Tegurankah? Atau Peristiwa Alam Biasa?

 












Pada tanggal 16 Maret yang lalu, di atas pukul 21:00 WITA, telah dilaporkan adanya benda langit yang jatuh di Laut Banggai. Kabarnya bakal terjadi fenomena hujan meteor Gamma Normid hingga 28 Maret mendatang. 

Selain itu, baru saja aku menerima kabar bahwa telah terjadi gempa yang cukup dahsyat di Jepang. Entah kebetulan atau tidak, gempa terjadi setelah pengadilan Jepang baru saja hendak mengijinkan pernikahan sesama jenis.  

Kembali ke persoalan tentang meteor jatuh tersebut, itu juga tak jauh berbeda dengan gempa di Jepang tersebut. Sebelum meteornya jatuh, negara Indonesia ini tengah dilanda banyak kekisruhan yang tak kunjung habis-habisnya. Kalau tak salah ingat, kasus Kaesang-Felicia juga terjadi sebelum jatuhnya meteor. Konflik antara SBY dan Moeldoko juga terjadi. Kalau kujabarkan lebih mendetail lagi, bisa panjang sekali. Lantas, apakah artinya? Kebetulankah? 

Dulu sekali, saat aku masih kecil juga, kesadaran orang akan musibah sebagai teguran Allah itu masih sangat tinggi. Tak sedikit yang beranggapan bahwa suatu peristiwa alam tertentu itu merupakan teguran Allah. Namun, sekarang tak sedikit yang beranggapan itu hanya kebetulan belaka. Istilah 'cocoklogi' langsung mencuat. Kesadaran manusia akhir-akhir ini akan sosok Tuhan makin lama makin menipis. Padahal, jika terjadi sesuatu yang sekiranya bakal mengancam, orang-orang langsung berkoar-koar untuk menyerukan keadilan. Fenomena 'playing victim' terjadi di mana-mana. Tanpa mau introspeksi mungkin suatu peristiwa terjadi atas ijin Tuhan agar manusia sadar dan bertobat. 

Lalu, bagaimanakah kita menyikapinya? Benarkah hanya fenomena alam biasa? Atau, itu terjadi sembari membawa pesan khusus dari Tuhan? Entahlah. Walau demikian, bukankah merupakan sikap yang tepat saat kita mendadak teringat akan Tuhan yang menciptakan kita semua? Tak usah menyikapinya secara berlebihan. Selama kita ingat Tuhan, lalu membuat kita berintrospeksi diri dan memperbaiki laku dan tutur, itu sudah menjadi suatu sikap yang sangat tepat. 

Ingat, kita hidup di dunia ini tidak sendiri. Ada beberapa makhluk juga, terlebih makhluk yang tak kasatmata. Jangan takabur.  Kita bisa eksis di dunia ini bukan karena permainan sulap atau sihir semata.  Ada sosok luar biasa yang menciptakan kita, para manusia ini. Mungkin itulah alasan kenapa bisa terjadi segenap peristiwa alam yang acapkali menghiasi planet Bumi ini. Sebagai sebuah teguran. 

Mereka ada untuk mengingatkan kita bahwa kita bukanlah penghuni satu-satunya. 

Omong-omong, tulisan ini hanya sekedar tulisan reflektif belaka. Aku pun turut berdukacita atas musibah gempa bumi di Jepang tersebut. 





Comments

Place Your Ads Here