Seminggu Nuel Lubis bersama Si Merah

 












Lini masa dari episode "One Weeks" kali ini adalah liburan Lebaran yang baru saja berlalu. Enjoy this story!















Hari senin 

Sedikit olahraga pagi dulu. Tak baik juga sering menghabiskan waktu dengan rebahan. Selain mengantarkan pakaian kotor ke laundry (apalagi sebentar lagi Lebaran), aku bersepeda yang agak jauh sedikit. Walau demikian, sejauh kaki menggowes, masih susah menemukan penjual makanan di jam-jam seperti ini. Selain di minimarket, rata-rata penjual masih tidur. Sisanya itu mungkin sudah mulai mudik. 




Hari selasa 

Aku kehujanan. Tadi, sih, sebelum pergi bersepeda, aku belum kehujanan. Terpaksa aku berteduh sebentar. Eh, sepertinya bersepeda sambil berhujan-hujanan itu bukanlah ide yang buruk. Katanya juga, benar atau tidak, hujan itu simbol rejeki. Dengan hujan-hujanan, itu ibarat tengah diguyur rejeki. 




Hari rabu 

Baru saja hendak pulang, eh aku ditelepon. Katanya, aku disuruh membeli baterai dan beberapa bumbu dapur. Ya sudah, aku langsung menggowes menuju minimarket terdekat. Sekalian saja aku membeli sebotol kola. Haus banget, sih, aku. Tenang saja, aku minum kola tanpa sepengetahuan mereka yang tengah berpuasa. Oh iya, awalnya aku keluar rumah dengan rencana pergi ke tempat laundry. Sialnya, tempat laundry tersebut tutup karena besoknya Lebaran. Tak apa, lah. Ayo, semangat dalam mengecilkan perut.




Hari kamis 

Selamat Lebaran, Good People! Akhirnya selesai juga masa berpuasanya, yah. Bagaimana? Nikmatkah opor ayam dan ketupat sayurnya? Kalau di sini, rendangnya lumayan DEP SEDEP. Di hari pertama Lebaran ini, aku memutuskan untuk bersepeda. Sekadar mengamat-amati suasana hari Lebaran pertama di komplek. Karena pandemi, Lebaran di komplek jadi lebih ramai. Sisi positif dari pandemi corona ini. 




Hari jumat 

Beli jus dulu, ah. Mumpung sudah ada yang mulai berjualan. Omong-omong, minimarket sering didatangi oleh bocah-bocah yang sibuk menghabiskan angpau mereka. Busyet, rata-rata dari bocah-bocah tersebut mengantungi seratus ribu. Kalah, deh, aku. Tak hanya aku mungkin yang iri. Mungkin para mempelai juga kurang suka angpau mereka tersaingi oleh bocah-bocah ini. Eh, berapa, sih, jumlah uang dalam amplop yang diberikan ke kedua mempelai? Serius, aku nggak tahu. 




Hari sabtu  


"...kita pisah, balik lagi, pisah lagi, apa kau mengerti bahwa ini bukanlah, bukan permainan..."

Aku iseng saja selfie di tengah bersepeda. Hasil fotonya itu mengingatkan aku pada salah satu scene dalam music video "Bukan Permainan". Omong-omong, seperti apa, sih, pacaran yang pisah-balik-pisah tersebut? Putus-nyambung-putus-nyambung begitu, maksud aku. 




Hari minggu 

Selesai mendengar khotbah secara online, aku bersepeda lagi. Kedua mata ini juga perlu disegarkan. Letih juga mata ini--yabg menatap layar ponsel melulu. Aku pun perlu mengisi perut. Senangnya aku. Sudah banyak penjual makanan berkeliaran di pagi hari ini. 














Comments

Place Your Ads Here