Sahabat Bobo, Sahabat Pena













Gambar di atas tersebut aku dapatkan dari sebuah grup social media. Aku sengaja simpan untuk bahan konten di IMMANUEL'S NOTES. Aku tahu, rasa-rasanya lebih banyak orang yang suka membaca cerita jadoel  (baca: jaman dulu) dari seorang Nuel Lubis. 

Well, tak hanya bisa ditemukan di dalam majalah Bobo, hampir semua media anak di era 90-an pasti memiliki rubrik 'sahabat pena'. Menurut kesaksian beberapa anak, sudah banyak anak berhasil menjalin persahabatan melalui jalur sahabat pena. Aku sendiri belum pernah mencobanya. Ada alasannya, kok. Pertama, malas saja. Lagipula jarak rumah ke kantor pos lumayan jauh. Tukang pos jarang mampir ke komplek (saat itu, selama sudah diberikan perangko, kita bisa mengirimkan surat langsung ke tukang pos yang tengah melintas). Kedua, bingung saja harus berbuat apa. Apa yang ditulis, aku bingung. Padahal, dulu guru bahasa Indonesia selalu memuji surat pena buatan aku.

Kalau di masa sekarang, surat pena yang dulu pernah menghiasi majalah-majalah anak itu seperti saat kita mem-follow atau meng-add beberapa akun secara acak dengan dalih menambah teman (tak jarang dengan alasan cari pacar). Ada yang seperti itu? Untuk yang satu ini, sejak Facebook rilis di tahun 2005, aku sudah mempraktekkannya. Bertemu saja belum pernah, akunnya sudah aku add. Giliran nanti bertemu secara tak sengaja di suatu tempat, aku malah salah tingkah. Ujung-ujungnya kapok, meskipun tetap terus dilakukan dengan alasan merasakan sensasi yang berbeda (saat berteman lebih dulu di social media, bertemunya belakangan). Sebetulnya tak sedikit teman online yang ujung-ujungnya malah menjadi akrab, walau belum pernah berjumpa. Sampai dijadikan teman curhat (curahan hati, red) malah. Alhasil, aku percaya ada teman bloger yang berhasil menjalin kasih hanya keren aktivitas online

Kadang aku suka berpikir mungkin sensasi seperti inilah yang dirasakan oleh para pelaku sahabat pena. Mereka membagikan identitas mereka di sebuah majalah (yang sebetulnya rentan disalahgunakan). Ada yang mau bersahabat pena, lalu surat dikirimkan, ujungnya saling bersuratan hingga memiliki harapan untuk bisa bertemu suatu hari nanti. Keinginannya terkabul, ah mungkin rasanya seperti pertemuan antar bloger yang sampai sekarang masih suka aku temui. Aku sendiri belum kesampaian untuk kopi darat dengan salah seorang teman dunia maya.  Walhasil aku belum tahu rasanya. Akan tetapi, mungkin rasanya seperti itu--yang sangat luar biasa hingga membekas di dalam ingatan. 

Tak ada yang salah, sih. Bersahabat pena atau mengumpulkan banyak akun dengan dalih menambah pertemanan, itu tak salah sama sekali. Yang penting tetap bijaksana saja dalam menyikapinya. Setiap orang juga memiliki caranya masing-masing dalam hal menciptakan teman. Ada yang nyaman mencari teman lewat jalur sahabat pena atau social media. Ada pula yang lebih nyaman mencari teman jika ada pertemuan langsung. Senyamannya saja, sih. 

Toh, memiliki banyak teman itu bagus. Banyak keuntungan yang bisa didapatkan. Lagipula, seiring berjalannya waktu, entah apa profesinya, lingkaran pertemanan itu pasti menyusut dengan sendirinya. Jumlah teman memang banyak, namun jumlah teman yang berkualitas (yang benar-benar teman) pasti tak banyak, dong. 

Terakhir, aku berharap suatu hari nanti bisa merasakan sensasi tersebut. Punya banyak teman online, namun belum ada satupun yang bisa kuajak bertatap muka langsung. 













Comments

PLACE YOUR AD HERE

PLACE YOUR AD HERE
~ pasang iklan hanya Rp 100.000 per banner per 30 hari ~