Namanya Juga Stalker

 















Baru-baru ini aku melihat di internet satu kabar. Salah seorang pemain sinetron berinisial AM mendapatkan ancaman pembunuhan melalui satu post di social media. AM sempat merasa terintimidasi, dan diberitakan bahwa AM hendak melaporkan si pengancam ke polisi. Walau demikian, berdasarkan hasil penelusuran aku, si pengancam hanya sekali melakukannya. 

Well, aku tak berniat membahas lebih lanjut kasus AM ini. Tapi, apa yang dialami AM ini mengingatkan aku pada cerita beberapa teman. Ada satu-dua orang teman aku yang kurang lebih mengalami hal serupa (yang dialami oleh AM). Si teman--atau kita sebut saja D--punya pengalaman diikuti oleh stalker (dalam bahasa Indonesia, penguntit). Tak hanya di social media, namun juga diikuti langsung. Anyway, terserah kalian untuk tidak mempercayai kata-kataku ini. Aku berani jamin kisah ini memang nyata. 

Si D ini cerita kepadaku bahwa dia terganggu dengan beberapa orang yang suka kirim SMS atau chat yang suka membuat dia merasa tak nyaman. Kadang si pelaku menyisipkan foto atau gambar yang membuat si D merasa terintimidasi. Sudah begitu, si pelaku pernah mengancam si D bahwa si pelaku akan membeberkannya ke dunia maya alias internet. Itu tak hanya sekali, namun juga beberapa kali. Pula, itu tak hanya terjadi di aktivitas dunia maya si D. Itu berimbas ke aktivitas sehari-hari D di dunia nyata. D suka merasa diikuti. Tak hanya sekadar perasaan, namun D cerita padaku bahwa D seringkali mengalami cukup banyak kejadian aneh bin ajaib bin tak jelas--yang membuat dia makin tertekan, terintimidasi, dan tak nyaman dalam menjalani hidupnya. D merasa makin insecure (tidak nyaman, red) karena perbuatan si pengancam. 

Oleh aku dan beberapa teman dekatnya, D diminta untuk tetap tenang. D disuruh hapus saja. Blokir dan hapus setiap akun, nomor, serta setiap hal yang berhubungan dengan si pengancam. Tetap tunjukan kepada si pengancam bahwa setiap perbuatan si pengancam tak berpengaruh ke kehidupan sehari-hari D. Aku dan teman-teman bahkan terus menemani si D. Salah seorang teman malah memberikan nasehat bagaimana cara membalas pesan si pengancam. Selanjutnya, selama beberapa hari (atau minggu, yah?!) ke depan, si pengancam berhenti melanjutkan terornya. 

Begitu sedikit cerita dari aku. Dan, cerita di atas itu nyata terjadi pada aku, khususnya pada D. Bahkan, aku pernah sharing pengalaman di atas tersebut ke Instagram dalam bentuk comment di salah satu akun media. Anyway, kalau memang hendak membunuh (dari pengalaman si AM), biasanya tidak melalui satu post atau konten di social media juga. Si pengancam biasanya menjalankan aksinya melalui jaringan pribadi. Yah, itu bisa SMS, MMS, chat, atau e-mail. Tak jarang mungkin si pengancam mengirimkan gambar sehingga yang bersangkutan merasa terintimidasi atau tertekan. Gambarnya itu tak harus gambar porno atau mesum. Itu bisa berupa sesuatu yang sangat personal dengan pribadi yang bersangkutan. 

Yang hendak kusampaikan, tetaplah tenang jika mendapatkan seperti yang sudah kuceritakan tersebut. Ceritalah juga ke orang-orang terdekat kalian. Lalu, kalau bisa, jangan lapor polisi dulu. Aku pernah mendapatkan informasi, justru akan makin pelik jika lapor polisi. Ada fitur namanya block atau report, manfaatkanlah. Hapus saja gambar yang bermasalah. Blokir kontak atau akunnya. 

Sebagai penutup, ada satu quote menarik:


"Think like Piccolo, act like Son Goku, love like Son Gohan, and hope like Trunks."











Be wise. Pikir-pikir dulu sebelum bertindak. Jangan takabur. Itu saja pesan dari aku dan pengalaman aku beberapa tahun yang lalu. Dunia akan menjadi tempat lebih baik jika kita semua saling dukung, berpengertian, dan memberikan motivasi. Make a better place for everyone, please.

















Comments

Place Your Ads Here