Untuk Bang Arief

 











Aku dan sekotak kecil kwetiau goreng tengah duduk di depan rumah keluarga Syafri (yang dulu aku menyebutnya Sapri). Kepala keluarganya, ibu rumah tangganya, dan anak sulungnya sudah berbeda alam. Warungnya juga sudah tutup, yang terakhir aku jajan di warungnya tersebut di tahun 2014 yang lalu. Padahal, jujur, aku kangen dengan suasana warungnya, juga es campur buatan keluarga Syafri. 

Khusus anak sulungnya, yaitu Bang Arief, aku sangat memberikan penghormatan terbaik untuk dia. Aku masih syok saja (hingga detik ini) ternyata orangnya sudah meninggal. Di Desember kemarin, aku sempatkan ziarah ke makam seorang ibu yang rumahnya tak jauh dari rumah aku. Tak jauh dari makam si ibu, aku kaget bukan kepalang menemukan batu nisan Bang Arief. Itu orang yang sama, yang mengajak aku mengobrol saat Mami tengah dirawat di Siloam. Tak disangka, obrolan aku dan Bang Arief itu menjadi yang terakhir. Karena setelah itu, kurang lebih tiga bulan kemudian, Bang Arief dipanggil oleh Sang Khalik. Di situlah aku sangat menyadari kematian memang takdir ilahi yang sukar ditebak kapan datangnya. 

Untuk Bang Arief (juga untuk keluarganya  yang masih tersisa), kupersembahkan episode 77 dari BOY'S ANGEL. Semoga suka. Pun, doaku yang terbaik untuk ketenangan arwah Bang Arief di alam sana. 

Untuk Bang Arief sendiri, inilah yang ingin kusampaikan: 


"Bang, terima kasih banyak untuk wejangan dan kata-kata motivasinya. Walau hanya sebentar dan kurang begitu akrab, aku sebetulnya cukup kehilangan dengan berita kematian Bang Arief tersebut. Semoga Allah memeluk erat Bang Arief."






 








Episode 77 BOY'S ANGEL on NovelMe








Comments

Place Your Ads Here