Seperti tengah Meminum Air Garam

 












Ini mungkin tak banyak yang tahu. Aku mendapatkan fakta ini juga dari sebuah komik Jepang. Katanya, mencicipi sesuatu yang asin itu jauh lebih nikmat kalau kita baru saja melakukan suatu aktivitas yang cukup mengeluarkan keringat dari dalam tubuh. Dalam keringat itu terdapat sejumlah cairan atau zat yang dikandung juga di dalam sesuatu yang secara logikanya berasa asin. Harusnya kita merasa keasinan.  Nyatanya kita malah tidak merasa keasinan.

Mungkin aku mulai mengerti kenapa kadang beberapa pendeta Kristen suka melawak di tengah khotbahnya. Percaya atau tidak, humor adalah cara terbaik untuk menyampaikan sesuatu. Kalau disampaikan secara blak-blakan, pasti akan menuai banyak kontroversial. Bisa ada yang mencak-mencak. Disindir balik (dengan disindir nyinyir atau dinasehati untuk tidak kepo atau mengusik hidup orang lain). Lalu, hidup si pendeta menjadi lebih sulit ke depannya. 

Baru-baru ini juga aku tengah menonton sitkom yang pernah viral di 2000-an. "Bajaj Bajuri" maksud aku. Ternyata saat aku kembali menonton sitkom itu, banyak sekali kritik sosial di dalam tayangan sitkom berlatarbelakang profesi sopir bajaj. Bahkan tak lupa aku menyadari banyaknya guyonan-guyonan khas dewasa yang hanya dimengerti oleh orang dewasa. Yang aku heran, kenapa banyak disukai orang. Sepertinya aku jarang sekali menemukan mereka yang membenci sitkom tersebut dalam kapasitas sebagai haters. Kenapa bisa begitu, yah? 

Apa mungkin jawabannya itu bersumber dari fakta tentang 'merasa-keasinan' tersebut? Sitkom itu dulu tayang di prime time. Sehabis azan Maghrib, sitkom itu sering ditayangkan. Yang pulang kerja, mungkin sudah sampai di rumah. Anak sekolah sudah selesai berkegiatan di sekolah. Mereka berada di depan televisi untuk bersantai setelah nyaris seharian penuh menguras energi-energi di dalam tubuh dan pikiran mereka. Alhasil, mereka tidak merasa tersinggung--lalu lekas marah--dengan apa yang terkandung di dalam sitkom "Bajaj Bajuri" tersebut. Padahal mereka tengah disindir, yang tak jarang sebetulnya diejek atau mungkin dipermalukan. Mungkin seperti itu kali, yah. 

Lucu juga, yah. Real humor in the real life. Menertawakan sesuatu yang sebetulnya familier dengan kehidupan sehari-hari mereka yang dikemas dalam sebuah acara televisi. Mungkin sebetulnya yang seperti itu banyak sekali di dalam kehidupan kita. Iya, yang sifatnya 'real humor in the real life' tersebut. Pendeta yang suka melawak dan sitkom "Bajaj Bajuri" itu hanyalah sedikit contoh kecilnya. 

Ah, sangat menarik temuan aku tersebut. C'est la vie. That's life. Senyumkan saja dulu, yang seperti kita tengah menonton acara komedi seperti "Bajaj Bajuri" tersebut. 

Sekadar saran, untuk kalian yang merasa tidak puas dengan sesuatu, mungkin ada baiknya kalian menggunakan cara komedi. Balutlah dengan sesuatu yang mungkin kalian kira itu akan membuat orang lain tertawa, khususnya kepada seseorang yang kalian merasa tidak puas. Well, the world is getting more beautiful with a laughter. 







Comments

Place Your Ads Here