Baper: Kata yang Menyebalkan

 











Aku lagi kangen. Iya, lagi kangen. Andai ada mesin waktu, ingin rasanya aku kembali ke masa itu. Masa yang kumaksud itu tahun 2014 yang lalu. Ah, sungguh tahun 2014 yang kemarin itu tahun yang luar biasa untuk aku. Tidak seperti sekarang-sekarang ini. Menyebalkan!

Tahu, tidak, apa yang menyebalkan? Salah satunya, kemunculan banyak kata yang aneh, yang terdengar di telinga itu sebetulnya menyebalkan sekali. Salah satu kata yang aku maksud itu baper. Iya, baper.

Dulu, seingat aku, kata 'baper' itu belum eksis. Kalau kamu naik mesin waktu, dan kembali ke tahun 2014 (yah, minimal tahun itu, lah), aku yakin sekali orang-orang di tahun itu kebingungan. Lebih banyak yang kebingungan. Saat aku wisuda di tahun 2012 saja, kata 'baper' juga belum ada. Lalu, sebetulnya sejak kapan kata 'baper' itu muncul.

Sekarang, apa-apa dibilang baper. Katanya, baper itu akronim dari bawa perasaan. Dibawa perasaan, terbawa perasaan, kebawa perasaan, atau apapun itu--tergantung bagaimana kalian mengartikan dan menggunakannya. Tersinggung sedikit, kita langsung diejek baper. Kita langsung emosi, lawan bicara bisa saja berkata, "Woy, jangan baper gitu, dong. Selow, gue cuman bercanda."

Ah, aku lupa sejak kapan kata 'baper' itu mendadak viral. Mungkin benar juga kata-kata meme yang kudapatkan beberapa hari yang lalu. Katanya: "Semenjak ada kata baper, banyak orang yang jadi lupa bagaimana cara menghargai perasaan orang lain. Setelah melukai hati, bukannya meminta maaf, ia justru berkata,  'ah, kamu mah baperan orangnya'."

Tambahan, kata 'baper' malah sering dijadikan tameng untuk menunjukan ketidaksukaan kita kepada orang lain. Kalau ada yang aneh sedikit saja, yang berbeda dari kebanyakan orang, beberapa orang sering menjadi semacam tukang bully dan berlindung di balik kata 'baper'. Alih-alih menolong, malah mengejek, mempermalukan, menghakimi, hingga mengucilkan. Tak jarang menjadi semacam pembenaran untuk berkata dan berkelakuan yang kurang menyenangkan untuk sesama manusia. 

Itulah yang kumaksud dengan menyebalkan. Sebetulnya, jujur sih, yang menyebalkan itu kemunculan kata 'baper' itu sendiri. Sedikit-sedikit dibilang baper. Lantas, yang tidak baper itu yang seperti apa? Apa kita harus diam saja, lalu menjadi robot? Diapa-apakan, senyum saja?

Ah, sudah ah. Sudahi saja tulisan ngalor-ngidul ini. Aku jadi makin baper saja. Oh iya, ada yang tahu kata 'baper' itu sebetulnya muncul di tahun berapa? 

Disadari atau tidak, kata 'baper' itu pasti diiringi dengan kata-kata berikut seperti 'generasi micin', 'bucin', dan segala idiom yang diawali kata 'sad'. 















Comments

Place Your Ads Here