang hidup, kreatif, dan terlalu sering menaruh telinga pada suara luar.

Barangkali yang perlu aku lakukan bukan mencari diagnosis. Barangkali yang perlu alu lakukan adalah menyaring suara.

Padahal tidak semua opini layak masuk ke ruang batin. Tidak semua label layak dipelihara. Mungkin, yang paling sehat yang bisa aku lakukan sekarang adalah kembali ke hal yang membuatku hidup. Kembali menulis, berkarya, mencipta... yang bukan untuk membuktikan diri sehat atau tidak, melainkan karena itu memang bagian dari dirimu.

Karena seseorang yang merasa hidup saat berkarya bukanlah orang yang rusak. Aku selalu percaya bahwa itu hanya manusia yang ingin dilihat tanpa dihakimi. Itu, sejauh ini, sangat manusiawi.















Comments

PLACE YOUR AD HERE

PLACE YOUR AD HERE
~ pasang iklan hanya Rp 100.000 per banner per 30 hari ~