Warnetnya Sudah Tutup, Kenangannya Masih Ada

 














Selamat hari Kartini!

Di hari Kartini (yang jatuh pada tanggal 21 April besok), aku mau bercerita tentang suatu hal. Ini bersumber dari pengalaman aku. Sebuah perjalanan aku sebelum melahirkan banyak karya. Walau belum best-seller, walau masih indie, walau hanya novel online yang tayang di aplikasi, aku tetap bangga menyebut diriku penulis, pengarang, atau apalah itu penyebutannya. 

Foto di atas itu merupakan foto aku yang tengah berada di depan sebuah rumah. Rumah ini dulunya merupakan rumah salah seorang teman (walau tak begitu akrab dengan yang bersangkutan). Dulunya si empunya rumah menjalankan usaha warnet (baca: warung internet). Yah, masih dalam bagian dari rumahnya. Aku kali pertama ke sana, itu di tahun 2006. Kalau tengah suntuk, aku sering mampir ke warnet ini. Untuk browsing, nge-Youtube, main social media (yang dulu lagi eksis itu Friendster), dan mengintip beberapa pengunjung yang asyik bermain game online. Oh, aku ingat, Ragnarok Online dan Counter Strike, itu merupakan game online yang tengah digandrungi saat itu. 

Warnet ini juga tempat yang cukup memberikan sumbangsih ke dunia mahasiswa aku. Beberapa kali aku mengirimkan tugas ke taman kuliah di warnet ini (Aku pernah mengomel-ngomel ke seorang teman karena buku Hukum Perlindungan Konsumen aku belum dikembalikan melalui warnet ini). Aku membagi-bagikan kuesioner untuk kepentingan skripsi, itu juga di warnet ini. Draft awal "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" yang kuberikan ke beberapa orang (untuk dibedah), itu pun terjadi di warnet ini. Benar-benar warnet yang sangat bersejarah untuk seorang Nuel Lubis, yang aktif menulis "Boy's Angel" di NovelMe. 

Tak lupa, blog ini, IMMANUEL'S NOTES, sering kuperbaharui juga di warnet ini, omong-omong. Terakhir aku nge-blog di warnet ini sekitar tahun 2013 yang lalu. Salah seorang anak si empunya warnet masih lajang dan belum menikah. Orangnya masih berteman dengan aku di Facebook. Sekarang, semuanya berubah. Anaknya sudah menikah. Si empunya warnet sudah pindah ke luar kota. Saat terakhir ke sana, aku mendapati rumahnya hendak dijual. Aku dan dia putus kontak begitu saja.

Well, pelajaran yang bisa dipetik:


Setiap hal pasti berubah, namun kenangan tidak akan mudah terhapuskan, walau dengan cara apapun. Kita pun baru bisa menghargai sesuatu, ketika sesuatu itu sudah pergi dan menjadi kenangan. 

 

Terima kasih, Galih Net, sudah pernah menyumbangkan sesuatu ke memori di kepala aku!
















Comments

Place Your Ads Here