[FAN FICTION] Padahal Cowok yang Aku Mau itu Cowok Kacamata Itu

 
















[POV Shania Gracia]

Aku nggak pernah benar-benar merencanakan ini. Dunia yang aku jalani selama ini selalu punya batas. Ada garis-garis yang jelas. Antara apa yang boleh, apa yang tidak, bagaimana aku harus terlihat, bagaimana aku harus menjaga diriku. Aku sudah terbiasa.

Makanya waktu pertama kali kenal sama Andy William, rasanya biasa saja. Atau setidaknya, aku mencoba meyakinkan diriku kalau itu biasa saja. Kami cuma ngobrol. Tentang hal-hal ringan dulu. Kadang tentang musik. Atau soal capeknya kerja. Sampai ke hal-hal random yang sebenarnya nggak penting.

Anehnya aku nggak merasa harus jadi versi tertentu dari diriku. Aku bisa diam, tanpa merasa harus mengisi keheningan. Aku bisa cerita, tanpa mikir dua kali apakah itu aman untuk dibagikan. Itu jarang terjadi.

Awalnya aku pikir ini cuma fase. Cuma rasa nyaman sesaat yang nanti juga hilang. Namun ternyata tidak.

Aku mulai nungguin balasan chat-nya. Mulai sadar kalau hari-hariku terasa lebih ringan setelah ngobrol sama dia. Mulai bertanya-tanya.

“Ini masih aman nggak, ya?”

Karena di duniaku, rasa seperti ini bukan cuma soal perasaan. Ada banyak hal yang ikut masuk. Mulai dari image, fans, ekspektasi, bahkan hal-hal yang nggak pernah aku pilih sendiri. Makanya aku tahu aku harus hati-hati. Makanya juga aku nggak pernah posting apa-apa. Nggak pernah kasih kode ke dia. Nggak pernah benar-benar membiarkan orang tahu.

Bukan karena aku ingin menyembunyikan sesuatu. Namun karena aku takut. Takut kalau ini jadi sesuatu yang besar, lalu tiba-tiba hilang. Takut kalau orang-orang mulai melihatku berbeda. Takut kalau pada akhirnya aku harus memilih.

Namun di sisi lain, ada bagian dari diriku yang pelan-pelan berharap. Berharap kalau ini bisa tetap sederhana. Berharap kalau aku boleh, sekali saja, punya sesuatu yang bukan untuk dilihat orang lain. 

Omong-omong, dia nggak pernah maksa. Itu yang bikin semuanya terasa lebih nyata. Dia nggak pernah nanya, “kita ini apa?”

Dia juga nggak pernah pergi. Yang justru itu yang bikin aku semakin tenggelam. Kadang aku mikir, kalau suatu hari nanti semuanya berhenti, mungkin orang-orang cuma akan bilang: “Ah, mereka dulu sempat dekat.”

Sesederhana itu.

Padahal buat aku, ini bukan sesuatu yang sederhana. Aku nggak tahu ini akan ke mana. Aku cuma tahu satu hal, bahwa di antara semua hal yang harus aku jaga di hidupku, perasaan ini adalah yang paling sulit untuk aku kendalikan. Mungkin, yang paling jujur.

Meski sebenarnya, cowok yang aku mau itu bukannya Andy itu. Ada seseorang lainnya. Yang aku pengen dia sering posting di setiap social media soal aku. Apa daya, dia malah terlanjur asyik sendiri dengan dunianya. Seorang cowok berkacamata yang berusia jauh lebih tua dari aku, yang menurut aku, dia jago banget nulis. Seorang cowok, yang aku rasa, kayaknya hobi banget memelihara berewok, yang cenderung nggak disukai beberapa fans. Aku nggak tahu kenapa fans-fans itu segitu nggak menyukai cowok kacamata tersebut. Padahal hati dan jiwaku, kurasa, terpaut ke sana. 

Aku berharap, begitu keluar, yang sudah terjadi sejak akhir tahun kemarin, jalanku ke cowok itu akan jauh lebih mudah. Kebencian beberapa orang, terutama dari kalangan fans, ke cowok berkacamata itu perlahan-lahan berkurang. 

Eh, memangnya si cowok berkacamata itu salah apa, sih? Dia juga nggak jelek-jelek amat. Masih ada keren-kerennya. Menurut aku, lebih keren dari Andy itu. Lebih paham soal estetika juga. 




























Baca juga:



















Comments

PLACE YOUR AD HERE

PLACE YOUR AD HERE
~ pasang iklan hanya Rp 100.000 per banner per 30 hari ~